Hindari Dampak Buruk bagi Sesama Muslim, Turki Mulai Mediasi Krisis Qatar

0
105
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu setelah berkunjung ke Qatar lalu ke Kuwait, Kamis (15/6). Foto: Reuters

Nusantara.news, Doha – Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya, serta Mesir harus membuktikan bahwa Qatar sejauh ini terlibat dalam pendanaan gerakan terorisme di Timur Tengah—tudingan yang sudah beberapa kali dibantah oleh Qatar—, sebab Qatar sendiri telah menunjukkan komitmen dalam mendukung upaya pemberantasan terorisme. Salah satunya dengan membeli jet tempur F-15 seharga USD 12 miliar dari Amerika Serikat, negara yang konon ingin memimpin pemberantasan terorisme di dunia.

Menteri Pertahanan Qatar Khalid bin Mohammed Al-Attiyah dan menteri pertahanan AS James Mattis menandatangani kesepakatan pembelian alutsista tersebut di Washington, DC pada pada Kamis (15/6).

Sebagaimana dikutip Al Jazeera, Al-Attiyah mengatakan, bahwa kesepakatan tersebut menggarisbawahi komitmen (Qatar) untuk meningkatkan kerja sama militer sebagai kolaborasi strategis dalam melawan ekstremisme (terorisme).

Bagaimanapun tuding menuding soal pendanaan terhadap terorisme antara pemerintah negara-negara Teluk dengan Qatar, yang berujung pemutusan hubungan diplomatik, telah membawa kesusahan bagi warga masyarakat. Tidak saja warga Qatar, tapi juga warga negara-negara Teluk yang terlibat, seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, bahkan warga Arab Saudi.

Laporan yang dikumpulkan Komnas HAM negara Qatar dan lembaga Amnesti Internasional menunjukkan bahwa warga negara campuran yang tinggal di Qatar telah menjadi korban krisis diplomatik tersebut. Disebutkan ada warga Saudi yang meninggal di rumah sakit di Qatar, tapi anaknya di Saudi tidak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya karena tercegah. Ada pula perempuan Qatar yang menikah dengan pria Bahrain dan sudah pindah rumah ke Bahrain terancam tidak bisa lagi menemui keluarganya di tanah kelahirannya. Ada pula pelajar dari Qatar di Uni Emirat Arab yang dipulangkan ke negaranya menjelang ujian akhir. Baca: Ongkos Kemanusiaan dari Krisis Qatar

Menghindari dampak kemanusiaan yang lebih buruk, terutama bagi sesama negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, Turki, negara yang punya sejarah panjang kekhalifahan Islam (Turki Utsmani), berupaya melakukan mediasi untuk mengakhiri krisis di antara negara-negara Teluk.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa isolasi terhadap Qatar adalah tidak manusiawi dan berlawanan dengan nilai-nilai Islam.

“Mengisolasi warga sebuah bangsa—dari makanan hingga perjalanan mereka, dari perdagangan hingga (ritual) agama mereka—adalah tidak manusiawi dan berlawanan dengan nilai-nilai Islami,” kata Erdogan dalam pidato kepada para anggota parlemen dari partai pimpinannya, Partai AK, Selasa lalu di ibu kota Ankara, sebagaimana dikutip BBC.

Setelah Kuwait, Turki termasuk yang paling aktif melakukan upaya mediasi dan juga paling keras mengkritik apa yang tengah terjadi di antara negara-negara Islam tersebut.

Menteri luar negeri Turki, Mevlut Cavusoglu saat ini, Kamis (15/6) tengah berada di Kuwait setelah mengunjungi Qatar dalam rangka melakukan upaya memperbaiki hubungan antara Doha dan blok negara-negara Teluk yang dipimpin Arab Saudi.

Cavusoglu mengatakan, sebagaimana dikutip Al Jazeera, dia mungkin akan pergi ke Arab Saudi setelah dari Kuwait.

Berbicara di ibukota Qatar, Doha, pada hari Rabu (14/6), Cavusoglu meminta para pihak menyelesaikan perbedaan mereka “melalui perdamaian dan dialog”.

Kunjungan Menlu Qatar tersebut menindaklanjuti imbauan presiden Turki agar negara-negara Teluk itu segera berdialog. Ini setelah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain dan sejumlah negara lainnya memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pekan lalu, menuduh Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris bersenjata dan Iran. Sementara Qatar menolak tuduhan tersebut.

Arab Saudi menutup perbatasannya dengan Qatar, satu-satunya perbatasan darat yang dimiliki negara kecil itu. Selain itu, Qatar juga mengalami penutupan wilayah udara ke Saudi, Bahrain dan UEA yang menyebabkan gangguan bagi transportasi impor, padahal Qatar sangat bergantung pada impor.

Segera adakan dialog damai

Dalam kunjungan singkatnya ke Doha, Cavusoglu bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dan Menteri Ekonomi dan Perdagangan Sheikh Ahmed bin Jassim Al Thani.

Cavusoglu mengatakan bahwa Turki berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki hubungan antara Qatar dan tiga negara anggota Dewan Kerja sama Teluk (GCC) dan negara-negara lain yang melakukan pemutusan hubungan diplomatik terhadap Qatar.

“Kami tidak ingin ada perbedaan antara saudara kami di negara-negara GCC,” katanya kepada Qatar News Agency (QNA).

Dalam sebuah pernyataan terpisah, dia mengatakan kepada Badan Anadolu milik negara Turki, “Situasi yang telah kita alami di bulan Ramadan ini benar-benar tidak kita hendaki. Ada krisis antara negara-negara saudara dan ada beberapa keputusan yang secara langsung mempengaruhi warganya. Kita harus mengatasinya melalui perdamaian dan dialog,” kata Cavusoglu.

Sementara itu, pemimpin Qatar juga menyatakan penghargaan atas dukungan Turki dalam upayanya mengatasi krisis tersebut.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang telah dengan keras menggambarkan pemutusan hubungan diplomatik terhadap negara Qatar sebagai “tidak manusiawi” dan “tidak islami”, direncanakan akan mengadakan pembicaraan telepon dengan Presiden AS Donald Trump beberapa hari mendatang, demikian menurut pejabat Turki sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.

Juru bicara Erdogan, Ibrahim Kalin mengatakan pada Rabu kemarin bahwa sebuah pertemuan trilateral antara Ankara (Turki), Paris (Prancis) dan Doha (Qatar) juga tengah direncanakan.

Rencana ini kemungkinan terkait dengan kunjungan presiden Prancis Emmanuel Macron hari ini (Kamis, 15/6) ke Maroko.

“Raja Maroko berbagi perhatian dengan kami: Prancis ingin melihat negara-negara tersebut berbicara lagi dan agar Teluk tetap stabil, paling tidak karena negara-negara ini adalah pemangku kepentingan dalam krisis di Suriah dan Libya,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron di Maroko.

Di samping upaya dialog menyeluruh untuk menyudahi krisis diplomatik di kawasan Teluk, upaya-upaya lain yang bersifat sektoral juga tengah dilakukan. Misalnya, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengawasi perjalanan udara global telah menerima keluhan dari Qatar tentang negara-negara yang memotong rute terbang untuk maskapai penerbangan jarak jauh, Qatar Airways. Pemotongan jalur tersebut dinilainya telah mengganggu perjalanan udara global dan mengancam pendapatan maskapai tersebut.

Organisasi yang berbasis di Montreal itu akan melakukan pembicaraan dengan para menteri dan pejabat senior dari Qatar, UEA, Arab Saudi, Bahrain dan Mesir di kantor pusatnya di Montreal. Perundingan akan mencari solusi berbasis konsensus yang membahas masalah regional saat ini.

Dari sisi kemanusiaan, krisis diplomatik Qatar berekses tidak saja kepada warga negara Qatar yang mengalami isolasi, tapi juga kepada sejumlah orang di Bahrain, Uni Emirat Arab, bahkan di Saudi Arabia. Qatar sebuah negara kecil yang berhimpitan dengan negara-negara tersebut, apalagi sama-sama warga Arab dan Muslim. Tentu saja hubungan persaudaraan, perkawinan, pertemanan, perniagaan, diantara warga negara-negara itu telah terjalin erat dan berlangsung lama. Tapi tiba-tiba harus putus silaturahmi, mereka sebetulnya sama-sama menjadi korban kebijakan negaranya. Sebab itu, betul kata Presiden Turki, ini harus diakhiri, sebab tidak manusiawi dan tidak islami. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here