HSBC Dituding Danai Penghancuran Hutan untuk Kelapa Sawit

0
281
Perusakan hutan semakin masif seiring maraknya perkebunan kelapa sawit

Nusantara.news, Jakarta – Bank HSBC, satu diantara penyedia jasa keuangan terbesar di dunia, dilaporkan Greenpeace mendanai enam perusahaan yang menghancurkan hutan di Indonesia.

Memang sih, secara resmi HSBC melarang pembiayaan yang menyebabkan deforestasi. Tapi itu hanya di atas kertas. Faktanya, sejak tahun 2012 HSBC telah mengucurkan dana hingga $16,3 milyar (Rp 214 triliun) untuk enam perusahaan dan sekitar $2 milyar (Rp26 triliun) dalam bentuk obligasi korporat.

Enam perusahaan sawit yang dilaporkan Greenpeace meliputi  Bumitama Agri Ltd., Goodhope Asia Holdings Ltd., IOI Group, Noble Group, Posco Daewoo Corporation dan Salim Group (Indofood).

Bumitama Agri adalah perusahaan sawit Indonesia yang telah terdaftar di bursa efek Singapura. Mengutip laporan  Greenpeace, HBBC dua kali mengucurkan dua pinjaman untuk Bumitama untuk tahun 2012 dan 2013 dengan total $190 juta (Rp2,5 triliun).

HSBC menjadi bagian dari konsorsium perbankan yang memberikan tiga pinjaman kepada Goodhope Asia pada 2014 dengan nilai total $400 juta (Rp5,2 triliun).

IOI group, perusahaan kelapa sawit terbesar ketiga di dunia, dibantu HSBC pada 2012 untuk menerbitkan obligasi korporat dengan nilai total $600 juta (Rp7,9 triliun).

HSBC memberi kredit untuk Noble Group dengan nilai total hampir mencapai $3,9 milyar (Rp51 triliun) dari tahun 2013 hingga 2016.

Dalam pelaporannya, Greenpeace juga menuding HSBC mengatur enam buah pinjaman (lima di antaranya pada 2012, satu pinjaman pada 2013) kepada berbagai divisi POSCO Daewoo, perusahaan multinasional Korea Selatan.

HSBC membantu mengatur dua buah pinjaman senilai $360 juta (Rp4,7 triliun) pada 2013 dan 2014 untuk perusahaan-perusahaan Salim Group senilai $40 juta (Rp526 miliar).

Keenam perusahaan ini dilaporkan melakukan deforestasi, mengeringkan lahan gambut, merampas lahan rakyat dan membasmi orang utan.

Juru bicara Greenpeace Indonesia Annisa Rahmawati mengatakan titik-titik api yang masih terjadi saat ini ditengarai dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang didanai oleh penyedia jasa keuangan, termasuk HSBC.

“Perusahaan-perusahaan yang nakal dan yang merusak hutan ini masih bisa beroperasi karena masih ada dana yang disediakan untuk mereka. Jadi kita mau HSBC menghentikan pendanaan terhadap perusahaan-perusahaan ini karena kita melihat dalam kebijakan HSBC, yang termasuk katanya cukup progresif, dia tidak mendanai deforestasi nyatanya mereka mendanai”, kata Annisa.

greenpeace

Kerahasiaan Nasabah

Meskipun mengapresiasi masukan dari Greenpeace agar konsisten dengan kebijakan komoditas agrikultur dan pertanian, dalam siaran persnya HSBC mengaku tidak bisa mengiyakan keterkaitannya dengan keenam perusahaan perusak hutan tropis Indonesia.

“Kerahasiaan nasabah membatasi kami berkomentar untuk perusahaan-perusahaan tertentu. Kami menyadari ini dapat membuat frustasi namun begitupun para pemegang saham jika informasi diberikan ke publik seperti yang kami pahami”, demikian kutipan dari siaran pers dari HSBC.

Bank yang berkantor pusat di London ini juga menegaskan dukungan pada standar yang lebih tinggi untuk menciptakan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

“HSBC mendukung dan mempromosikan (sebagai anggota Dewan RSPO) pengadopsian RSPO NEXT sebagai cara perusahaan-perusahaan terdepan di sektor ini mendemontrasikan standar yang lebih tinggi lagi melalui proses verifikasi terstandardisasi lewat pihak ketiga.”

RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah organisasi yang bertujuan menciptakan industri sawit yang berkelanjutan, beranggotakan para pemain industri sawit -perusahaan sawit, pedagang, konsumen, LSM hingga lembaga keuangaan seperti HSBC.

Satu diantara kebijakan RSPO adalah memberikan sertifikasi kepada perusahaan-perusahaan yang mempraktikkan kebijakan berkelanjutan. Penyedia jasa keuangan seperti HSBC berkomitmen hanya bertransaksi dengan perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi RSPO.

greenpeaceHak atas fotoREUTERS
Image captionKebakaran hutan di Indonesia kerap terjadi akibat pembukaan lahan sawit

Namun Annisa menyayangkan tanggapan HSBC tersebut.

“Tidak gentleman sekali yah karena mereka sepertinya underestimate kekuatan mereka atau mereka hanya melihat laba”, kata Annisa.

“Karena itu hanya bisa terjadi apabila perusahaan-perusahaan itu paling tidak tersertifikasi semuanya. Sertifikat hijau atau sertifikat sustainability itu dianggap pasti (take for granted) sehingga menjadi pijakan bagi bank khususnya HSBC untuk memberikan pembiayaan, padahal sebenarnya itu tidak benar.”

Sayangnya, keenam perusahaan yang disebutkan Greenpeace dalam laporannya sulit dikonfirmasi wartawan. Hanya seorang mantan staf di satu diantara perusahaan itu mengaku bingung dengan alasan Greenpeace mengangkat isu pendanaan itu kembali. Dia mengatakan pembiayaan yang diberikan HSBC terjadi di masa lampau.

Laporan Greenpeace kerap memberi tekanan kepada perusahaan-perusahaan sawit yang melakukan deforestasi lewat pihak ketiga.

Sebelumnya pada Agustus 2016 Unilever menghentikan sementara kerjasama dengan IOI, perusahaan sawit asal Malaysia yang juga disebutkan dalam laporan terkait HSBC ini, akibat tekanan dari Greenpeace. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here