Hegemoni Dahlan Iskan Terhadap Media di Indonesia

0
1251

Nusantara.news, Jakarta – Hegemoni Dahlan Iskan terhadap media-media di Indonesia masih begitu besar dan menarik untuk diulas.

Hal yang paling mudah adalah memonitor pemberitaan berbagai media, termasuk media-media yang masuk dalam grup Jawa Pos. Apakah mereka bersikap netral, ataukah ada upaya-upaya inusiasi atau pembalikan fakta atas penangkapan itu?

Sebagaimana ditulis oleh berbagai media, Dahlan Iskan ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur pada 27 Oktober 2016 lalu terkait kasus korupsi penjualan aset Panca Wira Usaha (PWU) Jawa Timur.

“Kejati Jatim menetapkan mantan Menteri BUMN atas nama Dahlan Iskan selaku Dirut PT PWU periode 2000-2009 sebagai tersangka,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, Maruli Hutagalung, Rabu (27/10).

Dijelaskan, Dahlan Iskan terseret dalam dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi penyelewengan penjualan aset milik Pemprov Jatim yang dikelola oleh PT PWU yang merugikan keuangan negara. Usai pemeriksaan dan penetapan status tersangka, Jaksa langsung membawa Dahlan ke Rumah tahanan.

Keberpihakan media yang membela pemilik yang terlilit sebuah kasus bukan hal baru, Jawa Grup tentu tak ingin malu jika mantan CEO nya ini duduk dalam kursi pesakitan. Selain membela Dahlan, JP Grup ramai-ramai menggebuk Kejati Jatim, Maruli Hutagalung. Sosok ini menjadi kunci di balik pengusutan dan penangkapan Dahlan Iskan.

Kebetulan saat Dahlan diperiksa dan akhirnya ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejati Jatim, di tempat terpisah di Jakarta, Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengeluarkan pernyataan bahwa  KPK akan kembali mengusut keterlibatan Maruli dalam kasus korupsi yang membelit mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho. Pemberitaan inilah yang dikutip dan dijadikan kepala berita di berbagai media JP Grup.

Jawa Pos Grup atau JP Grup adalah perusahaan media yang menaungi lebih dari 151 surat kabar daerah dan nasional serta tabloid, majalah, dan televisi lokal yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kekuatan utama kelompok media ini adalah surat kabar daerah yang beredar hingga pelosok-pelosok. Dahlan Iskan punya andil besar menyebarkan hegemoni Jawa Pos ke daerah-daerah.

Begitu hegemoninya Jawa Grup membuat Marulli terdesak dan melunak sehingga memutuskan mantan Menteri BUMN ini sebagai tahanan kota. Dahlan yang merupakan pasien transplantasi hati dijadikan senjata maut untuk mempengaruhi keputusan Marulli menetapkan Dahlan sebagai tahanan kota.

Dari data yang berhasil dihimpun oleh NUSANTARA.NEWS pemberitaan dengan nada pembelaan pada judul surat kabar yang berafiliasi dengan Jawa Pos Grup di kota-kota besar di Indonesia seperti Sumatera Ekspres (Palembang), Fajar (Makassar), Padang Ekspres (Padang), Batam Pos (Batam), Kaltim Pos (Samarinda), Radar Bandung (Bandung), Lombok Post (Lombok), Radar Banten, Rakyat Merdeka, Indopos, Radar Bogor, Tangerang Ekspres (Jabodetabek) sangat ketara sekali.

Pernyataan Dahlan dimuat secara utuh, dengan ukuran huruf yang mencolok, di halaman depan. Misalnya pernyataan ini: “Saya tidak kaget dengan penetapan tersangka ini dan kemudian ditahan. Karena seperti Anda semua tahu saya sedang diincar oleh yang lagi berkuasa. Dan, biarlah sekali-kali terjadi.  Jadi, seorang yang mengabdi setulus hati, dengan menjadi direktur utama perusahaan daerah yang dulu seperti itu jeleknya, yang tanpa digaji selama sepuluh tahun, tanpa menerima fasilitas apa pun, kemudian harus menjadi tersangka yang bukan karena makan uang, bukan karena menerima sogokan, bukan karena menerima aliran dana, tapi harus tanda tangan dokumen yang disiapkan anak buah.”

Bahkan afiliasi mereka di Papua seperti Cendrawasih Pos (Jayapura) dan Radar Timika (Timika) melakukan hal sama. Data Binokular sebuah platform monitoring surat kabar yang memantau lebih dari 400 surat kabar di Indonesia mencatat ada 28 surat kabar yang olah pemberitaannya kompak terkait Dahlan.

Angka ini tentu bisa bertambah karena data kliping media-media JP Grup di pelosok yang terbit 28 Oktober tidak bisa didapat Binokular dalam satu hari saja. Namun ada juga beberapa media yang tidak termasuk dalam Jawa Grup menanggapi enteng soal pemberitaan Dahlan Iskan oleh Kejati Jatim.

Data Binokular mencatat 39 koran di seluruh Indonesia pada tanggal 28 Oktober 2016 memberitakan penangkapan Dahlan Iskan. Sebelas di antaranya bukan koran yang berafiliasi dengan JP Grup seperti Surabaya PagiKedaulatan RakyatAnalisa Daily, Pos Kota, Harian Singgalang, Jakarta Post, Andalas, Solo Pos, Sindo Jatim, Medan Bisnis dan Media Indonesia.

Kadar jumlah artikel pada tiap koran pun berbeda-beda. Surabaya Pagi salah satu medai cetak di Surabaya menurunkan empat artikel sekaligus di halaman depan, Kedaulatan Rakyat dua artikel, dan media-media lain non-JP Grup hanya satu artikel. Jika ditilik dari judul pemberitaan ada yang kecenderungannya bernada positif, netral ataupun negatif.

Media Indonesia menulis judul “Dahlan Iskan Ditahan Terkait Pelepasan Atlet”, The Jakarta Post menulis “Dahlan Claims Politics Behind His Arrest,” Analisa Daily memilih judul “Dahlan Mengaku Ditahan karena Tanda Tangan,” Sindo Jatim lebih sedikit galak “Tersangka! Dahlan langsung ditahan,” sedangkan judul provokatif diturunkan Surabaya Pagi: “Dari 3 bidikan Korupsi, Dahlan tak berkutik hadapi Maruli.”

Sementara bagi media cetak nasional secara umum, isu penangkapan Dahlan tak begitu menarik perhatian. Koran sekelas Tempo, Kompas, Bisnis Indonesia, Republika, dan Pikiran Rakyat lebih memilih isu Jessica Kumala Wongso atau isu lain untuk menghiasi halaman depan mereka tinimbang penangkapan Dahlan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here