HOS Tjokroaminoto Sang Guru Bangsa

0
1347

Nusantara.news, Jakarta – Apa jadinya Republik Indonesia tanpa Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto? Mungkin sejarah akan ditulis lain. Soekarno, Musso, Semaoen, Dharsono dan SM Kartosoewirjo tidak akan pernah ditulis di sana.

Sebagaimana ditulis sebelumnya (Lihat : Tjokroaminoto Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota), setelah pindah ke Surabaya pada 1907, Tjokro menyewakan sepuluh bilik di rumahnya untuk kos-kosan. Diantara penghuni kos tercatat nama-nama yang kelak mewarnai sejarah Republik Indonesia.

Karena memang, di rumahnya yang sederhana itu, selain menerima tokoh-tokoh pergerakan, Tjokro juga menggembleng wawasan berpikir penghuni kos yang berumur belasan tahun itu agar lebih peduli terhadap nasib bangsanya. Marxisme hanya digunakan sebagai pisau analisis dalam menyikapi penghisapan kapitalisme, namun Islam tetap dijadikan dasar dari perjuangan politiknya.

Semangat zaman yang mewarnai gejolak perubahan dunia ketika itu, selain perjuangan melawan kapitalisme yang dilakukan oleh kaum Sosialis/Komunis di Eropa dan berbagai belahan dunia, juga diwarnai bangkitnya gerakan Pan Islamisme yang digelorakan oleh Muhammad Abdul dan Djalaludin Al-Afghani. Selain itu muncul ide civic nationalism dr. Sun Yan Sen di Cina.

Semangat zaman itu terserap dalam diri Tjokroaminoto yang tercermin dalam tulisannya berjudul “Islam dan Sosialisme”. Maka tidak aneh bila beberapa murid Tjokro selain bergabung ke SI juga sekaligus menjadi anggota Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) yang digagas oleh Henk Sneevliet pada 1914.

Persoalan bertambah pelik saat Komunis Internasional (Komintern) tidak menerima Gerakan Pan Islamisme. SI pun terbelah. SI merah yang berkiblat ke komintern dan SI putih yang berkiblat ke Pan Islamisme. Terjadi pula polemik antara Semaoen dari SI merah dan KH Agus Salim dari SI putih. Musso yang berlatar-belakang pesantren meskipun condong ke SI merah namun tetap menghormati Tjokroaminoto, gurunya.

Tjokro memang pantas disegani. Di tangannya, SI yang semula mewarisi 85 ribu anggota SDI berkembang menjadi 2,5 juta pada 1919. Maka Tjokro pun sangat dihormati, bukan saja oleh murid-muridnya, melainkan juga tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Termasuk dari kalangan Boedi Oetomo dan Indische Partij yang sama-sama berjuang mengangkat harkat-martabat kaum bumi putera.

Tak pelak lagi, Raden Soekemi, seorang guru Eerste Inlandse School, Mojokerto, Jawa Timur, menitipkan anaknya, Soekarno yang berusia 15 tahun mondok di kos-kosannya. Kala itu Soekarno yang baru lulus sekolah Europe Lagere School (ELS) diterima sekolah di Hogere Burger School (HBS) Surabaya.

Keputusan Soekemi ternyata tepat, karena dari rumah kos-kosan di Gang Paneleh VII itu kelak anaknya –bersama Muhammad Hatta tentunya, tercatat sebagai Proklamator Kemerdekaan dan sekaligus Presiden pertama RI. Kemampuan berpidatonya banyak diasah di Gang Paneleh. Kelak Soekarno dikenal sebagai orator ulung yang mampu menggetarkan Sidang Umum PBB.

Soekarno ingat betul kata-kata Tjokroaminoto, untuk menjadi orang hebat kuncinya adalah pandai menulis dan cakap berpidato. Sejak itu Soekarno yang masih pelajar setingkat SMA belajar pidato di muka cermin. Kelakuan Soekarno sering kali dianggap mengganggu penghuni kos yang lain, seperti Musso, Semaoen, Dharsono dan SM Kartosoewirjo.

Tapi Soekarno bersikap acuh. Di kamarnya yang gelap dan hanya diterangi lampu minyak, Soekarno tetap belajar pidato. Seorang sahabatnya yang tak pernah lelah mengkritiknya adalah SM Kartosoewirjo. “Kenapa pidato di depan cermin? Seperti orang gila saja,”kecam Kartosoewirjo.

Biasanya setelah usai berlatih pidato barulah dia menanggapi dengan menirukan ucapan gurunya, “kalau mau jadi orang besar harus pandai pidato, dan saya ingin menjadi orang besar. Tidak seperti kamu, jelek, hitam, mana mungkin jadi orang besar?” ejek Soekarno yang justru semakin mempererat persahabatan keduanya.

Kartosoewirjo sendiri yang usianya relative sepantar dengan Soekarno adalah masih keponakan Mas Marco Kartodikromo, tokoh jurnalis kiri yang bersama Tirto Adisoerjo kerap disebut-sebut sebagai perintis pers Indonesia. Kartosoewirjo pun rajin membaca tulisan-tulisan pamannya yang beraliran sosialis. Namun, seperti halnya Soekarno, Kartosoewirjo menganggap Tjokro sebagai panutan.

Dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengakui Tjokroaminoto sebagai tokoh panutan. “Dia yang mengajarkan politik sebagai alat mencapai kesejahteraan rakyat,”beber Soekarno. Tjokro, aku Soekarno, juga mengajarkan bentuk-bentuk modern pergerakan seperti pengorganisasian massa dan perlunya menulis. Acap kali pula Soekarno menggantikan Tjokro menulis di Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima.

Sayang, begitu menyelesaikan HBS pada bulan Juli 1921 Soekarno langsung ke Bandung. Dia dan teman sekolahnya di HBS Surabaya, Djoko Asmo, diterima di Technische Hoogeschool te Bandung (sekarang ITB). Soekarno meraih gelar Insinyur pada 25 Mei 1926. Kala itu hanya ada 4 orang pribumi yang diwisuda bersama Soekarno, yaitu Soekarno sendiri, Anwari, Soetedjo dan Johannes Alexander Henricus Odang.

Sejak di Surabaya, selain bergaul dengan orang-orang SI, Soekarno justru ikut organisasi  Tri Koro Dharmo yang dibentuk oleh Boedi Oetomo. Maka tidak mengherankan bila ide-ide Nasionalisme lebih mengemuka dalam diri Soekarno. Terlebih setelah dia membaca San Minh Chu I karya Dr. Sun Yat Sen tentang Civic Nationalism, Democracy dan Kesejahteraan Rakyat.

Inilah persimpangan jalan antara Soekarno dan Kartosoewirjo. Meskipun keduanya sama-sama mengakui murid politik Tjokro, namun Soekarno yang juga bergaul dengan Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat yang keduanya adalah tokoh Indische Partij tidak mengikuti jejak politik gurunya. Bahkan pada 4 Juli 1927 Soekarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Padahal Tjokro sangat menyayangi Soekarno. Pernikahan Soekarno dan Oetari, putri kesayangannya, sebenarnya terbersit harapan kelak Soekarno bisa meneruskan kepemimpinannya di SI. Sayang, selain pernikahan itu berujung perceraian, Soekarno lebih memilih nasionalisme. Toh begitu, tulisan Soekarno tentang Nasionalisme, Islam dan Marxisme banyak dipengaruhi oleh pemikiran Tjokro disamping juga pandangan “civic-nationalism” Sun Yat Sen yang berbeda dengan konsep “etnic-nationalism”ala Eropa Barat.

Sebaliknya Kartosoewirjo tetap setia mendampingi gurunya, Tjokroaminoto, hingga 1929. Kelak paska kemerdekaan, Kartosoewirjo yang juga turut berjuang dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan kecewa atas hasil perundingan Roem-Royen. Sejak itu Kartosoewirjo mengobarkan pemberontakan melalui Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang berhasil ditumpas Soekarno pada 1962.

SM Kartosoewirjo dihukum mati. Kabarnya, Soekarno  sempat lebih dari 3 bulan tidak mau menanda-tangani eksekusi kematiannya. Persahabatannya dengan Kartosoewirjo di usia belasan tahun membuatnya berat hati. Namun desakan penegakan hukum membuat Soekarno sambal menangis terpaksa menanda-tangani eksekusi kematian sahabatnya. Itulah satu-satunya eksekusi mati yang pernah ditanda-tanganinya.

Itulah sekelumit tentang murid-murid Tjokro yang pada akhirnya berseberangan. Terlepas dari itu semua, Tjokro telah berhasil mendidik murid-muridnya menjadi pejuang yang sedikit banyak memiliki peran dalam kemerdekaan RI. Jadi tidak terlalu berlebihan bila Tjokro dijuluki sebagai “Sang Guru Bangsa”. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here