Human Error Laka Lantas

0
168

KECELAKAAN lalu lintas yang dialami bus pariwisata yang merenggut 27 korban nyawa di Subang kemarin mestinya menjadi pemicu untuk mengevaluasi kembali pengawasan kendaraan angkutan umum dan manajemen pengelolaannya. Sebab utamanya, ya, karena ini menyangkut nyawa manusia.

Masalah  kecelakaan lalu lintas adalah  suatu masalah  kronis dalam aktivitas berlalu lintas di jalan. Seluruh negara di dunia dihantui oleh masalah yang nyaris klasik ini. Setiap hari setidaknya 3.000 orang meninggal dan 50 juta lainnya mengalami luka-luka akibat kecelakaan lalu lintas. Dari jumlah itu setidaknya 85 persen terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan sedang. Kecelakaan lalu lintas juga telah mengakibatkan sekitar 90 persen dari korban luka menderita cacat seumur hidup (disability adjusted life years/DALYs). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia mengeluarkan laporan penelitian berjudul World Report on Road Traffic Injury Prevention. Inilah untuk pertama kalinya masalah kecelakaan lalu lintas mendapat perhatian dari lembaga PBB.

Kecelakaan lalu lintas tidak saja berdampak buruk pada orang yang mengalami kecelakaan, tetapi juga menimbulkan ekses negatif kepada keluarga korban. Dalam kecelakaan yang mengakibatkan cidera, baik ringan maupun berat, selain kerugian karena kehilangan waktu produktif, juga beban berupa besarnya biaya pengobatan yang mesti dikeluarkan. Untuk kasus kecelakaan yang berakibat kematian, tidak jarang mengakibatkan kemiskinan bagi keluarga yang ditinggalkan, apalagi jika yang meninggal adalah anggota keluarga yang menjadi sumber  nafkah.

Hasil penelitian  WHO dan Bank Dunia di 21 negara tersebut mengungkapkan, kecelakaan lalu lintas menyedot gross national product (GNP) dari suatu negara. Untuk negara dengan penghasilan sedang, GNP yang terserap sekitar satu persen atau sekitar US$ 65 miliar pertahun. Sementara di negara berpenghasilan besar bisa mencapai dua persen dari GNP, atau sekitar US$ 518 miliar pertahun.

Itulah yang mendasari mengapa kecelakaan besar di Subang ini harus mendesakkan kembali urgensi untuk membenani manajemen transportasi kita.

Biasanya setiap terjadi kecelakaan transportasi, apalagi dengan jumlah korban yang massal, kita ribut dengan aneka keprihatinan tentang keselamatan transportasi. Polisi dan Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) bekerja mencari penyebab kecelakaan. Namun, setelah itu, kekusutan pengelolaan transportasi kembali berjalan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tentang kecelakaan di Subang kemarin, polisi tengah mendalami dugaan kelalaian manusia. Ini memang kesalahan paling dasar. Human error selalu menjadi penyebab dari setiap kecelakaan.

Masalahnya, kesalahan manusia itu seringkali hanya ditujukan kepada pengemudi saja. Kita sering lupa, pengemudi kendaraan bermotor hanyalah salah satu bagian dari sub-sistem lalu lintas dan angkutan jalan. Padahal, banyak manusia lain yang juga menjadi faktor human error yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan lalu lintas.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Pol Royke Lumowa mengatakan, selain pengemudi yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, tidak tertutup kemungkinan manajemen perusahaan bus pariwisata tersebut juga akan diminta pertanggungjawaban. Sebab, berdasarkan pemeriksaan sementara, kecelakaan tersebut disebabkan rem yang tidak berfungsi, dan kabarnya si pengemudi sudah menyampaikan keadaan tersebut kepada pengelola. Orang yang mengelola  perusahaan bus ini tentu tidak dapat melepaskan diri dari tanggungjawab atas tidak berfungsinya rem bus tersebut.

Selain pengemudi dan manajemen perusahaan bus, polisi semestinya juga melakukan proses penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggungjawab dalam uji kendaraan nahas itu. Bus penumpang umum adalah kendaraan wajib uji oleh Dinas Perhubungan di mana perusahaan pemilik kendaraan tersebut berdomisili.

Ada serangkaian uji teknis dan uji laik jalan yang harus dilalui kendaraan bermotor yang digunakan untuk angkutan penumpang umum. Pengujian itu antara lain meliputi kemampuan rem utama, sistem kemudi, rem parkir, rem utama, kincup roda depan, pancaran dan arah sinar lampu utama, akurasi speedo meter, kedalaman alur ban, kaca spion, klakson, penghapus kaca sampai sabuk pengaman. Kalau itu dipatuhi, di atas kertas, kecelakaan yang disebabkan faktor kendaraan nyaris mustahil terjadi.

Nah, jika dalam kecelakaan ini penyebab utamanya adalah rem yang tidak berfungsi, maka polisi semestinya mudah mengembangkan logika: Mengapa kendaraan ini bisa lolos dalam uji berkala? Pertanyaan lainnya, apakah prosedur uji tersebut memang sanggup memeriksa semua hal yang wajib diuji secara benar?

Selain itu, polisi mestinya juga menyelidiki faktor kondisi jalan. Apakah kondisi jalan di tanjakan yang terkenal berbahaya itu memang layak dilalui kendaraan berat seperti bus atau truk? Apakah marka dan rambu untuk memberi isyarat dan peringatan sudah tercukupi di situ?

Polri jangan menyederhanakan kecelakaan sebagai human error pengemudi belaka, sebab faktor kendaraan dan faktor jalan juga mempunyai andil yang sama besarnya. Dan setiap orang yang bertanggungjawab di masing-masing faktor mempunyai tanggungjawab hukumnya sendiri.

Seperti dikatakan di awal Tajuk ini, segeralah perbaiki kualitas pengawasan kendaraan angkutan umum dan manajemen pengelolaannya. Sebab, ya, karena ini menyangkut nyawa manusia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here