Berebut Aliansi di Semenanjung Korea

Ikuti China, Korea Selatan Tangguhkan Sistem anti-Rudal AS

0
90
Foto: Getty Images

Nusantara.news, Seoul Pemasangan sistem anti-rudal dari Amerika Serikat yang dikenal dengan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Seoul Korea Selatan pada bulan April silam telah menjadi kontroversi di negara itu. Sistem yang dimaksudkan mengantisipasi serangan rudal Korea Utara itu, tidak saja dipertanyakan rakyat dan parlemen Korea Selatan, tapi juga diprotes oleh negara tetangganya, China dan terutama Korea Utara.

Akibat protes tersebut, hubungan bisnis antara Korea Selatan dan China terganggu (penutupan sejumlah supermarket Lotte milik Korea Selatan di China), padahal untuk bidang ekonomi, Korea Selatan banyak tergantung dengan China sebagai partner utama perdagangan.

Dua unit sistem THAAD yang sudah terpasang mulai beroperasi di Seoul sejak awal Mei lalu, tapi pemerintahan baru Korea Selatan menangguhkan pengoperasian 4 unit sistem THAAD berikutnya yang akan dipasang menyusul. Alasan utama penangguhan yang diumumkan pemerintah Korea Selatan pada Rabu (7/6) lalu itu adalah masalah lingkungan (AMDAL).

Tapi, sebelum pengumuman itu, utusan Korea Selatan menemui Presiden China Xi Jinping untuk membicaran masalah kerja sama perdagangan yang terganggu. China menekan Korea Selatan agar menangguhkan penggunaan sistem THAAD yang dianggap mengganggu sistem pertahanan China.

Seorang pejabat Korea Selatan mengatakan kepada CNN pada hari Rabu bahwa untuk sementara Seoul tidak akan menarik dua unit sistem THAAD yang sudah terpasang  dan beroperasi.

“Empat sistem THAAD tambahan tidak akan digunakan sampai analisis dampak lingkungan selesai,” kata pejabat itu.

Selama kampanye dalam pemilu Korea Selatan, Presiden baru Korea Selatan Moon Jae-in menyerukan agar sistem anti-rudal THAAD dihentikan dan keputusan tentang bagaimana nasib ke depannya diajukan ke parlemen negara tersebut.

Pemasangan sistem THAAD disepakati oleh Presiden Korea Selatan sebelumnya, yang “turun tahta” karena dimakzulkan akibat korupsi, Park Geun-hye, di Washington. Sistem tersebut dinyatakan beroperasi sebagian seminggu sebelum presiden baru, Moon Jae-in terpilih.

Pada saat itu, para analis mengatakan bahwa pemasangan yang dilakukan sebelum presiden baru terpilih adalah upaya AS untuk memaksa Moon dan menyulitkan pemerintahnya untuk menarik kembali sistem yang sudah terpasang di Korea Selatan.

Sebelumnya, peluncuran THAAD telah ditentang keras oleh China, yang khawatir dapat disalahgunakan untuk memata-matai sistem pertahanan dan nuklir China.

Hubungan antara Seoul dan Beijing memburuk secara signifikan akibat pemasangan sistem anti-rudal THAAD tersebut, sehingga mempengaruhi bisnis Korea Selatan dan warga Korea yang tinggal di China.

Sementara itu, juru bicara Pentagon, Departemen Pertahanan AS, mengatakan bahwa AS akan bekerja sama dengan pemerintah Korea Selatan selama proses tersebut.

“AS mempercayai (Korea Selatan) bahwa penerapan THAAD adalah keputusan aliansi dan tidak akan dibatalkan,” Kata komandan Angkatan Laut AS Gary Ross.

Jenderal Mark Milley, kepala staf Angkatan Darat AS, mengatakan kepada Subkomite Senat tentang Pertahanan bahwa sistem ini penting untuk melindungi ribuan tentara AS di Korea Selatan, dan juga melindungi warga Korea Selatan.

“Kami akan menyelesaikannya, dan pada akhirnya saya pikir Republik Korea akan didukung dengan baik oleh Amerika Serikat,” katanya.

Tertunda

Sistem THAAD tidak akan beroperasi penuh sampai akhir tahun 2017. Masalah AMDAL, bahkan jika pada akhirnya mengizinkan untuk dilanjutkan, kemungkinan akan tertunda hingga setidaknya tahun 2018.

Sistem THAAD dirancang untuk menghalau rudal balistik jarak pendek dan menengah yang diarahkan dari pihak Korea Utara. THAAD juga mencakup radar canggih yang sesuai dengan sistem pertahanan rudal AS. Radar tersebut dapat memberikan data pelacakan awal yang penting untuk sistem intersepsi rudal, dan juga melindungi Guam, wilayah terdekat antara AS dan Korea Utara dimana pangkalan militer AS didirikan. Sistem radar canggih itulah yang dikhawatirkan China bisa memata-matai sistem pertahanan China.

Di luar alasan soal penilaian AMDAL, penundaan sistem THAAD tampaknya terkait erat dengan pengaruh China terhadap pemerintah baru Korea Selatan. Sejak awal pemilu Korea Selatan, Monn Jae-in digadang-gadang sebagai kandidat calon presiden Korea Selatan yang cenderung pro China secara politik. Mungkinkah China sudah berhasil merangkul Korea Selatan yang selama ini beraliansi dengan AS? Jika benar, maka ini keuntungan bagi China dalam konteks berebut aliansi di semenanjung Korea. Dengan mendapat aliansi baru (Korea Selatan) China bakal semakin percaya diri meneguhkan posisinya sebagai raksasa ekonomi di kawasan Asia Timur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here