Indonesia Akan Impor Gas dari Singapura, Kok Bisa?

1
1057
Kapal pengangkut LNG sedang sandar mengisi muatan/ Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Tertarik dengan tawaran harga murah, Indonesia berencana mengimpor gas alam cair (liquid natural gas/LNG) dari Singapura. Rencana impor itu tampaknya sudah mendapat lampu hijau dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Sedangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih pikir-pikir.

Anehnya Singapura sebagai negara kota sama sekali tidak memiliki ladang gas. Diduga Singapura menampung gas dari berbagai negara dan dijual ke negara-negara yang membutuhkan. Pertanyaannya, apakah Indonesia sebagai penghasil gas terbesar ke-14 dunia membutuhkan impor gas? Apalagi selama ini produksi gas Indonesia lebih banyak diekspor, sedangkan proporsi penggunaan gas untuk kebutuhan energi nasional baru sekitar 17 persen.

Yang jelas, rencana impor gas itu sudah mendapatkan lampu hijau dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Bahkan Luhut menyebut, impor LNG dari Singapura itu dipengaruhi oleh hubungan politik kedua negara. Maka, kesepakatan impor akan ditanda-tangani saat pertemuan antara Indonesia dan Singapura.

Kepada wartawan Luhut menyebutkan, pemerintah memiliki dua opsi untuk mendatangkan LNG dari Singapura. Pertama, adalah opsi pertukaran penggunaan LNG (swap), dan kedua opsi murni impor dari Singapura. “Kalau mereka kasih harga yang menarik, kami pertimbangkan dong. Kan ujung-ujungnya ke harga jual masyarakat juga,” sambut Luhut.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026, pembangkit listrik tenaga gas akan mengambil porsi 26,7 persen dari bauran energi (energy mix) di tahun 2026 sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017 hingga 2026 mendatang.

Untuk memuluskan rencana di atas  Indonesia membutuhkan gas sebanyak 1.193 Trilion British Thermal Unit (TBTU), atau tiga kali lipat dibanding tahun 2016 sebanyak 606,5 TBTU. Dari jumlah itu, sebanyak 851 TBTU, atau 71,33 persen dari kebutuhan gas bagi pembangkit akan disediakan dari LNG.

Namun Kementerian ESDM sendiri masih pikir-pikir dengan rencana impor gas dari Singapura. Paling tidak pemerintah akan mempertimbangkan harga jual LNG yang akan digunakan untuk pembangkit listrik itu.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengakui, pimpinan Keppel Corporation sebagai pihak yang akan mendatangkan LNG dari Singapura sudah menyambangi kantornya beberapa waktu lalu. Sejauh ini Arcandra masih mengevaluasi tawaran itu. “Saya sudah panggil company-company itu, saat ini kami sedang evaluasi,” ucap Arcandra, di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (22/8) malam.

Arcandra tidak mengelak, satu diantara pertimbangan impor LNG dari Singapura adalah persoalan harga. Toh begitu dia mengaku masih pikir-pikir dengan tawaran harga regasifikasi dan transportasi LNG di angka US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU, dan belum memasukkan harga gas hulunya. Maka dia khawatir harga impor LNG yang diterima bisa lebih besar dari ketentuan yang ada saat ini.

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 45 Tahun 2017, harga gas LNG maksimal harus 14,5 persen dari harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di pembangkit listrik (plant gate). Dengan patokan ICP ICP bulan Juli sebesar US$45,48 per barel, maka harga gas di plant gate harus berada di angka US$6,59 per MMBTU. Dengan patokan itu, biaya regasifikasi dan transportasi yang ditawarkan perusahaan Singapura tercatat 57,66 persen hingga 60,69 persen dari harga gas maksimal yang diperbolehkan pemerintah.

“Semua hal-hal yang berkaitan tawaran impor harus hati-hati dievaluasi. Nah, US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU itu setahu saya baru regasifikasi dan transportasi. Kalau harga impornya mahal, maka nanti yang kena ya harga listrik ke bawah,” terang Arcandra.

Lucunya lagi, di tengah rencana impor LNG dari Singapura, Direktur Gas PT Pertamina (Persero) Yenni Andayani masih kebingungan mencari pembeli untuk 36 kargo LNG tahun ini. Sebab diantara 164 kargo LNG yang diproduksi hingga akhir tahun, baru 138 kargo saja yang memiliki komitmen pembeli. “”Akhirnya 36 kargo ini kami lempar ke pasar spot, dilakukan tender. Delivery mungkin baru bisa di akhir tahun nanti. Semua LNG ini dari produksi Badak NGL di Bontang,” terangnya.

Sebenarnya, berapa impor gas Indonesia selama ini? Dengan proporsi penggunaan energi hanya 17 persen dari keseluruhan energi, sebenarnya sayang sekali Indonesia membuang energi murah ke luar negeri dan mendatangkan energi seperti minyak bumi ke Indonesia dengan harga yang relatif lebih mahal. Mengutip data dari BP Statistical Review of World Energy 2015, produksi gas Indonesia hampir dari 2 kali lipat dari kebutuhan konsumsi sebagai terlihat pada Tabel di bawah ini :

Dengan demikian produksi gas Indonesia lebih banyak dikapalkan ke luar negeri. Padahal untuk kebutuhan energi dalam negeri gas baru menyumbang proporsi 17 persen. Artinya andaikata tidak diekspor pun keseluruhan gas belum mampu menjangkau setengah dari kebutuhan energi dalam negeri. Tabel berikut ini menjelaskan besaran ekspor gas ke sejumlah negara dalam kurun waktu yang sama.

Tidak mengherankan apabila rencana ekspor itu dikecam oleh sejumlah kalangan. Bahkan Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro, heran dengan rencana itu. “Agak lucu Singapura ekspor gas ke kita, mereka kan enggak punya sumber gas sama sekali,” kata Komaidi kepada wartawan, Rabu (23/8) pagi.

Komaidi tidak memungkiri adanya perkiraan Indonesia memerlukan impor gas pada 2019 atau 2020 nanti. Terutama untuk memenuhi pembangkit listrik. Namun alangkah baiknya kalau Indonesia membeli langsung ke negara produsen seperti Iran atau Qatar. Harganya pasti lebih murah ketimbang membeli dari Keppel Offshore and Marine, perusahaan asal Singapura yang hanya pedagang perantara.

Komaidi juga meragukan harga LNG dari Singapura bisa lebih murah daripada gas lokal sebagaimana diungkap Menteri Luhut. Sebab, LNG harus dikapalkan dulu ke Indonesia, ada biaya shipping. Setelah sampai, LNG harus diregasifikasi, lalu dialirkan melalui pipa, ada tambahan biaya lagi. “Kalkulasi saya, harga gasnya jadi lebih mahal, kan butuh shipping, regasifikasi, setelah itu lewat pipa ada tol fee,” terang Komaidi.

Mengutip keterangan Arcandra, Keppel Offshore and Marine menawarkan harga angkutan, termasuk shipping dan regasifikasi US$3,8 per MMBTU hingga US$4 per MMBTU, ditambah dengan harga LNG-nya sendiri yang di Singapura mencapai US$ 4/MMBTU, maka harga LNG hingga ke tempat tujuan mencapai US$7,8 hingga US$8 per MMBTU yang berarti tidak lebih murah dari harga pasokan dalam negeri yang secara total juga sekitar itu

Tapi tampaknya masih ada aktor mafia migas yang bermain. Tentu saja ini bertentangan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo di berbagai kesempatan yang hendak membasmi mafia migas di tubuh pemerintahannya.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here