“Head to Head” Puan vs AHY (2)

0
246

Nusantara.news, Jakarta – Dari segi subjektivitas Cikeas, wajar jika SBY agar AHY dijadikan pendamping Prabowo. Itu bisa dianggap  imbalan yang pantas. Sebab, AHY sudah mengorbankan karir militernya. Padahal karirnya diramalkan akan cemerlang. AHY  adalah peraih Adhi Makayasa Akademi Militer tahun 2000, lulusan terbaik sekolah perwira di Fort Benning Amerika Serikat, peraih IPK sempurna 4.0 di  Command and General Staff College (CGSC, setingkat Seskoad) di Fort Leavenworth. Belum lagi sejumlah penghargaan terbaik sebagai anggota TNI.

Dengan referensi seperti itu, lebih dari satu-dua bintang pasti akan bertengger di pundaknya. Itu sebabnya banyak yang menyayangkan dia mundur dari TNI, termasuk Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

“Saya menyayangkan. Saya sudah siapkan dia sebagai kader. Agus ini sejak SMA Taruna selalu nomor satu.  Nilai sampai sekarang belum ada yang menyaingi. Kemudian ketika lulus di Akmil memperoleh Adhi Makayasa yang belum tersaingi. Dia terbaik tiga-tiganya, mental, fisik, dan intelektual,” ujar  Gatot menanggapi mundurnya AHY dari TNI September tahun lalu karena maju di Pilkada Jakarta.

Kalau benar AHY yang terpilih mendampingi 08 (call sign Prabowo sewaktu di tentara), maka inilah formasi duet militer-militer pertama dalam sejarah pemilihan presiden di Indonesia.  Sebelumnya, duet capres-cawapres adalah kombinasi sipil-militer atau militer-sipil.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Agus Hermanto mengklaim AHY adalah figur harapan generasi muda Indonesia untuk menjadi pemimpin negara di masa depan. Menurut Agus, dorongan agar AHY maju sebagai pemimpin nasional sangat kuat, baik dari generasi muda di luar partai, apalagi dari internal Partai Demokrat.

“Seluruh Indonesia rata-rata kawula mudanya menginginkan Mas AHY ini menjadi next leader. Bahkan kawula mudanya tidak hanya dari Demokrat tapi yang lain juga mendorong,” kata Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/7/2017).

Dari sisi kapasitas intelektual, AHY bisa dikatakan sangat mumpuni. Dia punya gelar akademis M.Sc., M.P.A., dan M.A. Tidak hanya di pendidikan militer, di pendidikan umum pun dia selalu lulus terbaik. Gelar master bidang manajemen diraihnya dari  Webster University dengan IPK tertinggi, 4.0.  AHY juga dapat penghargaan terbaik dari S. Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura.

Tetapi, untuk maju sebagai cawapres dia juga sejumlah kendala, kalaulah tidak disebut kelemahan. AHY belum punya pengalaman apa pun di politik dan pemerintahan. Biasanya, tokoh yang maju sebagai cawapres, kalaupun bukan dari partai politik, namun memiliki pengalaman pemerintahan atau aktivitas kemasyarakatan yang panjang. Dari sisi ini, AHY bahkan kalah dari adiknya, Edhie Baskoro Yudhoyono, yang sejak awal terlibat dalam Partai Demokrat sampai menjabat Sekjen DPP.

Tidak adanya pengalaman politik dan pemerintahan ini dapat menghambatnya dalam melakukan komunikasi politik dengan partai-partai atau lembaga politik lain. Bisa jadi dia akan tergagap memasuki rimba raya politik dan birokrasi pemerintahan.

Selain itu, usianya juga masih terlalu muda, walaupun faktor usia juga tidak berbanding lurus dengan kematangan. Jika maju di 2019, AHY baru menjelang 41 tahun. Kalau dia terpilih nanti, AHY akan memecahkan rekor Moh. Hatta sebagai wapres termuda sepanjang sejarah. Hatta menjabat wapres di usia 43 tahun.

Faktor lain adalah catatan kekalahannya di Pilkada Jakarta tempo hari. AHY langsung tersungkur di babak awal dengan perolehan suara 937.950 (17,02%). Dari sisi pesimistis, itu bisa dibaca, ya memang segitulah daya jual AHY. Tapi kalau mau optimistis, pilkada kemarin baru pemanasan awal untuk mengenalkan nama AHY ke kancah politik nasional.

Memang, untuk bertarung di Jakarta waktu itu, proses sosialisasi nama AHY praktis sangat singkat. Selama ini orang hanya mengenalnya sebagai prajurit muda yang pintar. Sehingga agak mengagetkan publik ketika namanya muncul di bursa kandidat.

Kekalahan di Jakarta bisa menular sebagai bandwagon effect (efek ikut-ikutan) dalam pilpres nanti.

Formasi militer-militer ini juga bisa berpengaruh. Meskipun 08 dan AHY sudah menjadi warga sipil, tapi latar belakangnya sebagai tentara, bisa membuat mereka diangggap sebagai representasi militer. Sentimen dikotomis sipil militer mungkin saja dieksploitasi di sini.

Pasangan Prabowo-AHY ini bisa disebut juga sebagai “formasi bapak-anak”. Sebab, Prabowo memang seumur dengan SBY, ayahnya AHY. Kedudukan ini dapat menimbulkan jurang komunikasi kritis antara keduanya. Apalagi secara kepangkatan dalam tentara, Prabowo adalah letnan jenderal, sementara AHY baru mayor. Selisih pangkat yang bagai langit dan bumi ini pun bisa menjadi kendala komunikasi. Apalagi di tentara, komunikasi personal amat ditentukan hirarki kepangkatan.

Tetapi, yang menguntungkan bagi kedua orang ini, mereka adalah elite penentu di partai masing-masing. Prabowo adalah pendiri dan Ketua Umum Partai Gerindra. Sementara AHY pun putra mahkota SBY. Posisi ini membuat mereka lebih leluasa mengambil keputusan. Sekaligus membuat AHY lebih “pe-de” di depan Prabowo.

Kedudukan inilah yang tak dimiliki oleh Joko Widodo. Sebab, kebijakan PDIP sepenuhnya ditentukan Megawati, dan Jokowi hanya “petugas partai”.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here