HBH Arek Suroboyo, Cak Nun: Pemerintah Harus Mengerti Keseimbangan

0
287

Nusantara.news, Surabaya – Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun menyebut Indonesia tengah mengalami ketidakseimbangan, baik dalam cara berpikir, pengelolaan manejemen dan juga ketidakseimbangan antar komponen yang ada. Lahirnya Perppu Ormas, lanjut Cak Nun disebutkan juga hasil ketidakseimbangan antar komponen yang ada di negeri ini. Hasilnya, semua yang terjadi berjalan miring dan kerap keliru dalam pengambilan langkah atau keputusan.

“Perppu itu adalah hasil dari ketidakseimbangan. Tidak seimbang itu pasti jalannya miring, matanya juling, telinganya tuli. Mulutnya juga keliru, yang akhirnya langkahnya juga keliru,” ujar Emha Ainun Nadjib saat berbicara di Halal Bi Halal Arek Suroboyo yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) di SHW Center, Jalan Imam Bonjol 78 Surabaya, Kamis (20/7/2017) dini hari.

Lanjut budayawan asal Jombang, kondisi negera ini telah carut marut, dan mengalami tidakseimbangan. Namun, dirinya mengajak seluruh elemen dan komponen bangsa tidak putus asa, selalu menancapkan Indonesia di dalam hati.

“Selain tidak putus asa, harus tetap mencintai Indonesia. Indonesia harus selalu ada di hati. Dan, kalau dicari di semua tempat, yang paling tidak putus asa itu, di Surabaya ini. Kalau mau bangkit harus dimulai dari Jawa Timur dan Surabaya sebagai soko gurunya Indonesia dalam peta perpolitikan. Kita lihat saja Bonek yang ada di sini (Surabaya), tidak pernah putus asa,” urainya.

Cak Nun mengajak komponen bangsa yang ada untuk tidak berhenti berpikir. Mencari siapa pun, kelompok, orang, tokoh, pikiran, filosofi, cara berpikir, atau apapun yang dasar utamanya mencari keseimbangan.

Untuk menuju keseimbangan di dalam berbangsa, cara berpikir dan tentang apa pun juga, suami Novia Kolopaking itu mengingatkan pentingnya harus kembali kepada keseimbangan. “Karena hidup itu adalah keseimbangan,” tegas Cak Nun.

Sementara, Pembina Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) Sigid Haryo Wibisono menyampaikan kalau gelaran jalinan silahturahim yang dibangun, terutama masyarakat Jawa Timur diharapkan bisa memperkuat pencerahan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan perjalanan dalam berbangsa dan bernegara berjalan harmonis.

“Kegiatan ini digelar agar kehidupan berbangsa dan bernegara semakin harmonis serta tidak terganggu oleh perbedaan umat,” ucap Sigid Haryo Wibisono.

Sementara, dalam gelaran acara tersebut, selain dihadiri tokoh nasional, Suripto, Hariman Siregar juga turut hadir Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf,

Sebelumnya, Cak Nun juga sempat melontarkan sebelum terbit Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Ormas, utusan DPP HTI telah mendatangi Cak Nun dan selang satu jam kemudian bergantian datang utusan dari Mabes Polri. Cak Nun menyebut, telah memberikan penjelasan panjang lebar tentang konsep Khilafah kepada mereka-mereka yang datang.

“Khilafah itu memang konsepnya Tuhan. Manusia adalah representasi Tuhan. Khilafah itu benih, tergantung cuacanya, tanahnya dan jenis bertaninya. Pohon Khilafah bisa jadi republik, kesultanan, kerajaan dan lainnya. Indonesia saat ini sudah Khilafah, buat apa ada Khilafah lagi,” urai Cak Nun, yang kembali diuraikan saat di atas panggung, di hadapan lebih dari sepuluh ribu orang termasuk Jamaah Makiyah pengagum Cak Nun dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Untuk diketahui, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo saat di acara Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) di Malang, Jawa Timur menegaskan, diterbitkannya Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) oleh Presiden RI, dalihnya untuk menyelamatkan bangsa.

Di Indonesia, ujar Mendagri Tjahjo Kumolo saat itu mengatakan, di Indonesia terlarang untuk tumbuhnya paham komunisme, radikalisme, terorisme serta paham lain di luar Pancasila.

“Jadi yang ranahnya komunis, radikalisme, terorisme, dan paham di luar Pancasila harus disikat, itu perintah Presiden,” ucap Tjahjo Kumolo, saat itu.

Kemudian, masih di atas panggung halal bi halal, Tokoh Intelijen kawakan Soeripto, menyebut pada sepuluh tahun yang akan datang tenaga kerja di Indonesia meningkat 10 persen. Penduduk Indonesia yang lebih dari 300 juta adalah tenaga produktif, dan itu menjadi sebuah tantangan. Dan, soal Turbulensi atau ketidakseimbangan, dikatakan kalau itu terus terjadi akan membahayakan negara.

“Harus kita cari sebabnya, ada dua hal yang menjadi kegoncangan. Itu bisa mengarah pada instabilisasi dan potensi disintergrasi. Karena aparat, elit yang bertengkat terus, mau menang sendiri maka perseteruan ini akan menimbulkan disintregrasi, itu bahaya,” urainya.

Lanjut Soeripto, kalau terus terjadi perseteruan termasuk munculnya persoalan ekonomi, harga pangan yang terus naik juga tarif listrik, inflasi, dan persoalan lapangan kerja. Itu akan menjadi potensi distrigrasi.

“Karena masyarakat mengharapkan keadaan lebih baik, apalagi setelah reformasi itu tidak terwujud, masyarakat akan kecewa dan putus asa, maka akan mencari jalan pintas. Inilah yang perlu kita jaga, dengan semangat. Dan, saya kagum melihat ini, di mulai oleh Arek-arek Suroboyo seperti saat 10 Nopember 1945. Kita tidak mau Indonesia terjadi seperti di Suriah, Irak, Mesir dan negara-negara lain. Kita harus selamatkan negara kita. Arek-arek Suroboyo bisa mempelopori itu,” tegas Soeripto disambut riuh tepuk tangan masyarakat pecinta Cak Nun yang menyemut di jalanan depan kantor SHW Center itu.

Kemudian, sebelum penutup dan mengakhiri acara halal bi halal, Cak Nun kepada Arek-arek Suroboyo mengatakan semua kekhawatiran yang dilontarkan oleh Soeripto bisa dicegah dan tidak akan terjadi. Tetapi pemerintah harus memahami ketidakseimbangan yang terjadi hingga saat ini.

“Mas Ripto, Arek-arek Suroboyo ini bisa mencegah itu, mereka ada di mana-mana.
Indonesia, hari esok harus lebih baik. Tetapi pemerintah harus mengerti,” ucap Cak Nun yang kembali mendapat tepuk tangan pengagumnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here