13 Tahun Melanglang di Eropa Konser “Perjuangan Kemerdekaan”

Hitler Kagum dengan Konser Biola Abubakar di Wina

1
301
Konservatorium Wina, Austria.

Nusantara.news, Jakarta – Pertemua saya dengan Violis Abubakar Mahdar ketika saya mengunjungi rumahnya di pinggir jalan Tajur, Bogor, Jawa Barat, pada 1987.  Di tempat tinggalnya yang sangat sederhana itu, lelaki yang di hari tuanya hidup menyendiri ini berkisah dan mengungkapkan sejarah perjalanan hidup serta pengalaman  musiknya, khususnya dalam konser biola selama 13 tahun di daratan Eropa.

30 tahun yang lalu, saat saya bertemu dengannya, usianya sudah mencapai 79 tahun. Kunjungan saya ke rumahnya waktu itu, ternyata membuatnya ingin berbagi cerita.

Dia  mengeluarkan biola tua merek “Johan Gottlob Ficker”  buatan tahun 1778, buah tangan  Adolf Sprenger. Biola belum lagi digesek, posisi jemari kiri yang biasanya sebagai penekan grip, justru berpindah maju-mundur hingga mengeluarkan sebuah lagu. Sungguh luar biasa permainan pria ini.

Ada pengalaman menarik yang dituturkannya saat ia konser di Wina, Austria. Seusai konser, Adolf Hitler yang turut hadir menyaksikan gesekan biolanya segera  menghampiri  Abubakar dan menyalaminya, diiringi beberapa dialog singkat seperti di bawah ini.

Sind Sie aus Japan?” tanya Adolf Hitler, sang Fuhrer itu.

(Apakah Anda dari Jepang?)

Nein, Ich bin aus Jawa!” jawab Abubakar Mahdar.

(Bukan. Saya dari Jawa).

Wo haben Sie Studiert?” tanya Hitler lagi.

(Di mana Anda belajar?)

Ich habe in Wien Studiert,” jawab Abubakar.

(Saya belajar di Wina)

Wissen Sie das ich auch aus Wien gekommen bin?” Hitler menjelaskan dirinya.

(Tahukah Anda, saya pun berasal dari Wina?)

Wasfur eine geige haben Sie?” kembali Sang Fuhrer itu bertanya.

(Jenis/buatan mana biola yang Anda miliki?)

Ich habe eine schone Deutsche geige,” jawab Abubakar.

(Ini buatan Jerman)

Oh, Ich freue mich…!” kata Hitler gembira.

(Oh, saya senang sekali!).

Percakapan antara Adolf Hitler dengan Abubakar Mahdar itu terjadi pada 1938, setelah ia menyelesaikan konser besarnya di Wina, yang disaksikan sendiri oleh sang Fuhrer itu. Seusai konser, Hitler yang terkagum-kagum dengan gesekan biola Abubakar segera menyalaminya. Namun, tatkala Hitler memohon main untuk kedua kalinya di Jerman, Abubakar menolaknya dengan halus. Alasannya, karena panitia yang menjanjikan untuk bermain di ruang opera ingkar janji. Abubakar malah diminta bermain di atas pentas terbuka.

Atas penolakan itu, Hitler malah berkata, ”Dia benar-benar mematuhi hukum yang berlaku. Sungguh pun ia menolak, tapi saya sangat mengagumi dan menghargainya sebagai orang Asia yang pernah duduk di orkestra besar. Dan dia telah berbicara pada saya dengan bahasa Jerman dengan baik di Wina. Saya sangat mengagumi permainan biolanya…!”

Siapakah Abubakar Mahdar?

Menurut penuturannya, Tengku Abubakar Mahdar pernah bermukim di kawasan Tosari, dekat Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.  Idris Sardi, sang maestro biola Indonesia, dulu, kata Abubakar, pernah belajar biola darinya.

Saya bisa sampai ke rumah Abubakar di Tajur, Bogor karena diantar oleh ayah saya yang juga pernah jadi muridnya dalam kursus bahasa Inggris. Hingga semasa tuanya pun, dia tetap membuka kursus bahasa Inggris. Itu terlihat di depan rumahnya terpampang tulisan “Kursus Bahasa Inggris Berlitz”.  Berlitz adalah “kromo inggilnya” bahasa Inggris di negara kerajaan itu.

Hidup dalam kesendirian, dia hanya ditemani seorang anak tukang Koran yang menjadi anak angkatnya, namanya Sudirman. Sudirman inilah yang setia melayani Abubakar jika harus berurusan ke luar rumah belanja kebutuhan sehari-hari.

Di ruang tamunya yang sempit hanya tergantung beberapa foto kenangan masa lalunya, dan beberapa cinderamata tua serta patung kecil Ludwig van Beethoven, komposer dan musisi klasik asal Jerman yang ternama itu. Dengan usianya yang selanjut itu, ingatan Abubakar tergolong tajam ketika menceritakan pengalaman hidupnya melalang buana ke Eropa selama belasan tahun.

Foto Iskandar Bakri (repro)

Meski sudah lanjut usia, di era 80-an, dia masih sering mondar-mandir Bogor –Jakarta dengan menggunakan kereta Jabotabek. Dengan rambut putihnya yang panjang menjuntai, mengenakan baju batik lengan panjang, orang di sekitarnya tak akan pernah mengira bahwa pak tua ini adalah seorang maestro biola di zamannya. Bukan hanya musik, ternyata Abubakar juga menguasai beberapa bahasa dunia. Selain Inggris (Berlitz), ia juga fasih dalam Bahasa Jerman, Perancis, Arab dan lainnya.

Lelaki yang nama lengkapnya Tengku Syed Abubakar Mahdar ini dilahirkan di Tanjung Pura Langkat, Sumatera Timur, pada 1910, sebagai putra tertua Tengku Ngah Syed Mahdar, yang termasuk keluarga Sultan Siak. Sudah sejak kecil ketika berusia 8 tahun, Abubakar yang diasuh di kalangan istana kesultanan Siak, sudah menonjol bakat musiknya. Ketika menjelang dewasa, dia pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Filipina. Di sana, ia memperdalam pengetahuan musiknya di Konservatori Musik Universitas Filipina di Manila selama 3 tahun.

“Ada rasa kecewa saya belajar di Filipina, sebab gurunya tak mampu mengajarkan saya dengan baik, terutama soal bahasa. Saat itu, banyak yang tak becus menguasai bahasa dunia,” tutur Abubakar.

Namun, justru di negeri itulah untuk pertama kalinya Abubakar menggelar konser biolanya yang disaksikan publik dari luar negeri. Bahkan, yang lebih menggembirakan saat itu, konsernya dihadiri langsung oleh tamu kehormatan, Presiden Filipina Manuel Quezon.

Pada 1938, sebelum ia melanjutkan pelajarannya pada Profesor Gottilied di Staats Akademis Fur Musik di Wina, Abubakar sempat menggelar lagi konser biolanya di Istana Sultan Langkat, Sumatera Timur. Saat itu, pianis Lie Mie Tjong, putrinya Tjong Apie – taipan terkenal di Medan – turut mengiringi pagelaran konser biolanya.

“Anda tahu Amir Hamzah? Nah, sang penyair itu adalah sepupu saya. Dia itulah yang bertindak sebagai master of ceremony-nya,” kata Abubakar bersemangat. Juga ia menambahkan bahwa Tengku Taufik pun termasuk sepupunya.

Gubernur Jenderal Belanda, Konsul Inggris dan beberapa diplomat negara lainnya berdecak kagum menyaksikan gesekan biola Abubakar yang digelar di Istana Langkat. “Ini benar-benar konser bersejarah bagi putra Asia!” ujar Gubernur Jenderal Belanda.

Menurut penjelasan Abubakar, kekaguman mereka memang bisa dimaklumi, sebab bangsa Belanda yang selama 350 tahun menjajah, dan orang Inggris pun jarang yang mampu mengumandangkan symphony ESpagnole ciptaan Lalo, dan Ronde des Lutins gubahan Bazzini yang merupakan lagu-lagu tersulit di dunia. “semua itu dapat saya mainkan di luar kepala,” tuturnya dengan bangga mengenang masa lalunya.

Mahaguru musik Prof. Albert malah menilai Tengku Abubakar dengan kata-kata,”Selama yang saya ketahui, Andalah anak Asia yang pertama mengumandangkan Symphony Espagnole dan Ronde des Lutins di Eropa,” tutur Abubakar menirukan pernyataan Albert.

Dalam debut gesekan biolannya, Abubakar pernah mengagumi orang Asia bernama Arnesco Valejo, pimpinan akdemi musik di Universitas Filipina. Menurut Abubakar, Arnesco-lah orang Asia pertama yang mengumandangkan Symphony Espagnole di Gedung Putih, AS, pada 1934, dan dia menerima hadiah biola tua Carlo Bergonsi buatan Cremona, Italia 1868. Tetapi, sayang  nasibnya Arnesco Valejo violis yang mendapat gelar Violis Virtuoso Filipina itu akhirnya mati ditembak Jepang karena ia menolak permintaan penjajah Jepang untuk menggelar sebuah konser besar.

Abubakar menceritakan pula masa lalunya ketika dipanggil Bung Karno yang mengundangnya ke Istana Merdeka lewat pelukis Djuprini. “Tapi, terus terang saya tolak waktu itu. Apa sebabnya? Karena dia mengundang saya secara lisan!” tandasnya. Ketika Djuprini mengadukan perihal penolakan itu, Bung Karno malah menjawab,”Bagus. Dialah orang besar yang jujur! Kalau orang lain belum dipanggil saya, sudah datang, tapi dia malah sebaliknya. Benar-benar orang jujur!”

Selama 13 tahun Abubakar melalangbuana ke Eropa sambil menggelar beberapa konser besar. Dia mengaku sempat bertemu dan berguru dengan beberapa mahaguru musik dunia seperti Prof. Albert, Ernerco Valejo, Carl Flesch dan Cortot murid terakhir Frédéric Chopin, komposer dan pianis era Romantik yang masyur itu. Juga Emile Sauer, murid terakhir Franz Litz. Abubakar sendiri pernah menjadi mahaguru di Konservatori Internasional di Paris dan sebagai Concert Master ke-2 di Budapest, Hongaria. Rupanya, selain sebagai violis, Abubakar pun menguasai beberapa alat musik lainnya, seperti cello, gitar klasik, flute serta piano.

Semasa perjuangan nasional, Abubakar ikut pula mempromosikan kemerdekaan Indonesia lewat jalur-jalur konser besar di daratan Eropa. Bersama kawan-kawan seperjuangannya, ia membentuk panduan suara untuk mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Itu terjadi ketika rombongan delegasi Dr. Soedarsnono tiba di sana dan disambut oleh Prof. WF. Wertheim dari Universitas Leiden yang mendukung usaha-usaha tersebut.

Abubakar kembali ke tanah air pada 1949. Di rumah Menteri Luar negeri Achmad Soebardjo, Abubakar menggelar permainan biolanya lagi. Sahabat-sahabat Abubakar seperti Dr. Bahder Djohan, Dr. Lumban Tobing, Jenderal TB Simatupang dan yang lainnya sempat terkagum-kagum melihatnya. Setia Budi (Douwes Dekker) ketika tinggal di Den Haag, Belanda, bersama-sama dengan Abubakar pada 1940, pernah menangis mendengar lagu Bengawan Solo lewat alunan biolanya.

Merek biola milik Abubakar cukup antik, Johann Gottlob Ficker buatan tahun 1778. Stok biola ini merupakan buah tangan Adolf Sprenger yang sangat bergengsi waktu itu. George Enesco dan Carl Flesch adalah dua raksasa biola yang pernah mengomentari biola milik Abubakar yang katanya mirip Il Cannon milik Nikolo Paganini sang maestro asal Italia yang mendapat julukan “Setan Biola” itu.

Hidup sendirian tanpa istri dan anak, Abubakar, ketika saya temui 30 tahun lalu di rumahnya, hanya ditemani barang-barang kuno dan antik, seperti piano, cello, gitar, biola, dan lainnya. Beberapa anak yang pernah menjadi anak angkatnya, rata-rata bisa menguasai beberapa bahasa

Abubakar pun saat itu berkesempatan mengutarakan uneg-unegnya soal warisan dari orang tuanya. Ia mengaku warisan tanah dan kebun miliknya masih berada di Johor, Malaysia. Katanya, lahan seluas 220 Ha itu sudah diperjualbelikan oleh para mafia tanah di negeri itu.

Kebun itu, katanya, merupakan warisan ayahnya, almarhum Tengku Ngah Syed Mahdar. “Tanah saya di Johor kini sudah berubah menjadi kota,” tuturnya. Pernah Abubakar meminta haknya diselesaikan oleh pemerintah Malaysia. Menurutnya, seluruh berkas warisannya pernah dibaca oleh Prof. Dr. Hamka, Habib Ali Al Habsy (Kwitang),  Abubakar Aceh, dan Prof. Salim Fachry (dulu Rektor IAIN).

Abubakar mengungkapkan, waktu itu menurut Hamka dan Habib Ali, segala penjualan harta warisan menjadi tidak sah menurut hukum Islam dan negara. “Karena warisan saya dijual oleh orang-orang yang tidak berhak,” ujarnya berapi-api. Dia melanjutkan, warisan tanahnya di Johor pertama dibeli oleh tukang tadah, kedua kalinya dibeli oleh orang Yahudi, ketiga kalinya dibeli oleh Pemerintah Malaysia.

Ia bercita-cita, jika tanahnya yang seluas 220 ha itu bisa kembali kepadanya, hasil penjualannya yang diperkirakan sekitar Rp1,7 milyar (tahun 1987) itu, disumbangkan kepada beberapa panti yatim piatu, mendirikan masjid, dan mendirikan perguruan musik “Abubakar”.

Namun sayang, belum sempat ia menyelesaikan soal warisannya itu, Abubakar Mahdar telah meninggal dunia, beberapa tahun setelah pertemuannya dengan saya. Kabar itu saya dengar di tahun 2001. Sayangnya, saya tidak mendengar informasi mengenai wafatnya.

Yang menjadi penasaran saya hingga saat ini, kepada siapakah dia mewarisi bakatnya yang luar biasa itu, dan siapakah penerima warisan biola Johan gottlob Ficker buatan tahun 1778 buah tangan Adolf Sprenger yang dahsyat itu? Mungkin perlu waktu untuk investigasi lebih lanjut.

Selamat jalan, Pak Abubakar. Walau namamu tidak seharum pejuang kemerdekaan lainnya, tapi tinta sejarah takkan pernah kering menggores namamu sebagai penggesek biola putra Indonesia yang pernah menggetarkan berbagai konservatorium ternama di dunia. []

1 KOMENTAR

  1. Tulisan sejarah yang luar biasa, bisa mengungkap kebanggaan putra negeri ini……keren brader Iskandar….mungkin harus lebih banyak tulisan untuk ungkapan fakta sejarah masa lalu yang dapat membuat bangga anak bangsa….

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here