Hebat! Sandiaga Pose 1 Jari

0
90

HEBAT. Kata itu pantas kita ucapkan terhadap sikap Sandiaga Uno. Cawapres Prabowo Subianto ini mengacungkan tanda satu jari, simbol nomor urut pasangan Capres-Cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin. Itu dilakukannya menjelang kampanye di  Singaraja, Bali kemarin. Ketika lari di Pantai Lovina, Sandi menghampiri dan menyalami serombongan pendukung capres-cawapres nomor urut 01 yang sedang mengarak poster Jokowi-Ma’ruf.

Para pendukung Jokowi itu menyambut ramah, dan mengajaknya minum kopi sambil foto-foto bersama. Ketika berfoto itu, massa yang hadir mengacungkan simbol satu jari. Dan, Sandi pun melakukan hal serupa.  

“Dari Bali kita sampaikan salam damai. Kami tidak ingin politik yang memecah belah, tapi mempersatukan. Demokrasi ini seharusnya menggembirakan dan menyenangkan. Jadi buat apa memecah belah. Dari awal kami sudah komitmen untuk menciptakan politik sejuk, politik yang mempersatukan,” ujar Sandiaga.

Sikap seperti ini tidak sekali-dua diperlihatkan Sandi. Ketika Asian Games berlangsung, Sandi melarang para pendukungnya untuk berkomentar negatif. Ketika kurs rupiah sedang sempoyongan ditekan mata uang asing, Sandi juga meminta para politisi untuk diam agar tidak terjadi kegaduhan yang dapat menekan rupiah. Untuk mengangkat nilai tukar mata uang Indonesia itu, Sandi bahkan menjual 35 persen dolar miliknya.

Dari empat orang di dua pasangan yang berlomba dalam Pemilu Presiden ini, Sandi merupakan yang paling muda, namun dia pulalah yang sejauh ini paling mampu memperlihatkan stabilitas emosi yang terjaga. Ini penting dicatat, dan kita sematkan kata “hebat”. Bukan dalam konteks dukung-mendukung, tapi tindakan seperti ini memang layak diapresiasi.  Sebab, di tengah suasana yang makin panas dengan saling serang di penghujung masa kampanye, pose Sandiaga itu bak oase yang menyejukkan.

Sebab, seperti sering kita ingatkan dalam ruangan ini,  fragmentasi bangsa ini sudah sangat friksionistik, bahkan dengan ketajaman yang melukai satu sama lain. Pemberitaan tentang berbagai tawuran di masyarakat di media massa, misalnya, selalu disertai kalimat yang menjelaskan “disebabkan oleh hal sepele”. Itu menunjukkan betapa rapuhnya soliditas sosial kita.

Ada memang sejumlah upaya serius dari orang-orang yang peduli untuk merekatkan kembali soliditas sosial yang rapuh ini. Namun upaya itu selalu dirusak kembali oleh ucapan provokatif elit politik. Provokasi dibalas provokasi.

Karena perang kata melibatkan tokoh politik, yang tentu memiliki basis pendukung masing-masing, maka konfrontasi kemudian melebar menciptakan kelompok-kelompok yang saling berhadapan, baik dari kalangan masyarakat maupun partai politik. Sebab polarisasi masyarakat masih sangat ditentukan pada preferensi ketokohan.

Kebebasan berbicara dalam kerangka demokrasi semestinya tidak menihilkan etika berkomunikasi. Sebab, demokrasi itu buah peradaban. Penyelenggaraan seluruh aspeknya, termasuk kebebasan menyatakan pendapat, harus berada dalam koridor keadaban.

Berpolitik memang untuk meraih kekuasaan. Jangan berpolitik, kalau bukan untuk mencari kekuasaan. Kekuasaan itu harus direbut. Tak ada kekuasaan yang diberi, kecuali untuk penguasa boneka. Segala daya dan upaya harus dikerahkan untuk merebut kekuasaan itu.

Masalahnya, tinggal cara merebutnya. Ada banyak cara. Cara kotor, cara bodoh, atau cara yang elegan. Kalau mau politik itu menghasilkan manfaat bagi bangsa, ya, pilihlah cara yang elegan. Partai politik, sejatinya, adalah alat perjuangan bangsa mencapai kemajuan di semua bidang. Bukan untuk sebaliknya. Artinya, iklim yang dikembangkan seyogianya adalah kebersamaan, bukan kebencian dan permusuhan.

Nah, Sandi sudah memperlihatkan hal itu dengan berpose satu jari.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here