Indonesia Bisa Memimpin Negara-negara Islam Melawan Trump

0
282
Sejumlah pemuda Indonesia dari lintas agama menggelar aksi penolakan pernyataan Presiden AS Donald Trump, ‎terkait Yerusalem menjadi Ibu kota Israel. Demonstrasi itu dilakukan di depan patung MH Thamrin, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Nusantara.news, Surabaya – Berbagai kecaman dari para pemimpin dunia termasuk dari sekutu AS seperti Inggris, Perancis dan Jerman diarahkan kepada Donald Trump. Namun Presiden AS ini mengaku sebagai orang yang selalu menetapi janji di kala kampanye dulu. Dia saat itu berjanji akan mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dan sekarang, terbukti. Bahkan Trump menuduh presiden-presiden AS terdahulu tidak berani menetapi janji-janji politik pada waktu kampanye dan tidak berani mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

Memang, pengumuman resmi Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memerintahkan Deplu AS untuk segera memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem sangat mengejutkan dan membuat marah dunia.

Menurut pakar ekonomi alumni London University dan Universitas Airlangga Surabaya, Achmad Cholis Hamzah, kongres Amerika Serikat sejak tahun 1995 telah mencapai kompromi untuk secara resmi mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

“Namun semua presiden AS sebelum Donald Trump tidak melaksanakan keputusan Kongres AS itu karena mengetahui resiko bahaya yang akan ditimbulkan bila melaksanakan keputusan itu. Sekarang ini hanya Donald Trump lah yang melakukannya,” terang Cholis kepada Nusantara.News, Selasa (12/12/2017).

Diakui Cholis, saat ini banyak kalangan di Amerika Serikat mengakui bahwa di samping Donald Trump memiliki kebijakan rasis, anti imigran, anti Islam dan membatalkan segala perjanjian AS dengan negara-negara lain yang pernah dilakukan Presiden Barack Obama, serta kebijakan proteksionisme “Amerika First”, juga banyak mendapat dukungan kalangan warga Amerika Serikat garis keras-white supremacy.

Donald Trump, sebutnya, juga dikelilingi kalangan yang menganut isolationist, garis keras berdasarkan garis agama dan penasihatnya yang keturunan Yahudi yaitu menantunya sendiri Jared Kushner yang dekat dengan Israel secara terang-terangan.

Akibatnya, begitu menjadi presiden, Trump langsung mengeluarkan kebijakan kontroversi dari membangun tembok di perbatasan dengan Mexiko, memprotes WTO, mengecam NAFTA – asosiasi perdagangan bebas AS dengan Kanada dan Mexico, mengecam NATO yang nota bene sekutu AS di Eropa sejak lama, melarang warga negara beberapa negara Islam dari Timur Tengah masuk AS, menarik diri dari perjanjian tentang pengurangan emisi global, membatalkan perjanjian nuklir dengan Iran (yang sudah di tandatangani Obama dengan para sekutunya di Eropa) dan terakhir mengakui resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel

“Keputusan Trump soal Yerusalem ini sangat berbahaya karena menggagalkan berbagai upaya perdamaian antara Isreael dan Palestina, membuat marah negara-negara Muslim di dunia, serta masyarakat internasional, memunculkan gerakan-gerakan radikal anti barat di seluruh dunia, dan membuat Israel dapat mengusir total dari tanah airnya sendiri,” jelas mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

Dan sudah bisa ditebak, begitu Trump resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, negeri zionis ini langsung membangun ratusan perumahan untuk warga Yahudi dengan mengusir orang-orang Palestina dari tanahnya sendiri.

Presiden AS Donald Trump saat mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Kata Cholis, sebelum itu Israel sudah berkali-kali melakukan settlement atau pembangunan rumah-rumah baru untuk warga Yahudi yang didatangkan dari seluruh belahan dunia. Mereka melawan secara terang-terangan resolusi PBB soal pelarangan settlement untuk warga Yahudi.

Karena itu wajar jika Pemimpin Palestina Mahmud Abas mengkhawatirkan langkah AS tersebut yang bakal menyeret ke isu perang agama. Padahal sebelum ini, perjuangan warga Palestina hanya menginginkan kemerdekaan. Tapi setelah pengakuan AS atas Yerusalem, maka ini akan menjadi babak baru dalam pertikaian Palestina dan Israel.

“Dikhawatirkan konflik Israel Palestina akan merambah ke isu perang agama. Padahal perjuangan Palestina itu untuk merebut kemerdekaan. Sebab selama ini baik warga Muslim dan Kristen yang berada di Palestina selalu bersatu menghadapi Israel. Mereka tidak pernah menyebut bahwa pertikaian itu masalah agama,” sebut Cholis.

Peran Strategis Indonesia Mempersatukan Timur Tengah

Sejak pengakuan Trump atas Yerusalem, wajar jika seluruh dunia mengecam. Negara-negara yang warganya mayoritas Muslim melakukan demonstrasi besar-besaran menentang keputusan Trump tersebut. Indonesia juga menjadi bagian dari itu. Malaysia, Australia, Mesir, Iran, dan Turki juga mengecam. Negara-negara Eropa tidak kalah serunya.

Di Turki, Presiden Erdogan bahkan mengeluarkan pernyataan keras dan pedas kepada AS dan Israel. Sayangnya negara-negara mayoritas Islam di Timur Tengah tidak bulat satu suara.

Tokoh-tokoh Islam di Indonesia seperti dari Muhammadiyah menyayangkan sikap tidak solidnya negara-negara Arab atas isu ini. Dalam hal ini Arab Saudi sebagai negara tertuduh dinilai tidak bersikap tegas tentang keputusan Trump, dan malah cenderung lebih dekat dengan Israel.

“Jared Kushner menantu Trump sebelum adanya keputusan tentang Yerusalem itu sudah melakukan lobi ke Arab Saudi. Sepertinya Arab Saudi yang digadang-gadang negara Muslim dunia untuk membela Palestina malah lebih tertarik soal kekhawatiran meluasnya pengaruh Iran di Timur Tengah ketimbang membela Palestina,” ungkap Cholis.

Dikatakan Cholis, negara monarki ini memang khawatir dengan pengaruh Iran yang meluas di Irak (60% warga Irak adalah syiah yang pro Iran), Bahrain – negara tetangga Arab Saudi yang 60% syiah yang menentang pemerintahan negaranya yang monarki, di Yaman di mana pemberontak suku Huthi juga didukung Iran karena itu Saudi berkali-kali melakukan pemboman di Yaman unntuk mengusir Huthi. Selain itu di Lebanon, di Suriah dan Palestina sendiri. Saudi juga memutuskan hubungan dengan Qatar yang diikuti Mesir, Bahrain dan Emirat Arab karena menuduh Qatar melindungi teroris dan dekat dengan Iran. Negara Qatar yang kecil ini juga di blokade oleh Saudi di darat laut dan udara.

Suriah yang masih menghadapi konflik perang saudara di dalam negeri, ujr Cholis, menghadapi ISIS dengan bantuan Rusia dan Iran. Lebanon juga masih menghadapi persoalan konflik politik dalam negeri karena sistim politiknya yang pembagian kekuasaan pemerintahannya berdasarkan sektarian. Mesir juga menghadapi persoalan politik dalam negeri yang rumit, ancaman teroris, pemerintahan yang dianggap diktator. Libya juga mengalami persoalan pemberontakan dimana-mana paska matinya Muamar Ghadafi.

“Karena itu sering kali kita di Indonesia ini salah melihat konstelasi politik negara-negara Timur Tengah yang kita anggap one entity, dan dengan mudah kita membuat pendapat bahwa “bila semua negara Arab bersatu maka Israel yang kecil itu akan mudah dihancurkan”. Ternyata kenyataannya tidak begitu, negara-negara Arab tidak bersatu alias fragmented,” tuturnya.

Semua itu menyebabkan perjuangan membebaskan Yerusalem di mana ada Masjidil Aqsa yang disebut di kitab suci Al-Quran, tidak maksimal. Palestina seakan sendirian menghadapi kebrutalan Israel bertahun-tahun.

Sementara Indonesia sejak lama mendukung kemerdekaan Palestina. Semua presiden Indonesia sampai Presiden Jokowi secara terbuka juga tetap menyuarakan dukungannya terhadap Palestina.

Bahkan ketika dulu Gaza digempur Israel dengan bom-bom canggih, kondisi Gaza menjadi porak-poranda, banyak korban mati dan luka-luka serta dipenjara Israel, dan ketika dunia Arab masih sibuk urusannya sendiri, masyarakat Indonesia malah mendirikan Rumah Sakit di jalur Gaza. Namanya Rumah Sakit Indonesia (RSI).

Bangunan itu berdiri di tanah wakaf pemerintah Palestina seluas 16.261 meter persegi. Kapasitas rumah sakit terdiri dari 100 tempat tidur. RS ini baru-baru ini merawat warga Palestina korban penembakan tentara Israel ketika berunjuk rasa menentang keputusan Trump.

“Dalam kasus pasca keputusan Donald Trump ini, sebenarnya peran Indonesia bisa dilakukan dengan maksimal, menggalang solidaritas negara-negara Timur Tengah (menyadarkan mereka akan pentingnya masalah Palestina ini), dan harus bersuara lantang menentang keputusan AS ini,” tandas Cholis.

Yerusalem yang diklaim Presiden AS Donald Trump sebagai ibu kota Israel.

Diakuinya, selama ini politik luar negeri Indonesia selalu menghindari cara-cara megaphone diplomacy atau tidak mau bersuara keras memperjuangkan sikapnya. Hal itu dibuktikan pada 10 Desember 2017 Menlu Indonesia Retno Marsudi terbang ke Yordania bertemu dengan Menlu Yordan dan Palestina membahas keputusan Trump tentang Yerusalem ini.

“Inilah pentingnya persoalan Yerusalem bagi Indonesia untuk perdamaian dunia. Sudah saatnya Indonesia tidak lagi melakukan diplomasi dengan silent mode-megaphone diplomacy karena Indonesia memiliki posisi strategis, dekat dengan semua negara di Timur Tengah, Eropa dan Amerika Serikat. Politik Bebas Aktif Indonesia harus dijalankan dengan seksama terukur dan agresif, bukan dengan cara diam-diam, karena memang sudah diamanatkan di UUD 45,” imbuhnya.

Ditambahkan Cholis, Indonesia tanpa harus bersikap sombong, harus memberi contoh negara-negara Timur Tengah seperti waktu dulu menghadapi penjajah Belanda dan Jepang. Ketika itu masyarakat Indonesia tidak tersekat-sekat dengan sektarian dan suku.

“Masyarakat Islam ada di mana-mana, masyarakat Hindu di Bali, masyarakat Kristen di NTT dan Sulawesi Utara. Semua sama-sama memiliki tujuan yaitu merdeka dari segala bentuk penindasan. Bung Tomo dalam pidatonya sebelum pecah pertempuran melawan Inggris di Surabaya, dengan lantang dia menyebut Arek-Arek Suroboyo, Yong Ambon, Yong Sumatra dan suku-suku lainnya bersatu melawan Inggris. Semangat Indonesia seperti inilah yang perlu dishare ke negara-negara Timur Tengah,” tambah Cholis.

Dengan semangat Indonesia itu, maka bisa mengesampingkan kepentingan politik wilayah Timur Tengah. Tentunya dengan menghilangkan sekat-sekat sektarian termasuk soal syiah, sunni, alawite, Islam, Kristen dan sebagainya dalam menghadapi Common Issue yaitu masalah perdamaian Palestina.

Indonesia, lanjut Cholis, perlu menunjukkan dirinya pada dunia, bahwa Indonesia dengan posisinya yang strategis itu memiliki kepedulian terhadap bangsa-bangsa dunia yang tertindas dari segala bentuk penjajahan di muka bumi. “Indonesia harus menunjukkan pada dunia bahwa Undang Undang Dasar 45 nya sudah mengamanatkan agar Indonesia ikut mewujudkan perdamaian dunia,” pungkasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here