Hina John McCain Loyalis Trump Dipecat

0
54
Kelly Sadler Asisten Komunikasi Gedung Putih yang dipecat setelah mengolok-olok Senator John McCain/ NBC News

Nusantara.news, WashingtonJohn Sidney McCain III, Senator dari Partai Republik kelahiran 29 Agustus 1936 itu bukan politisi sembarangan. McCain sudah 5 periode secara berturut-turut – satu periode jabatan Senator berlaku 6 tahun – terpilih sebagai Senator mewakili negara bagian Arizona. Maka, meskipun suaranya sering berseberangan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump, namun senator berusia uzur ini sangat dihormati di lingkungan Partai Republik.

Jadi tidak mengherankan, saat Kelly Riddell Sadler – satu di antara asisten komunikasi Gedung Putih – meniru-niru gaya bosnya dengan membuat lelucon tentang sakitnya McCain, tidak berapa lama setelah itu langsung dipecat dari Gedung Putih. Namun sumber lain mengatakan, Kelly dipecat bukan karena leluconnya tentang McCain, melainkan karena dia telah menuding manajernya – Mercedes Schlapp – terkait bocornya pembicaraan dalam pertemuan di Oval Office dengan Presiden Trump.

Tidak Sebanding

Reputasi Kelly Sadler memang tidak sebanding dengan McCain yang pernah menjadi calon presiden – penantang Barrack Obama – dalam Pemilu Presiden AS 2008. Kelly hanya tercatat sebagai mantan jurnalis dan kolumnis The Washington Time – pengasuh blog dan contributor tetap untuk isu-isu politik. Sedangkan McCain adalah Pahlawan Perang AS yang cacat kaki akibat pertempuran dan pensiun dari militer pada tahun 1981. Tahun 1982 McCain terpilih menjadi anggota DPR selama 2 periode – satu periode satu tahun.

Ketidak-harmonisan hubungan John McCain dan Donald Trump – kendati berasal dari partai yang sama – kerap kali muncul ke permukaan. Sebut saja pemberitaan CNN pada tanggal 8 Mei 2018 dengan judul “John McCain Berhak Membenci Donald Trump”.  Meskipun tidak semua politisi Grand Old Party (GOP) alias Partai Republik setuju dengan McCain namun hampir semua Republikan sepakat, loyalitasnya kepada AS dan Partai Republik tak perlu diragukan lagi.

Reputasi McCain yang dikenal bersih membawanya dipilih oleh partainya melawan calon dari Partai Demokrat – Barrack Obama. Kala itu popularitas Obama meroket dan mampu menghipnotis pemilih dari beragam ras di AS sehingga bilik suara dijadikan sebagai moment of truth untuk perubahan. McCain yang memiliki rekam jejak bagus – dan sebenarnya tidak begitu disukai kalangan ultra kanan – diharapkan dapat mengimbangi suara Obama.

Selama menjadi senator, setidaknya McCain memiliki keberanian mengekspresikan pendapat politiknya meskipun itu berseberangan dengan rekan-rekannya di GOP. Selama pemerintahan George W Bush – McCain yang kalah melawan Bush dalam Konvensi Capres AS dari Partai Republik – menyerukan reformasi dana kampanye. Banyak Republikan lainnya menganggap usulannya sebagai sikap cengeng karena gagal menghimpun dana dari donatur besar (Super PAC). Namun pada akhirnya publik AS tahu apa yang dilakukan McCain adalah untuk memperbaiki sistem pemilihan di AS yang dianggapnya rusak.

Orang-orang di sekitar Trump menganggap McCain sebagai kerikil dalam sepatu. Pernyataan-pernyataannya kerap membuat tidak nyaman. Secara tidak sadar – di lingkungan politisi Republik yang bekerja di Gedung Putih – McCain dianggap musuh. Sikap hormat mereka kepada Pahlawan AS yang mengabdikan hidupnya untuk AS seketika sirna oleh kepentingan politik, sekedar membela maneuver politik bosnya yang juga tidak selalu benar.

Maka saat Kelly Sadler ditanya tentang bagaimana tanggapannya atas McCain yang terbaring sakit, Sadler pun menjawab, “tidak apa-apa, sebentar lagi juga mati.” Pernyataan kurang ajar dari mantan kolumnis sebuah media – yang tentu saja tidak sekelas the Washington Post atau the New York Times – itu membuat heboh public AS.

Kelly Sadler yang mengolok-olok McCain yang terbaring sakit dengan diagnose kanker otak – terhitung sejak 6 Juni 2018 ini – tidak lagi bekerja di Gedung Putih. “Kelly Sadler tidak lagi bekerja di Kantor Eksekutif Presiden,” terang Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Raj Shah sebagaimana dikutip dari pemberitaan CNN pagi tadi.

Sikap Ambigu

Namun Gedung Putih bersikap ambigu dengan menolak mengutuk Sadler atas komentarnya tentang suara McCain dalam pemilihan calon Direktur Central Intelligent of America (CIA) Gina Haspel tidak menjadi masalah karena “dia mati pula”. Gedung Putih tidak menyangkal, stafnya membuat pernyataan itu dan menganggap pernyataan itu tidak ada sekaligus memuji McCain yang hingga kini menyabung maut melawan kanker otak yang dideritanya.

Hingga kini McCain yang biasa rajin itu belum kembali ke Capitol Hill. Lelaki 81 tahun itu masih menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Arizona, dekat tempat tinggalnya.

Meskipun sejumlah senator Republik tidak merasa terganggu atas komentar Sadler, namun istri sang Senator – Cindy McCain – marah besar. Kemarahan ini memicu kehebohan di antara anggota parlemen – antara yang menghamba kepada Donald Trump dan yang masih bepegang teguh kepada nilai-nilai Partai Republik.

Cindy McCain – dalam sebuah posting di Twitter yang ditujukan kepada Sadler – berkata, “Bolehkah saya mengingatkan Anda, suami saya memiliki keluarga, 7 anak dan 5 cucu.” Cuitan Cindy dibalas “No comment,” oleh Senator Jeff Flake yang juga berasal dari Partai Republik mewakili negara bagian Arizona.

“Orang-orang bertanya kapan kesopanan akan mencapai titik terendah dengan pemerintahan ini. Itu terjadi kemarin,” ulas mantan Wakil Presiden AS Joe Biden yang mendampingi Obama mengalahkan John McCain pada Pemilu Presiden AS 2008.

Putri McCain – Meghan McCain – turut menimpali perdebatan di Twitter ini. Bahkan Meghan mengecam Gedung Putih karena telah mempekerjakan perempuan seperti Sadler. “Saya tidak mengerti lingkungan seperti apa tempat Anda bekerja sehingga (orang seperti ) Anda tetap diterima dan memiliki pekerjaan,” ujar Meghan pada acara televisi ABC “The View”.

“Warisan ayahku akan dibicarakan selama ratusan dan ratusan tahun lagi. Sedangkan orang-orang ini bukan siapa-siapa. Tak seorang pun akan mengingatnya,”tandas Meghan.

Namun sebagaimana dilaporkan The New York Times pada Selasa (5/6) malam, bukan karena bersikap kurang ajar kepada senator senior dengan segudang reputasi itu Sadler dipecat dari Gedung Putih. Melainkan dipaksa mencabut laporannya kepada Presiden Trump yang menuding Mercedes Schlapp – direktur komunikasi strategis Gedung Putih – telah membocorkan kepada pers.

Perseteruan di antara keduanya sedemikian akut sehingga keduanya tidak bisa bekerja di ruangan yang sama, tulis The Times.

Pertahanan Trump

Tapi benarkah hanya karena perseteruan di antara karyawan yang mendorong pemecatan terhadap Sadler? Karena biar bagaimana pun, meskipun McCain banyak tidak disukai oleh senator Republik bukan berarti politisi senior itu tanpa pengaruh di partainya. Mundurnya ketua DPR dari pencalonan November sebagai bukti Trump tidak sepenuhnya dicintai anggota parlemen dari GOP.

Partai Republik memang masih menguasai Senat dan DPR AS. Di antara 100 anggota Senat AS, Republik masih menguasai 51 kursi – termasuk John McCain – dan Demokrat 47 dan 2 lainnya dari calon perseorangan. Apabila 10 anggota Senat Republik saja yang bersimpati kepada McCain maka pemakzulan kepada Trump secara subyektif hanya menghitung waktu.

Sedangkan faktor obyektifnya kini Trump menghadapi penyelidikan Mueller atas dugaan skandal mata-mata Rusia. Selama ini Senat mayoritas – GOP – masih bisa mengganjal setidaknya secara prosedural terhadap proses dan hasil penyelidikan Robert Mueller karena masih solid. Tapi kalau soliditas itu terkoyak oleh pernyataan Sadler terhadap John McCain tentunya akan menjadi masalah besar bagi Trump.

Oleh karenanya pula, jurnalis dan kolumnis senior “the Washington Time” itu dipecat dari Gedung Putih. Karena soliditas Partai Republik adalah pertahanan terakhir Donald Trump untuk menghadapi penyelidikan Penasehat Khusus Robert Mueller yang memasuki kesimpulan akhir []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here