“Head to Head” Puan vs AHY (3)

0
332

Nusantara.news, Jakarta – Jika Susilo Bambang Yudhoyono punya kepentingan subjektif mendukung AHY, Megawati pun begitu. Sebagai penguasa tunggal PDIP, menjadikan Puan Maharani sebagai calon wapres pendamping Joko Widodo di Pilpres 2019 adalah keharusan bagi Megawati.

Jika Puan berhasil didudukkan di kursi wapres, kelanjutan trah Sukarno di politik tetap berlanjut. Dengan posisi anaknya sebagai wapres, Megawati akan lega turun tahta dari Ketua Umum PDIP dan menyerahkannya kepada sang putri mahkota.

PDIP memang telah menyiapkan Puan Maharani sebagai cawapres untuk mendampingi Jokowi pada pilpres mendatang. Meski PDIP belum secara resmi mengumumkan hal itu, tetapi sejumlah tokoh partai banteng itu sudah memberi penegasan. “Mbak Puan harus mempersiapkan diri untuk menjadi RI-2 pada 2019,” kata Ketua DPP PDIP Trimedya Panjaitan.

Dibanding AHY yang tak punya pengalaman politik dan pemerintahan, Puan justru lebih baik. Dia memang dipersiapkan oleh kedua orang tuanya untuk berpolitik. Dia adalah saksi langsung bagaimana Megawati dan Taufik Kiemas membangun PDIP sejak zaman Orde Baru.

Pendidikan politik dari kedua orang tuanya berlangsung cukup lama. Buktinya, meski sudah mengikuti ibunya di PDIP sejak awal berdiri tahun 1999, Puan tidak langsung terjun ke kancah politik praktis. Dia “magang” selama 10 tahun, baru mencalonkan diri sebagai anggota DPR di  Dapil Jawa Tengah V. Di sini Puan meraih suara terbanyak kedua di tingkat nasional yaitu 242.504 suara.

Di DPR, Puan sempat menjadi Ketua Fraksi PDIP sejak Januari 2012 sampai ditarik Presiden Jokowi menjadi Menko PPK pada Oktober 2014. Penunjukannya sebagai Menko ini sempat dikritik sejumlah kalangan karena menilai dia dipilih lantaran Puan anak Megawati. “Saya berharap diberi ruang. Bukan karena anak, keluarga atau titipan. Insya Allah saya lakukan sebaik-baiknya,” kata Puan, menanggapi kritik itu.

Dari sisi ini, Puan yang lebih tua lima tahun dari AHY, jauh lebih berpengalaman. Dia lebih paham lika-liku politik dibanding AHY, karena terlibat langsung dengan kegiatan politik ayah ibunya.

Sedangkan dari segi akademis, meski tidak buruk, Puan memang tidak sementereng anak SBY. Puan adalah sarjana komunikasi dari Universitas Indonesia.

Perbedaan lain dari AHY adalah pengalaman dalam pemilu. AHY kalah dalam Pilkada Jakarta, sementara Puan menang dalam pemilihan legislatif di Dapil Jawa Tengah V. Spektrum kontestasinya memang jauh berbeda, tetapi bisa membawa dampak psikologis yang sama di kalangan pemilih: antara the winner dan the looser.

Keuntungan Puan yang lain adalah dia menjadi pendamping Jokowi, yang dalam Pilpres kemarin mengalahkan Prabowo dengan “skor tipis”. Pasangan Jokowi-JK meraup 71.107.184 suara (53,19 persen) dan unggul di 23 provinsi, sedangkan Prabowo-Hatta hanya mampu mengantongi 62.578.528 suara (46,81 persen) dan menang di 10 provinsi.

Tapi, bukan berarti Puan tak punya kelemahan. Sarjana ilmu komunikasi ini tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Ini bisa dibilang sebagai kelemahan Puan yang paling menonjol. Ketrampilan komunikasi Puan kelihatannya lebih mirip ibundanya, ketimbang ayahnya yang dikenal cakap menjalin komunikasi politik dengan berbagai kalangan.

Seperti komentarnya saat menanggapi Gubernur Bali, Made Mangku Pastika yang berharap adanya penambahan anggaran daerah untuk pengadaan beras miskin menyusul peningkatan jumlah penduduk yang membutuhkan raskin.

Tak disangka-sangka, Puan justru menjawab masalah serius itu dengan gurauan yang kurang etis. Puan meminta rakyat miskin untuk diet. “Jangan banyak-banyak makan lah, diet sedikit tidak apa-apa,” seloroh Puan ketika itu. Baca: https://nusantara.news/cara-komunikasi-puan-gerogoti-elektabilitas-jokowi-pada-pilpres-2019/

Berbeda dengan duet Prabowo-AHY yang merupakan duet militer-militer pertama dalam sejarah pilpres di Indonesia, jika benar Puan dipasangkan dengan Jokowi, ini adalah pasangan sipil-sipil keempat dalam sejarah pemilu presiden, setelah Amien Rais-Siswono Yudohusodo dan Megawati-Hasyim Muzadi pada 2004, serta Jokowi-Kalla di 2014.

***

Meskipun kedudukan wapres itu penting, tetapi jualan utama dalam pilpres tetaplah sosok calon presiden. Jika benar terjadi tarung ulang Jokowi vs Prabowo di 2019, faktor psikologis bandwagon effect tadi pasti sangat mempengaruhi.

Lagi pula, dalam sejarah presidential race di Indonesia, belum pernah terjadi calon yang sudah kalah bisa menang dalam pilpres berikutnya. Hal ini pernah dialami oleh Megawati. Setelah kalah di 2004 melawan SBY, dia kembali harus mengakui keunggulan SBY di 2009. Wiranto juga pernah mengalami hal serupa. Kalah dalam Pilpres 2004 ketika berpasangan dengan Salahuddin Wahid, Wiranto kembali tersungkur di tahun 2009, ketika menjadi cawapres Jusuf Kalla.

Tetapi, siapa pun yang nanti terpilih sebagai wapres di 2019, entah Puan atau AHY, ini baru pertandingan pemanasan bagi mereka. Sebab, setelah pertarungan mereka akan diduga akan panjang.  Sebab mereka adalah pewaris langsung dari dua politik yang tak pernah akur: Teuku Umar dan Cikeas. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here