Hillary Tuding Wikileaks Kaki Tangan Intelejen Rusia

0
99
Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton tersenyum dan mengedipkan mata kepada seseorang yang ia kenal saat berada di atas podium membahas buku terbarunya 'What Happened' saat ia meluncurkan buku wisata 15-kota di Warner Theatre di Washington, Amerika Serikat, Senin (18/9). ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst/djo/17

Washington DC – Pendiri situs WikiLeaks Julian Assange yang kerap meretas dokumen rahasia sejumlah negara dituding Hillary Clinton menjadi alat intelejen Rusia yang bekerja untuk kepentingan “diktator” Vladimir Putin.

Tudingan itu terungkap saat Hillary berbicara dalam wawancara khusus dalam program Four Corners ABC News Australia. Dalam wawancaranya Hillary menuduh Assange berkolusi dengan operasi intelijen Rusia untuk mengganggu Pilpres AS dan merusak pencalonannya sebagai presiden perempuan pertama di negeri paman Sam.

“Assange menjadi oportunis nihilistik yang melakukan pekerjaan bagi seorang diktator,” kecam Hillary yang tampak belum move on dengan kekalahannya. “Sangat disayangkan WikiLeaks telah menjadi anak perusahaan intelijen yang sepenuhnya dimiliki Rusia,” lanjutnya.

Bahkan Hillary tanpa tedeng aling-aling menyebut, operasi intelejen terhadap pencalonannya diatur oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. “Saya kira niat mereka datang dari atas dimana Putin bermaksud menyakiti saya dan membantu Trump,” terang Hillary.

Tudingan Hillary sebenarnya telah dikonfirmasi oleh intelejen komunitas intelejen Amerika Serikat (AS). Pada Januari lalu mereka menyimpulkan bahwa Putin memerintahkan kampanye untuk mendiskreditkan Hillary dan “jelas mendukung” lawannya.

“Komunitas intelijen kami dan pengamat Rusia dan Putin lainnya menyatakan dia dendam kepada saya karena sebagai Menlu, saya menentang beberapa tindakannya, otoritarianismenya,” kata Clinton.

“Tapi hal ini jauh lebih besar dari itu. Dia ingin mengacaukan demokrasi. Dia ingin melemahkan Amerika. Dia ingin mengejar aliansi Atlantik dan kami menganggap Australia sebagai bagian dari (aliansi) itu,” beber Hillary.

WikiLeaks menerima ribuan email yang diretas dari akun yang terkait dengan kampanye kubu Demokrat yang diduga dicuri oleh operator Rusia. Website ini merilis email itu selama periode empat bulan menjelang Pilpres AS 2016. Namun tudingan email itu dipasok dari Rusia atau dari negara lainnya dibantah oleh Assange.

Operasi Bersama

Hillary juga mengungkapkan, pada Pilpres 2016 lalu dirinya dikeroyok oleh WikiLeaks dan operasi intelejen Rusia yang membuat posisinya yang di atas angin runtuh seketika. Memang, sebelum hari H pemungutan suara sejumlah lembaga survei mengunggulkan dirinya,

“Ada operasi bersama antara WikiLeaks dan Rusia dan kemungkinan besar orang-orang di Amerika Serikat untuk … memanfaatkan informasi tersebut, mengarang cerita, kisah aneh dan sering mengerikan yang sebenarnya tanpa dasar … yang digunakan untuk merendahkan saya, kampanyeku, mereka yang mendukung saya, dan membantu Trump,” papar Hillary.

“Saya kalah electoral college sekitar 77.000 (suara), dan yang kami temukan pastilah ada bantuan sangat canggih yang dipasok ke WikiLeaks … dalam mengetahui bagaimana menyampaikan pesan penindasan dan pesan negatif mereka dalam mempengaruhi pemilih,” imbuhnya.

Dalam wawancara itu Hillary menunjukkan contoh bagaimana WikiLeaks berperan penting dalam mengalihkan isu skandal kampanye Trump dengan cara menyebarkan rilis yang menghantam dirinya.

Misalnya, Pukul 16:00 sore pada tanggal 7 Oktober, surat kabar Washington Post menerbitkan rekaman Hollywood Access 2005 berisi komentar cabul Donald Trump tentang pelecehan seksual terhadap wanita.

“Saya bahkan tidak menunggu. Bila Anda seorang bintang, mereka membiarkan Anda melakukannya. Anda bisa melakukan apapun … pegang bagian vagina mereka,” kata Trump dalam rekaman itu.

Kurang dari satu jam kemudian, WikiLeaks merilis lebih dari 2.000 email akun pribadi pemimpin kampanye Pilpres Hillary, John Podesta. Dengan dibukanya email itu, perhatian public terhadap rekaman kampanye cabul Trump teralihkan. “Hal itu tertutupi secara dramatis dan penuh selama sekitar 48 jam,” katanya.

“WikiLeaks, yang muncul di dunia kita menjanjikan informasi tersembunyi, menjanjikan semacam rahasia yang mungkin berpengaruh, merupakan respon sangat cerdik dan kejam terhadap rekaman Hollywood Access,” paparnya.

“Dan saya tidak meragukan lagi adanya komunikasi jika bukan koordinasi untuk membuka hal itu pertama kalinya sebagai tanggapan terhadap rekaman Hollywood Access,” ujar Hillary.

Dendam Pribadi

Tindakan Assange itu disebut Hillary adanya dendam pribadi Assange terhadap dirinya. “Saya memiliki banyak sejarah dengan dia karena saya adalah Menlu saat WikiLeaks merilis banyak informasi sensitif dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan kami,” ucapnya.

Bahkan karena telah menjadi kaki tangan Rusia, Hillary menuding WikiLeaks telah kehilangan legitimasi sebagai ikon kebebasan berpendapat. “Jika dia itu martir untuk kebebasan berbicara, mengapa WikiLeaks tidak menerbitkan apapun yang keluar dari Rusia? Anda tidak melihat informasi negatif merusak mengenai Kremlin di WikiLeaks,” tuding Hillary.

Terkait kekalahannya dalam Pilres yang penyebabnya antara lain adanya serangan siber, Hillary menanggapi serangan siber kini telah menjadi hal biasa. “Kita harus terbiasa dengan gagasan bahwa serangan siber adalah bentuk pencurian baru yang sangat canggih dan sangat rumit,” tandasnya.

“Ini merupakan pendahuluan terhadap apa yang akan kita lihat seterusnya dalam perpolitikan kami atau perpolitikan Anda atau perpolitikan negara demokrasi manapun, kecuali jika kita mengetahui cara mengatasinya, serta mencegah dan menguranginya,” pungkas Hillary.

Namun tudingan Hillary pada Minggu (15/10) langsung ditanggapi oleh Assange pada Senin (16.10) pagi. “WikiLeaks memiliki rekor tanpa cacat dalam akurasi,” bantah Assange lewat akun twitternya.

Assange juga balik menuding Hillary “bukanlah orang yang kredibel”, dan menambahkan “bocoran terakhir mengenai Rusia dirilis tiga minggu yang lalu”.

Perlu digaris bawahi di sini, sejak WikiLeaks membocorkan ribuan dokumen rahasia sumlah negara, khususnya Amerika Serikat, Julian Assange dijadikan target kriminalisasi oleh intelejen AS. Apakah karena merasa tidak aman itu Julian mencari perlindungan Rusia/

Kalau itu benar berarti Assange mengikuti jejak Snowden, mantan pegawai Kemenlu AS yang membocorkan rahasia negaranya yang setelah sempat mencari suaka di Bolivia kini mendapat suaka politik dari pemerintah Rusia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here