Nelayan  Giliraja Khawatir  Eksplorasi Madura Strait

HCML-SKK Migas Sosialisasi Demi Kejar Target

0
199

Nusantara.news, Sumenep – Eksplorasi Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Lapangan Gas MAC di perairan sebelah selatan Pulau Giligenting dan Giliraja, Kabupaten Sumenep, tetap berlangsung kendati sempat ada gejolak dari nelayan setempat yang gelisah akibat rumponnya rusak dampak eksplorasi.

Perusahaan operator yang berpusat di Kanada ini bahkan memperkirakan tahap produksi sudah bisa dimulai akhir 2018 atau pertengahan 2019. “Kalau semuanya berjalan sebagaimana mestinya, bisa saja produksi sudah dilakukan akhir 2018. Estimasi kami memang pada kisaran akhir 2018 hingga pertengahan 2019,” kata Head of Relations HCML, Hamim Tohari kepada wartawan, Rabu (8/3/2017).

Pernyataan ini dikeluarkan setelah HCML bersama SKK Migas Perwakilan Jabanusa menggelar sosialisasi tambahan rencana pengembangan lapangan gas MAC Blok Madura Strait bagi warga Pulau Giligenting di aula Kantor Kecamatan Giligenting sehari sebelumnya. Hamim menjelaskan, posisi lapangan gas MAC berada di sekitar 25 kilometer sebelah selatan Pulau Giligenting dan Giliraja.

Hasil eksplorasi lapangan MAC yang dilakukan pada 2012-2013 dinilai bagus dan selanjutnya dikembangkan dengan didahului oleh penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Selain itu, beberapa waktu lalu, manajemen HCML melakukan survei laut untuk mengetahui kedalaman, arus, dan kondisi tanah bawah laut.

Selain untuk mengetahui sekaligus menentukan peralatan dalam rangka kegiatan atau tahapan selanjutnya, hasil survei laut juga bagian dari penyusunan dokumen Amdal. “Setiap kegiatan yang akan kami lakukan itu tentunya akan dikomunikasikan sekaligus butuh dukungan dari warga di sekitar daerah operasi,” kata Hamim ketika disinggung peran warga Giliraja yang sebelumnya sempat bergolak menuntut kompensasi.

Sosialisasi tambahan rencana pengembangan lapangan gas MAC oleh SKK Migas Perwakilan Jabanusa dan HCML di aula Kantor Kecamatan Giligenting itu merupakan tindak lanjut atas hasil rapat dengar pendapat di Komisi I DPRD Sumenep. Sebelumnya, pada 21 Februari 2017, pimpinan Komisi I DPRD Sumenep menggelar rapat guna menindaklanjuti aspirasi dari warga Pulau Giligenting dan Giliraja yang menilai manajemen HCML tidak melakukan sosialisasi atas rencana pengembangan lapangan gas MAC Blok Madura Strait.

Rapat tersebut merekomendasikan SKK Migas Perwakilan Jabanusa dan manajemen HCML agar melakukan sosialisasi tambahan bagi warga Pulau Giligenting dan Giliraja yang sudah dijalankan selama 2 hari terakhir untuk rencana pengembangan Lapangan Gas “MAC” Blok Madura Strait ini.

Selain MAC, HCML juga mengelola Lapangan Gas MDA-MBH yang ditarget sudah produksi 2018. Dalam agenda kerja HCML, semua peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi lapangan gas MDA-MBH akan dipasang ke lokasi pada akhir 2017. Dilanjutkan dengan melakukan pengeboran pengembangan di empat sumur gas di area Lapangan Gas MDA-MBH pada April 2018 dan produksi akhir tahunnya. “Kalau lancar berarti butuh waktu sekitar enam tahun agar lapangan gas tersebut masuk tahap produksi,” terang Hamim.

Berbeda dengan Lapangan MAC, Lapangan Gas MDA-MBH berada di sebelah selatan Pulau Sapudi dan Raas, Sumenep, hingga Situbondo, dan sebagian merupakan area latihan perang TNI AL.

Kepala Urusan Humas SKK Migas Perwakilan Jabanusa, M Fatah Yasin berharap tambahan 4 sumur di Lapangan Gas MDA-MBH diperkirakan bisa menghasilkan 110 MMSCFD. “Ini sumbangan yang bagus bagi produksi gas nasional,” katanya. Sesuai hasil kajian teknis HCML, empat sumur di Lapangan Gas MDA-MBH diperkirakan bisa berproduksi hingga sekitar sepuluh tahun. Sementara untuk Lapangan Gas MAC, tahap eksploitasi baru dilakukan pada akhir 2018 hingga pertengahan 2019.

Harapan ini tentu jadi keinginan pemerintah. Asalkan tidak meninggalkan rakyatnya, sah-sah saja potensi gas di bawah perairan Madura dikeruk hingga ludes. Dengan catatan, warga lokal juga harus ikut merasakan dampak peningkatan kesejahteraan. Jangan sampai usai kandungan gas habis setelah 10 tahun, warga hanya diwarisi lingkungan yang sudah rusak. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here