Ikuti Jejak Trump, Akankah Le Pen Menang di Prancis?

0
224
Foto: Independent

Nusantara.news, Lyon, Prancis – Jika di Amerika Serikat ada Donald Trump, presiden terpilih dari partai konservatif yang ‘menjual’ semangat populisme, maka di Eropa, tepatnya di Prancis ada Marine Le Pen. Meski belum terbukti dia menang dalam pemilihan Presiden Prancis nanti, tapi dari sejumlah survei elektabilitas capres dari partai sayap kanan ini bersaing ketat dengan capres lain.

Akankah Le Pen mendulang suara dalam Pilpres di Prancis April 2017 mendatang?

Jika Le Pen berhasil merebut kemenangan pada Pilpres Prancis, ini artinya pemimpin populis tidak saja diinginkan oleh rakyat di AS, tapi juga rakyat Eropa.

Dalam kampaye di Prancis, calon presiden dari partai Front Nasional Prancis itu menyuarakan soal deglobalisasi. Menurut dia, globalisasi keuangan dan globalisasi Islam telah membuat Prancis bertekuk lutut. Ini hampir sama dengan kampanye Trump beberapa waktu lalu yang menyalahkan globalisasi dan terorisme, khususnya Islam.

Retorika Le Pen dalam kampanye-kampanyenya di Prancis secara jelas menganggap Prancis saat ini berada di bawah ancaman dua ‘totalitarianisme’, globalisasi ekonomi dan fundamentalisme Islam.

Dalam pidato kampanye perdananya, Minggu (5/2) pemimpin partai sayap kanan Front Nasional Prancis ini mengemukakan pandangan yang sangat ekstrem bahwa masjid, ‘doa di jalan-jalan’ dan cadar yang dikenakan oleh perempuan Muslim adalah ancaman terhadap budaya dan nilai-nilai Prancis.

“Kami tidak ingin hidup di bawah ancaman fundamentalisme Islam,” kata Le pen dalam momentum konferensi partainya di Lyon, sebagaimana dilansir Independent Senin, (6/2).

Le Pen mengklaim bahwa ‘imigrasi massal’ yang disebabkan oleh globalisasi membuat orang-orang Perancis merasa “direbut” dari negara mereka sendiri, dan memungkinkan fundamentalisme Islam yang dianggap “musuh Perancis” menetap di Prancis.

“Fundamentalisme Islam menyerang kita di rumah kita,” katanya. Dia juga mengibaratkan fundamentalisme Islam sebagai ‘serigala di kandang ayam’ jika dibiarkan.

“Tempat-tempat dakwah Islam akan ditutup dan ‘penyebaran’ kebencian akan dihukum dan diusir,” katanya.

Pernyataan Le Pen soal imigran tanpa dokumen akan ditolak perawatan kesehatan gratis, dan orang asing yang melakukan kejahatan akan diusir disambut sorak-sorai pendukungnya.

Masalah imigrasi dan radikalisasi menjadi tema yang konsisten dibawakan Le Pen, dengan berfokus pada tingginya serangan teroris yang terjadi di Prancis dalam dua tahun terakhir ini. Tema-tema tersebut setali tiga uang dengan yang dibawakan Trump dalam kampanye-kampanyenya di publik AS beberapa wakltu lalu.

Penekanan Le Pen soal imigrasi dan terorisme mendapat momentum setelah dua hari sebelumnya  seorang pria Mesir dituduh berusaha melakukan serangan teror di museum Louvre di Paris, pelaku ditembak empat kali oleh tentara setelah menyerang salah satu dari mereka dengan sebilah parang.

Apakah tema kampanye Le Pen diterima publik Prancis?

Mayoritas jajak pendapat saat ini menunjukkan Le Pen akan memenangkan putaran pertama pemilihan presiden Prancis pada 23 April 2017, namun dia diperkirakan akan kehilangan suara pada pemilihan putaran kedua yang diselenggarakan sebulan setelahnya.

Dalam kampanye kali ini Le Pen mempertegas lagi bahwa dirinya dan partai Front Nasional adalah populis yang anti-imigrasi, proteksionis, dan anti-Uni Eropa.

“Membagi bukanlah antara kiri dan kanan, tetapi antara patriot dan globalis,” kata Le Pen, mempertegas sikap bahwa lawan yang dihadapinya adalah kaum globalis.

Le Pen berkomitmen akan membatasi imigran maksimal 10.000 orang per tahun, dan akan mengusir semua migran ilegal dan membatasai hak-hak tertentu yang sekarang berlaku bagi semua warga, termasuk pendidikan gratis, hanya untuk warga Perancis saja.

Le Pen juga menyatakan jika dirinya presiden ingin mengadakan referendum tentang keanggotaan Prancis di Uni Eropa.

Secara terang-terangan, dia mengucapkan selamat kepada rakyat Inggris yang telah memilih Brexit, juga kepada rakyat AS yang telah memilih Donald Trump sebagai presiden.

“Inggris telah memilih kebebasan dengan Brexit dan dapat mengucapkan selamat kepada diri mereka sendiri setiap hari. Amerika juga telah membuat pilihan untuk kepentingan nasional mereka. Kebangkitan rakyat melawan oligarki dapat menjadi kenyataan, dan yang tidak mungkin pun bisa menjadi mungkin. Kebangkitan ini menandai akhir sebuah era,” tandas Le Pen.

Lawan kuat Le Pen

Sehari sebelum pidato Le Pen, capres independen Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mengkritik Front Nasional dan pemimpinnya Le Pen. Macron mengatakan, dia “mengkhianati” nilai-nilai sejarah Prancis.

Macron yang tidak secara langsung menyebut nama Le Pen juga mengatakan, “Mereka tidak berbicara atas nama rakyat, mereka berbicara atas nama kepahitan mereka sendiri.”

“Mereka mengkhianati kebebasan, mengkhianati kesetaraan, mereka mengkhianati persaudaraan karena mereka membenci wajah yang terlihat tidak sama seperti mereka,” lanjut Macron.

Nama Macron, tokoh yang mundur dari pemerintah Sosialis dan membuat gerakan politik sendiri, baru-baru ini melonjak dalam sejumlah jajak pendapat, setelah kandidat sayap kanan Francois Fillon terlibat skandal pekerjaan fiktif yang juga menjerat sang istri, Penelope Fillon.

Jajak pendapat saat ini masih menunjukkan Macron bakal memenangkan Pilpres Putaran Kedua jika head to head Le Pen. Tapi, semua masih mungkin berubah. Bukankah dulu Trump juga tidak diunggulkan dalam survei-survei di AS? [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here