Wakaf Produktif Indonesia (1)

Ide Kreatif, Memulihkan Ekonomi Lewat Wakaf

0
125
Dua Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro dan Sri Mulyani Indrawati mengisyarakatkan aset tanah yang diserahkan ke pemerintah telah mencapai US$60 miliar, tinggal dikelola secara produktif untuk memajukan ekonomi umat Islam.

Nusantara.news, Jakarta – Sejak 1998 Indonesia dilanda krisis moneter, dimana pemulihan industri perbankan saat itu membutuhkan biaya Rp650 triliun lewat penerbitan obligasi. Pokok dan bunga obligasi itu baru akan lunas hingga 2033, kemudian diperpanjang hingga 2043.

Menurut perhitungan kasar Kwik Kian Gie, pada 2033 nanti, total pokok dan bunga obligasi, baik tradable maupun non-tradable, plus role-over mencapai Rp3.500 triliun. Dan jumlah tersebut harus ditanggung dipundak rakyat Indonesia.

Jika menggunakan arus ekonomi kapitalis, jumlah utang pokok dan bunga obligasi rekaplitasisi tersebut agak sulit dilunasi. Karena itu muncul ide-ide kreatif untuk membangun pilar ekonomi baru selain pilar ekonomi yang telah ada, salah satunya lewat maksimalisasi wakaf.

Wakaf adalah perbuatan hukum wakif (orang yang berwakaf) untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya, guna keperluan ibadah dan kesejahteraan umum menurut syariah.

Potensi wakaf Indonesia

Jika merunut sejarah wakaf di Indonesia, sebenarnya sejak zaman Soekarno hingga hari ini, telah terkumpul wakaf tanah di seluruh Indonesia dengan nilai pasar sebesar US$60 miliar (ekuivalen Rp840 triliun). Paling tidak hal itu yang diungkapkan mantan Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, dan dikuatkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Menkeu Bambang Brodjo menyampaikan hal tersebut pada sidang tahunan Grup Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank—IDB) Di Jakarta Convention Center (JCC) pada 2016. Hal itu juga dikatakan Menkeu Sri Mulyani pada sidang tahunan IDB ke-42 di Hotel Royal Ambarukmo, Yogyakarta, pada 2017.

Aset dimaksud berupa wakaf tanah di seluruh Indonesia seluas 1.400 kilometer persegi. Aset wakaf itu bisa dikelola dengan optimal, pada gilirannya aset wakaf tersebut akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan sosial.

Sementara menurut Direktur Utama Badan Wakaf Indonesia (BWI) potensi wakaf Indonesia Romdlon Hidayat, cukup besar dan dapat dijadikan titik balik kebangkitan ekonomi umat Islam. Melalui pengelolaan wakaf ekonomi produktif yang baik, diyakini akan berdampak besar pada perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia.

Keseriusan pemerintah dalam pengelolaan wakaf dalam lintasan sejarah (Sumber: Badan Wakaf Indonesia)

Dia memperkirakan potensi wakaf Indonesia yang bisa dibuat menjadi aset produktif sedikitnya Rp2.000 triliun, sedangkan potensi wakaf tunai yang bisa digarap mencapai Rp188 triliun per tahun. Jadi, wakaf punya kemampuan untuk berkontribusi pada pembangunan bangsa ini, baik aspek infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ataupun aspek sosial keagamaan lainnya.

Manfaat wakaf

Sedikitnya terdapat empat manfaat berwakaf, yakni mendapatkan kebaikan yang sempurna (surga), pahala amalnya tidak akan pernah putus sampai yaumul akhir, bentuk sedekah paling mulia, serta sebagai salah satu instrumen paling tinggi dalam ekonomi Islam jika bisa dikelola untuk usaha produktif dan hasilnya untuk kesejahteraan ummat.

Pada dasarnya, wakaf tidak bisa dilepaskan dari intrumen pembangunan ekonomi bangsa ini. Hal ini dilihat dari potensi aset wakaf di Indonesia yang mencapai Rp2.000 triliun, dan potensi wakaf uang mencapai Rp188 triliun per tahun.

Jumlah itu jauh lebih besar jika dibandingkan potensi zakat di tanah air yang mencapai Rp280 triliun dan yang baru digarap sebesar Rp6 triliun setiap tahun. Bahkan jumlah itu juga melebihi dari dana penerimaan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Apalagi BWI terus melakukan terobosan dan manuver yang kuat dalam melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat secara lebih massif dan terstruktur untuk pengembangan wakaf produktif. Pengembangan wakaf produktif di Indonesia sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 41/2004 tentang Wakaf, dan Peraturan Pemerintah Nomor 42/2006 tentang Pelaksanaan UU Nomor 41/2004 tentang Wakaf.

Dengan wakaf, keinginan umat Islam untuk memiliki aset-aset besar, seperti hotel, restoran, pusat perbelanjaan dan perkantoran Islami, pusat-pusat produksi/factory, pasar rakyat wakaf, dan sebagainya, diharapkan bisa terwujud. Belakangan sudah ada fasilitas wakat bernama iWakaf.

Bagi para calon wakif atau investor, iWakaf menawarkan tiga konsep usaha wakaf. Pertama, wakaf uang murni. Artinya 100% dana wakif diwakafkan. Wakif bisa mengusulkan sebagian prosentasi hasil keuntungan usaha wakaf dimasukkan sebagai wakaf ahli.

Kedua, wakaf berjangka. Selama 5 atau 10 tahun wakif mewakafkan uangnya kepada nazhir iWakaf, setelah itu uangnya dikembalikan. Wakif bisa mengusulkan sebagian prosentasi hasil keuntungan usaha wakaf dimasukkan sebagai wakaf ahli. Ketiga, sebagai ladang investasi.

Dengan pengembangan wakaf yang profesional, Indonesia tak hanya mampu menggerakkan ekonomi, tapi juga diharapkan dapat memulihkan perekonomian Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here