Hidup Makin Susah, 14 Juta WNI Alami Gangguan Jiwa

1
3342
Seorang pasien berada di dalam ruang isolasi Rumah Sakit Jiwa Kendari setelah mengidap gangguan jiwa di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (14/9). ANTARA FOTO/Jojon/pras/17.

Nusantara.news, Jakarta – Tingginya tekanan hidup di DKI Jakarta ternyata berbanding lurus dengan semakin banyaknya penderita gangguan jiwa warganya. Melalui riset kesehatan dasar 2013 tercatat gangguan mental emosional warga DKI Jakarta sudah mencapai 5,7 persen.

Kenyataan memilukan itu diungkap oleh Agung Frijanto yang juga dokter spesialis kedokteran jiwa di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdja. “Itu artinya 570 ribu penduduk Jakarta mengalami gangguan mental,” ucapnya saat menggelar jumpa pers di Jakarta, Senin (18/9) lalu.

Toh begitu, secara prosentase penderita gangguan jiwa di Jakarta masih di bawah angka nasional yang mencapai 6 persen. Dengan jumlah penduduk 261 juta berarti sekitar 14 juta Warga Negara Indonesia (WNI) mengalami gangguan jiwa, dari tingkatan rendah, sedang hingga gangguan jiwa berat seperti skizofrenia yang diidap oleh sekitar 400 ribu warga negara Indonesia.

Pada Hari Kesehatan se-Dunia pada 12 Oktober 2016 lalu, World Health Organization (WHO) dan World Federation for Mental Health (WFMH) menekankan penyelesaian permasalahan kesehatan jiwa dari akarnya. Partisipasi keluarga dianggap penting dalam menanggulangi kesehatan jiwa. Dalam keluarga yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Begitu tagline yang mengemuka.

Selain itu, berbagai bentuk diskriminasi dan stigma terhadap pengidap gangguan jiwa secara perlahan harus dihapuskan, karena orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) sebagaimana definisi yang tercantum pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, harus dijaga hak-hak azasi dan martabatnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan RI dr. Fidiansyah, SpKJ, MPH menegaskan, Kesehatan Jiwa merupakan bagian penting terhadap terciptanya sumber daya manusia yang produktif sekaligus merupakan asset bangsa yang berharga.

Pentingnya Keluarga

Untuk itu, menjaga kesehatan jiwa seluruh masyarakat Indonesia merupakan tugas semua pihak. Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat menjadi garda depan dalam menjaga kesehatan jiwa masing-masing anggota keluarganya. Keluarga adalah pihak pertama yang mendeteksi anggotanya apabila ada gejala gangguan kejiwaan sehingga segera mendapat penanganan sejak dini.

Mengutip keterangan Ketua Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Kedokeran Jiwa Indonesia (PP-PDSKJI) dr. Eka Viora, SpKJ, gangguan jiwa itu sangat beragam jenisnya, mulai dari yang ringan hingga akut. Informasi akurat dari pihak keluarga akan sangat membantu para tenaga pemberi layanan kesehatan jiwa untuk melakukan diagnose dan menentukan perawatan yang tepat bagi pasiennya.

Namun tidak meratanya distribusi tenaga dan fasilitas layanan kesehatan jiwa di Indonesia, timpal Ketua Asosiasi Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat Indonesia (ARSAWAKOI) dr. H. Bambang Eko Sunaryanto, SpKJ, masih menjadi kendala terbesar di Republik ini.

Ditambah lagi kurangnya peminat dan berpindah-pindahnya lokasi tugas para tenaga kesehatan jiwa justru acap kali memutus mata rantai perawatan dan pengobatan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang memerlukan terapi jangka panjang. Untuk itu pemberdayaan keluarga dalam mengatasi gangguan jiwa anggota keluarga perlu disambut dengan baik.

Tentang penyebab gangguan jiwa, Nova Riyanti Yusuf yang juga dokter spesialis kedokteran jiwa RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, problem emosional adalah penyebab utama. Untuk wilayah DKI Jakarta, problem emosional tercatat 14 persen. “Ini lebih tinggi dibanding nasional yang hanya 12 persen berdasarkan data 2007,” ujarnya.

Fakta iti tentu saja tidak bisa diabaikan. Sebab gangguan mental emosional, lanjut Nova Riyanti, adalah penyebab bunuh diri tertinggi kedua untuk rentang usia 15-29 tahun. “Depresi menjadi penyebab tertinggi kedua cause of illness pada 2020 menurut WHO (organisasi kesehatan dunia),” terang Nova Riyanti.

Data WFMH juga menyebutkan, satu dari empat orang dewasa akan mengalami masalah kesehatan jiwa pada satu waktu dalam hidupnya. Bahkan, setiap 40 detik di suatu tempat di dunia ada seseorang yang meninggal karena bunuh diri (WFMH, 2016).  Data WHO (2016) menunjukkan, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia.

Persoalan Ekonomi

Satu diantara penyebab masalah gangguan kejiwaan di DKI Jakarta, ungkap Kepala Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Tuti Sulistyaningsih didominasi oleh tekanan ekonomi dan situasi sosial keluarga. “Penyebab paling banyak karena tekanan ekonomi. Misalnya ingin anak dan istri hidup layak, tetapi tidak bisa mewujudkannya, itu menjadi tekanan,” ujarnya.

Selain persoalan ekonomi, gangguan jiwa juga bisa disebabkan oleh narkoba yang membuat penderita megalami halusinasi. Dan ada juga karena faktor keturunan. Tuti menuturkan ada kakak beradik yang dibina di panti karena memiliki gangguan mental. Menurut dia, faktor genetik disertai ketidakpedulian keluarga dan lingkungan berdampak besar pada timbulnya gangguan kejiwaan.

“Misalnya di rumah sudah kelihatan memojok bicara sendiri itu seharusnya keluarga perhatian diajak ngobrol, jangan dibiarkan,” himbau Tuti.

Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 di Cipayung kini menampung sebanyak 1.290 warga binaan yang ada dalam kluster sedang. Adapun di seluruh Jakarta pada November terdapat 2.677 orang psikotik atau gangguan jiwa yang berada di panti sosial miliki Dinas Sosial DKI Jakarta.

Tidak meratanya tenaga medis dan fasilitas untuk menangani ODGJI terlihat di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di satu Kecamatan, tepatnya Kecamatan Purwodadi, terdeteksi 44 warga mengidap gangguan jiwa. Bahkan diantara 44 warga itu ada 9 ODGJ yang terpaksa dikurung karena sering mengamuk dan menganggu warga setempat.

Mestinya mereka mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadahi. Namun apa daya, di RSUD Ciamis sendiri, terang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis Drg Engkan Iskandar, hanya ada 1 dokter jiwa dan tidak setiap hari praktek.

Sebagian besar penderita gangguan jiwa dalam kategori berat itu, lanjut Engkan Iskandar karena persoalan ekonomi. “Bahkan ada yang gila karena tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi,” ucapnya.

Hal serupa terjadi di Provinsi Aceh. Jumlah ODGJ dan ODMK di Provinsi itu diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Masalah kejiwaan itu dipicu antara lain tekanan ekonomi keluarga. Jika tak ditangani dengan baik, itu bisa memicu tindakan di luar kontrol, termasuk kekerasan.

Sejumlah kasus kekerasan yang  terjadi di Aceh, bahkan ada diantaranya kasus pembunuhan adalah dipicu oleh depresi yang berakar persoalan ekonomi. Hal itu dibenarkan oleh Kepala Seksi Konseling Trauma Dinas Kesehatan Aceh Sarifah Yessi Hediyati, di Banda Aceh, yang menyebutkan gangguan jiwa bisa timbul karena faktor ekonomi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Aceh, masalah kejiwaan di Aceh naik 500-700 kasus per tahun.

“Masalah yang terakumulasi tanpa penanganan tepat bisa membuat ODMK bertindak di luar kontrol, terutama jika ada pemicu dari luar,” ucap Sarifah.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh 2014, angka kemiskinan di Aceh 16,98 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 10,96 persen. Adapun angka pengangguran terbuka Aceh 9,02 persen, juga lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,94 persen. “Sekitar 68 persen angkatan kerja Aceh ialah pekerja musiman, dibayar di bawah standar,” beber Kepala BPS Aceh Hermanto.

Tekanan ekonomi, timpal psikolog Nurjanah Nitura, memicu orang berbuat di luar batas kewajaran, seperti menganiaya orang lain dan bunuh diri. Tekanan ekonomi bisa diantisipasi dengan membangun relasi sosial kuat.  “Lunturnya relasi sosial membuat orang bersikap di luar batas,” ujarnya.

Bagaimana dengan angka kemiskinan di Indonesia? Angka kemiskinan di Indonesia pada Maret 2017 mencapai 27,77 juta jiwa dan angka pengangguran terbuka mencapai 7,01 juta jiwa. Meskipun ada indikasi penurunan namun tidak terlalu signifikan. Artinya, gejala gangguan jiwa masih mengintai sebagian masyarakat kita yang terbelit persoalan ekonomi.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here