Holding BUMN Keuangan, Antara Profesionalisme dan Penugasan

0
219
Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo berencana membentul holding BUMN keuangan untuk meningkatkan daya saing dan meningkatkan value creation.

Nusantara.news, Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebut-sebut tengah menggodok pembentukan enam holding BUMN. Hanya saja prosesnya tak transparan, Menteri BUMN juga alergi datang ke DPR, sehingga rencana holding menyisakan masalah transparansi.

Tak bisa dipungkiri holdingisasi BUMN memang memberikan harapan sekaligus kekhawatiran. Best practice pembentukan holding di dunia selalu menghasilkan output yang optimal, seperti BUMN menjadi lebih profesional, efisien, kompetitif dan pada akhirnya memberikan kesejahteraan rakyat banyak.

Masalahnya kemudian, jika rencana holdingisasi BUMN ini kemudian diboncengi dengan niat menjual saham baik di level holding maupun anak perusahaan, maka sama saja akan memperlemah daya tahan ekonomi nasional.

Kementerian BUMN berjanji menyelesaikan pembentukan holding BUMN keuangan akhir tahun ini. Saat ini, proses pembentukan holding BUMN keuangan sudah dalam tahap finalisasi konsep holding.

“Kami sudah siap. Insyaallah tahun 2017 ini holding BUMN keuangan jadi,” kata Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Jasa Keuangan Gatot Trihargo.

Rencana pembentukan holding BUMN keuangan masih sesuai arahan yaitu PT Danareksa (Persero) sebagai holding yang akan menaungi semua BUMN di bidang jasa keuangan, termasuk perbankan.

Tahap awal, realisasi sinergi BUMN yang dilakukan perbankan adalah sinergi mesin anjungan tunai mandiri (ATM) antara empat bank BUMN. Beberapa mesin ATM bank BUMN sudah menggunakan koneksi jaringan ATM Link sehingga kartu debit jenis bank BUMN dapat digunakan di setiap mesin ATM bank BUMN.

Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan sinergi keuangan, sinergi legal dan sinergi operasional. Sehingga semua langkah tersebut menghasilkan satu sosok holding BUMN keuangan yang kokoh.

Beberapa manfaat holding

Persoalan BUMN selama ini dikenal karena peran gandanya, disatu sisi harus tampil sebagai korporat yang profesional dan transparan. Namun di sisi lain ada penugasan yang mau tidak mau harus ikut menanggung risiko pemberi penugasan, dalam hal ini pemerintah.

Sejauh ini gagasan pembentukan holding BUMN keuangan ditujukan agar anggota holding bisa lebih maju, memberikan nilai tambah (value creation). Pada saat yang sama pembentukan holding itu juga diharapkan bisa meningkatkan daya saing, misalnya bisa menghadapi daya saing Temasek Singapura atau Khazanah Malaysia.

Yang sering digadang-gadang juga bahwa holding BUMN keuangan akan menghasilkan efisiensi dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance—GCG). Dengan demikian BUMN keuangan akan memiliki daya saing global yang lebih tajam.

“Karena ke depan antarbank BUMN bisa menyatukan sistem yang ada di masing-masing bank,” ungkap Ketua Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) yang juga Dirut PT Bank Tabungan Negara Tbk. Maryono beberapa waktu lalu.

Selain itu juga akan terjadi efisiensi dari segi sumber daya manusia (SDM) juga menjadi salah satu aspek yang harus diperhitungkan. Ia mencontohkan dapat dilakukan pelatihan SDM bersama-sama.

“Kalau holding jadinya nanti standarisasinya akan sama. Holding juga bisa kurangi fraud, menurunkan cost of fund. Dengan adanya holding tidak akan rebutan lagi empat bank BUMN karena sudah diatur oleh holding,” kata Maryono.

Hingga pertengahan November 2017, perkembangan holding keuangan masih terus digodok. Salah satunya, PT Danareksa akan ditunjuk sebagai induk holding BUMN keuangan.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Survei, dan Konsultan Kemetrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo mengatakan, untuk Danareksa nanti akan berada pada induk holding.

“Namun, nanti kami akan terus lihat bagaimana regulasinya, sejauh ini kedua anak Danareksa itu akan tetap berada pada Danareksa, holding BUMN keuangan,” ujarnya.

Salah satu success story holding semen yang berhasil adalah PT Semen Indonesia Tbk, sebagai induk dari PT Semen Gresik Tbk, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa dan PT Semen Indarung, menguasai pangsa pasar produk semen nasional sebesar 43%. Bahkan belakangan PT Semen Indonesia telah mengakuisisi 70% saham Thang Long di Vietnam, sehingga menguasai pangsa pasar semen Asia Tenggara sebanyak 45%.

Peluang 4 bank BUMN

Khusus mengenai nasib 4 bank BUMN yang menjadi anchor holding BUMN keuangan, diyakini akan mampu meningkatkan kapitalisasi pasar serta memperkuat struktur perbankan nasional dan kemampuan membiayai proyek infrastruktur.

Kinerja 4 Bank BUMN sampai September 2017 (Sumber: Otoritas Jasa Keuangan)

Emapt bank pelat merah—Mandiri, BRI, BNI dan BTN–saat ini sudah menguasai 41% dari total kredit perbankan. Nilai itu bakal meningkat ketika keempat perbankan tersebut sudah tergabung dalam sebuah holding karena adanya peningkatan value creation.

Jika keempat bank BUMN tersebut digabung maka dapat meningkatkan sinergi lembaga pemerintah yang memiliki usaha sejenis. Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI), tercatat jumlah kredit empat bank persero tersebut pada September 2017 mencapai Rp1.986,30 triliun atau sebesar 40,69% dari total kredit perbankan sebesar Rp4.543,59 triliun.

Sementara total aset keempat perbankan bila digabungkan mencapai Rp2.971,94 triliun, 41,56% dari total aset perbankan nasional Rp7.150,38 triliun.

Terlebih, kemampuan aset empat bank tersebut akan ditambah pula dengan bergabungnya Perum Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dengan Danareksa Sekuritas sebagai Induk usahanya. Penggabungan enam BUMN dalam satu holding akan meningkatkan permodalan dan likuiditas. Selain itu juga dapat meningkatkan efisiensi operasional serta mempermudah akses ke lembaga keuangan internasional.

Persoalannya, status BUMN itu seperti lembaga keuangan pelat merah terbelenggu oleh penugasan pemerintah. Kalau penugasannya bersifat profesional, maka itu positif. Permasalahannya kalau penugasan itu tidak rasional dan bisa merugikan holding BUMN keuangan yang akan dibentuk. Itu masalah.

Sebagai gambaran, lima BUMN konstruksi—Adhi Karya, Waskita, Wika, PP, dan Nindya—dikabarkan kinerjanya merosot lantaran mendapat mandat menopang proyek infrastruktur pemerintah. Bagaimana kalau holding BUMN keuangan itu juga diarahkan untuk menopang proyek infrastruktur pemerintah, apakah nasibnya akan seburuk BUMN konstruksi?

Apalagi kalau sampai holding BUMN keuangan itu akhirnya dijual, dikerjasamakan dengan swasta, atau apa pun istilahnya, yang pada akhirnya mengurangi kontrol pemerintah di holding BUMN tersebut, maka ini bisa menjadi malapetaka.

Karena itu harus dicari cara yang aman dan sehat, agar holding BUMN keuangan bisa seperkasa Temasek Singapura atau Khazanah Malaysia. Dimana pemerintah Singapura dan Malaysia begitu kuat mengontrol, tapi operasionalnya juga sangat profesional.

Sehingga BUMN Singapura dan Malaysia itu kini terus berjaya dengan kinerja yang sangat kuat. Adakah jaminannya?

Kita tahu, Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo beberapa kali diundang DPR menolak untuk hadir, bahkan kabarnya dilarang. Sehingga mendelegasikan Menko Perekonomian Darmin Nasution untuk menggantikan perannya, tapi kemudian diganti oleh Menkeu Sri Mulyani Indrawati. Bahkan terakhir mendelegasikan Menperin Airlangga Hartarto.

Dari sini saja terlihat gelagat yang tidak sehat, ada masalah komunikasi, transparansi serta sasaran pembuatan holding. Wajar kalau kemudian timbul sinisme tentang motif pembentukan holding BUMN, terutama BUMN Keuangan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here