“Head to Head” Puan vs AHY (1)

0
412

Nusantara.news, Jakarta – Kalau benar pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono dan  Prabowo Subianto kemarin mengarah kepada pembentukan poros politik baru, maka konfigurasi poros politik Indonesia akan langsung terbelah dua. Poros Hambalang-Cikeas dan Poros Teuku Umar.

Kalau di Poros Teuku Umar sudah jelas komandannya, yakni Megawati. Tapi di poros yang satu mungkin akan dipimpin duet SBY-Prabowo. Siapa yang akan lebih dominan, belum bisa dipastikan. Keduanya sama-sama pendiri partai, dan menjabat ketua umum. Kalau ukurannya perolehan suara pada Pemilu Legislatif kemarin, berarti Prabowo yang pegang tongkat komando. Sebab Partai Gerindra meraih suara 14.760.371 (11,81 persen, dengan 73 kursi DPR), sementara Partai Demokrat sedikit di bawahnya, 12.728.913 (10,19 persen, 61 kursi DPR).

Apabila ukurannya pengalaman politik pemerintahan, SBY unggul. Karena sudah dua kali jadi presiden, dan beberapa kali jadi menteri. Sementara Prabowo jadi menteri pun belum pernah.

Soal pangkat di TNI, keduanya sama-sama bintang tiga. Karir aktif mereka di TNI, meski sama-sama cemerlang dan dianggap sebagai rising star di masanya, hanya sampai level letnan jenderal. SBY jadi Kepala Staf Teritorial TNI dan Prabowo jadi Pangkostrad. Tapi SBY dapat kenaikan pascatugas dengan status Jenderal Kehormatan (hor) berbintang empat. Akhir karir militer mereka memang sedikit berbeda. Prabowo berakhir tragis, sedangkan SBY menyudahinya secara alamiah. Dari segi umur, Prabowo hanya lebih muda setahun.

Tapi melihat perlambang pertemuan kemarin, di mana Prabowo yang datang ke Cikeas, agaknya itu simbol penghormatan Prabowo kepada seniornya di Akademi Militer yang meraih penghargaan Adhi Makayasa itu.

Pesan yang terpancar dari pertemuan di Cikeas kemarin hanya satu: Dua pensiunan jenderal itu tengah menjajaki pembentukan barisan menghadapi Pilpres 2019. Walaupun mereka menyebut kerjasama itu tanpa koalisi, namun tetap saja dibaca sebagai aliansi. Itu artinya, mereka tetap akan berdiri berseberangan dengan kubu Megawati.

Poros Teuku Umar ini hampir bisa dipastikan akan tetap menjagokan Joko Widodo sebagai calon presiden. Betapapun tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi sangat fluktuatif dan cenderung menurun, namun Jokowi praktis tanpa pesaing di kubu ini. Sebutlah semua nama tokoh dari seluruh partai di Poros Teuku Umar, pasti jauh probabilitas keterpilihannya dibandingkan Jokowi. Bahkan Jokowi pasti unggul walau dibandingkan dengan Megawati sekalipun. Apalagi Megawati sudah dua kali kalah bertarung di Pilpres, 2004 dan 2009.

Dari kubu Hambalang-Cikeas, yang bakal ditampilkan tampaknya tetap Prabowo. Bukan saja karena Prabowo belum pernah merasakan nyamannya singasana istana –sementara SBY sudah dua kali di sana—tetapi juga karena elektabilitas SBY tentu tidak sedahsyat dulu. Jadi, Pilpres mendatang adalah tarung ulang 2014.

Persoalan pelik dari kedua kubu adalah menentukan siapa calon wakil presiden yang akan mendampingi pemain utama. Dari Poros Teuku Umar mungkin akan menampilkan Puan Maharani. Dari sisi subjektivitas Megawati, tentu Puan adalah pilihan pertama. Sebab, itu berarti akan melanggengkan dinasti Sukarno di panggung kekuasaan.

Sementara dari kelompok Hambalang-Cikeas, masih tanda tanya. Jika mengikuti logika yang sama dengan Megawati, bisa jadi yang dimunculkan adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), anak SBY. Partai Demokrat akan mendukung Prabowo di 2019, kalau imbalannya Agus menjadi cawapres.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here