Hati-Hati, APBN 2018 Bisa Tergelincir Kenaikan Harga Minyak

1
102
Apakah kenaikan harga minyak dunia berujung pada pembebaanan APBN 2018 sehingga akhirnya terjadi kenaikan harga BBM?

Nusantara.news, Jakarta – Di tengah gejolak harga minyak yang sempat menyentuh level US$65 per barel sepanjang 2018, tentu saja akan berdampak nyata pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menguntungkan atau merugikan kah?

Pemerintah sendiri diketahui masih memantau dampak kenaikan harga minyak yang mencapai US$65 per barel terhadap APBN. Dalam APBN 2018 Pemerintah menetapkan harga patokan minyak di level US$48 per barel. Bahkan pada 2006 harga minyak dunia sempat menembus level US$148 per barel.

Harga minyak dunia juga sempat tertekan serendah-rendahnya ke level US$10 per barel pada masa Presiden Ronald Reagen. Pada 2016 harga minyak dunia pernah terkoreksi hingga ke level US$30 per barel. Perlahan tapi pasti harga minyak dunia naik lagi karena adanya ketegangan Qatar dengan negara tetangga di jaziarah Arab. Itu sebabnya pemerintah mematok asumsi harga minyak dunia di level  US$48 per barel.

Apakah kenaikan harga minyak tersebut akan menambah kocek APBN, atau justru sebaliknya mengurangi?

Yang jelas ada dua sisi dampak kenaikan harga minyak dunia, di satu sisi menambah dana APBN, sekaligus menguranginya. Mana yang lebih dominan, tentu tergantung situasi dan kondisi APBN 2918.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengakui pihaknya menyadari fluktiasi harga minyak dan masih terus memantau dampak yang akan terjadi.

Dampaknya akan ada peningkatan penerimaan negara dari pajak maupun bukan pajak yang berasal dari kegiatan usaha migas, tetapi juga ada potensi peningaktan dari subsidi yang ada dalam APBN.

Seperti diketahui, kenaikan harga minyak akan memberi dampak positif bagi pelaku usaha di sektor hulu, dapat meningkatkan pendapatan mereka seiring harga minyak dunia yang melambung. Oleh karena itu, pemerintah juga sangat mengandalkan pelaku usaha minyak di sektor hulu untuk meningkatkan penerimaan negara.

Pada sisi lain, pemerintah juga mempunyai kewajiban membantu pelaku usaha minyak di sektor hilir, karena pemerintah menginginkan mereka menjual BBM dengan harga yang murah.

Suahasil mengatakan pihaknya harus menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum dapat meningkatkan subsidi minyak diatas harga yang ditentukan di APBN.

“Peningakatan subsidi yang ada dalam APBN tentu menunggu dari hasil audit yang dilakukan di akhir tahun,” katanya.

Suahasil menyebut besaran subsidi BBM yang pemerintah berikan adalah berdasarkan angka yang didapat dari hasil audit BPK 2017. Adapun, subsidi energi yang pemerintah alokasikan pada 2018 adalah Rp94,5 triliun.

Terkait dampak kenaikan harga minyak terhadap perekonomian nasional Suahasil memberi isyarat bahwa pemerintah sedang memperhitungkan dampak keseluruhan terhadap ekonomi, termasuk dampak terhadap inflasi.

“Kita memperhatikan efeknya secara lebih komplit, kita juga memperhatikan efeknya ke perekonomian secara keseluruhan. Karena ada sejumlah barang yang harganya bergerak berdasarkan Indonesian crude price [ICP], misalnya BBM yang diatur pemerintah,” jelasnnya.

Bahkan, dia mengkhawatirkan efek yang lebih jauh dari kenaikan harga minyak dunia adalah pengurangan daya beli masyarakat. “Tapi ini juga kita perhatikan efeknya.”

Suahasil memastikan saat ini pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperhatikan dampak terhadap perekonomian nasional.

Dampak ke APBN

Di bawah skenario uji stres bila minyak brent naik menjadi US$$80 per barel, meningkat sekitar 30% dari harga sekarang, inflasi utama pada 2018 akan meningkat sebesar 0,4 dan 0,9 poin persentase di AS dan zona euro, sementara Jepang dapat melihat inflasi inti menembus level 1,5%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menyatakan adanya kenaikan harga minyak dunia turut berdampak positif bagi APBN.  Berdasar asumsi yang tercantum dalam APBN 2018 lalu, pemerintah mematok harga minyak mentah sebesar US$48 per barel.

Sementara itu, realisasinya mengalami kenaikan di posisi US$51,2 (sekarang US$65%) per barel. Secara otomatis, hal tersebut akan berdampak pada naiknya penerimaan negara.

Sri menyebut, jika harga minyak dunia naik US$1 per barel, maka negara akan mendapat keuntungan bersih (netto) sebesar Rp1,1 triliun.

“Setiap kenaikan harga minyak menimbulkan efek positif terhadap APBN kita, karena setiap kenaikan US$1 per barel menimbulkan total penerimaan Rp1,1 triliun netto,” kata Menkeu.

Sri menambahkan, seiring dengan meningkatnya harga minyak dunia, hal tersebut juga akan memberi dampak positif bagi Pertamina untuk melakukan aktivitas belanja rutin (current spending), bukan belanja modal yang dialokasikan untuk mendorong investasi.

“Untuk belanja rutin masih bisa, tapi untuk investasi mereka butuh dukungan lebih,”  katanya.

Berdasarkan catatan Nusantara.news, PT Pertamina (Persero) mencatatkan penurunan laba bersih (tidak audit) sebesar 24% menjadi Rp32,54 triliun pada 2017, sementara pada 2016 laba bersih Pertamina sempat menyentuh level Rp42 triliun.

Artinya, risiko kenaikan harga minyak berdampak buruk buat Pertamina, karena ada bagian harga jual yang tidak dinaikkan menyusul adanya subsidi pemerintah. Subsidi tersebut harusnya dibebankan ke APBN, tapi sementara dibebankan ke Pertamina. Itu sebabnya Pertamina sempat tekor Rp10 triliun menyusul pergerakan harga minyak belakangan ini.

Tekornya Pertamina tersebut semata-mata menalangi kerugian yang harusnya dipikul APBN, dan itu sebabnya Pertamina akan menagih dampak kerugian dari kenaikan harga minyak tersebut kepada pemerintah.

Pendek kata, kenaikan harga minyak memang selalu memiliki dampak dua sisi, menambah sekaligus mengurangi APBN. Tapi kerap kali jika di-netting, pada akhirnya membebani APBN.

Karena itu manajemen APBN yang baik dan bijak akan membuat APBN tidak mudah tergelincir oleh licinnya turun naik harga minyak.[]

1 KOMENTAR

  1. Pertanyaannya: sebenarnya berapa realita lifting minyak kita yg di explore dari seluruh Indonesia,, mengingat Indonesia sudah menjadi negara net import minyak,,,,?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here