Hitler, Mein Kampf dan Sisi Lain Seorang Diktator

0
208

Nusantara.news, Jakarta – Membaca Mein Kampf, sebagaimana kata Otto Tolischus (jurnalis New York Times), seperti membaca 10 persen autobiografi, 90 persen dogma, dan 100 persen propaganda yang mengagetkan. Namun bagi saya, membaca Mein Kampf justru serasa mendengarkan Hitler berpidato atau seperti mendengarkan pembicaraan panjang Hitler tentang masa mudanya, saat-saat awal di partai Nazi, rencana masa depan untuk Jerman, dan ide tentang politik dan ras.

Mein Kampf ditulis oleh seorang siswa miskin yang terpaksa putus sekolah, mantan pelukis jalanan dan gelandangan kota Vienna yang tiba-tiba menjadi pahlawan Perang Dunia I, atau lebih tepatnya seorang kopral yang mendapat bintang kehormatan Ritter Kreuz (Salib Besi) di Jerman. Kopral itu tiada lain bernama Adolf Hitler.

Buku ini dianggap paling berbahaya dan kontroversial, utamanya oleh Barat, sehingga pasca-Perang Dunia II buku ini diawasi secara ketat. Di Indonesia, buku ini dilarang peredarannya oleh pemerintah Orde Baru, seperti juga buku-buku Marxis dan pemikiran Islam revolusioner. Namun pascareformasi, buku-buku tersebut sudah bisa dijumpai di toko-toko buku, bahkan perpustakaan.

Buku Mein Kampf (Perjuanganku) merupakan hasil buah karya yg memiliki andil besar dalam mengubah peta politik serta sejarah dunia pada abad ke-20. Buku ini ditulis Hitler ketika dirinya dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah Jerman yang berkuasa waktu itu. Hitler dipenjara karena dakwaan atas ikut andilnya dalam pemberontakan yang direncanakan dan pada akhirnya mengalami kegagalan.

Selama 13 bulan Hitler di dalam penjara, ia menuangkan gagasan-gagasan yang semula diberi judul A Four One-Half Year Struggle Against Lies, Stupidity, And Cowardice atau Perjuangan Empat Setengah Tahun Melawan Kebohongan, Kebodohan, dan Kepengecutan. Tetapi penerbit buku ini menyingkat judulnya menjadi “Perjuanganku” (Mein Kampf).

Di masa-masa kelam itulah, salah satu inspirasi kejam mulai merasuki diri Hitler muda. Kekecewaan karena gagal melanjutkan sekolah seni dan tidak bisa masuk arsitektur, ditambah dengan meninggalnya sang Ibunda yang ia cintai tahun 1908, ia mulai marah dengan lingkungan sekitarnya. Hitler mulai membenci Yahudi ketika ia jatuh miskin di Vienna. Ia menyalahkan tatanan sosial di Ibukota Austria, yang barangkali waktu itu secara notabene adalah ibu kota negara berkebangsaan Jerman terbesar, porak-poranda akibat kesalahan Yahudi.

Ia mengganggap bahwa Yahudi adalah kaum yang tidak nasionalis, hanya memikirkan untungnya sendiri, dan tidak pernah merasa berkewajiban untuk mengikuti segala kewajiban warga negara. Yang lebih parah dari itu, Hitler juga menyebutkan bahwa Yahudi telah menggerogoti inti dari kebangsaan Jerman, antara lain dengan adanya perkawinan campuran, sehingga bangsa asli Jerman tidak dapat lagi dibedakan secara jelas. Ia sangat membenci percampuran ras. Ras, dalam pandangan Hitler, harus disegregasi berdasarkan “derajatnya”.

Dalam bukunya yang setebal 744 ini, Hitler membedakan manusia dalam kategori berdasarkan penampilan fisik, menetapkan urutan tertinggi dan terendah, atau jenis-jenis manusia. Di posisi atas, menurut Hitler, adalah orang Jerman dengan kulit bersih, rambut pirang dan mata biru. Hitler menyebut jenis manusia ini sebagai ras Arya. Dia menyatakan bahwa Arya adalah bentuk tertinggi manusia, atau ras master. Sedangkan di posisi ras paling rendah, yang disebut Untermenschen, Hitler memberikan posisi ini pada orang-orang Yahudi dan Slavia, khususnya orang Ceko, Polandia, dan Rusia.

Hitler kemudian menggambarkan perjuangan untuk menguasai dunia sebagai pertempuran antar-ras, budaya, dan politik antara Arya dan Yahudi. Dia menguraikan pikirannya secara rinci, menuduh orang Yahudi melakukan konspirasi internasional untuk mengendalikan keuangan dunia, mengendalikan pers, menciptakan demokrasi liberal layaknya Marxisme, mempromosikan prostitusi, dan menggunakan budaya untuk menyebarkan ketidakharmonisan.

Tak lama setelah berkuasa, Hitler segera menerapkan teori itu dengan tangan besi. Orang-orang Yahudi, orang-orang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan dikumpulkan dalam ‘pusat sterilisasi’ khusus. Karena dianggap parasit yang mengancam kemurnian rakyat Jerman dan menghambat kemajuan evolusi, maka atas perintah rahasianya, dalam waktu singkat mereka semua dibabat habis.

Hitler bersama Partai Nazi juga menghimbau muda-mudi berambut pirang bermata biru yang diyakini mewakili ras murni Jerman bebas berhubungan seks tanpa harus menikah. Pada 1935, Hitler memerintahkan didirikannya ladang-ladang khusus reproduksi manusia. Di dalamnya tinggal para wanita muda yang memiliki ras Arya. Para perwira SS (Schutzstaffel) sering mampir ke sana untuk mesum dengan dalih eugenetika (memperbaiki ras). Para bayi yang lahir kemudian disiapkan menjadi prajurit masa depan ‘Imperium Jerman’.

Atas tindakan politik dan pemikirannya, berbagai penilaian diberikan oleh para pengamat, sejawat, dan orang-orang yang pernah berada di lingkaran terdalamnya. Ada yang menyebutnya sebagai nasionalis sejati, orator yang sanggup mempengaruhi orang, penjahat perang yang sadis, psikopat. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pemimpin agung serta pemimpin yang lembut dan leman yang kebapakan. Profilnya amat variatif.

Namun terlepas dari itu semua, kita bisa memetik percik positf dalam diri Hitler. Semangat perjuangan hidup Hitler dari warga kelas buangan yang sering diejek teman sekolahnya karena berpostur pendek dan kurus, kemudian menjadi tokoh berpengaruh di puncak kepemimpinan politik Jerman.

Di samping itu, pemikiran patriotik Hitler memberikan isyarat bahwa sebuah bangsa akan maju jika digerakkan dengan siasat yang visioner dan mampu melawan segala bentuk hegemoni bangsa asing. Hal ini tentu terlepas dari ekses negatifnya yang mewujud pada kediktatoran pemerintahan Hitler yang berwatak fasis serta adanya peristiwa Holocaust (pembantaian ras Yahudi) yang dilakukan partai Nazi.

Kita juga bisa mengintip sisi lain kehidupan Hitler sebagai manusia biasa, seperti tercatat di dalam Mein Kampf. Ya, Hitler adalah Hitler, dan barangkali dia adalah salah satu manusia yang paling tidak mempunyai kesabaran di dunia ini. Ia jatuh miskin dan seluruh uang warisan sang ayah habis digunakan. Namun satu hal yang pasti, Hitler tidak merokok, minum alkohol, bermain wanita, dan dikenal penyayang anak-anak. Sebuah kebiasaan yang cukup dapat dibanggakan di kala itu.

Itulah Hitler, sejak semula ia memang telah melihat dirinya dari sebuah sisi yang berbeda. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here