Indonesia Harus Teliti Menggalang Kekuatan Melawan Zionis

0
193

Nusantara.news, Jakarta – Seluruh dunia mengecam pemindahan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem. Seluruh dunia mengecam keputusan dan deklarasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui dan akan memindahkan kedubes Amerika ke Jerusalem. Namun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu tak memperlihatkan rasa gentar. Sebaliknya malah meminta Palestina untuk menerima pengakuan Yerusalem sebagai Ibukota Israel.  Keberanian ini jelas terkait dengan penguasaan Israel terhadap perang non-konvensional mulai dari perang proxy, perang asimetris, perang cyber yang kombinasi ketiganya yakni perang hybrid. Indonesia sebagai salah satu penentang utama pemindahan ibukota Israel ke Jerusalem, harus hati-hati menggalang kekuatan dalam pengertian teliti terhadap negara-negara yang sudah menjadi proxy Israel.

Proxy War

Israel adalah sebuah negara kecil di Timur Tengah. Luas negaranya hanya 20.770 km persegi atau hanya seperenam dibandingkan luas wilayah Pulau Jawa yang mencapai 128.297 km persegi.  Jumlah penduduknya hanya 8,547 juta tahun 2016. Sementara penduduk Jakarta pada tahun yang sama mencapai 10,3 juta penduduk. Bagaimana negara kecil ini begitu berani menantang dunia yang maha besar? Diduga kuat karena negara terkutuk itu berkemampuan menjalankan apa yang disebut perang non-konvensional mulai dari perang proxy, perang asimetris, perang cyber dan kombinasi ketiganya yakni perang hybrid.

Israel melalui salah seorang warganya bernama Mayer Rothschild, keturunan Jerman-Jahudi, yang merupakan orang terkaya di muka bumi, dapatlah disebut sebagai pelopor perang non-konvensional di muka bumi.

Presiden Amerika Serikat JF Kennedy yang pembunuhannya dikhabarkan diotaki oleh keluarga Rothschild, sudah mencium hal itu.  Dalam satu pidato di Akademi Militer West Ponit Amerika Serikat tahun 1962, Kennedy bahkan sudah mengingatkan tentang perang non konvensional itu.

Ketika itu Kennedy mengatakan, “Ini adalah jenis perang yang lain, baru dalam intensitasnya, kuno dalam asal-mulanya. Perang oleh gerilyawan, pemberontak, pengacau, pembunuh; perang dengan dadakan, bukan dengan pertempuran terorganisir; dengan penyusupan, bukan dengan agresi; mencari kemenangan dengan merontokkan dan menyusutkan musuh, bukan dengan menghadapinya… Mereka memanfaatkan kerusuhan ekonomi dan konflik etnis, mereka berusaha berada dalam situasi yang harus kita masuki. Ini adalah tantangan yang ada di depan kita jika kebebasan harus diselamatkan; suatu strategi yang seluruhnya baru, jenis kekuatan yang seluruhnya berbeda, dan oleh karena itu memerlukan bentuk pelatihan militer yang baru sama sekali.”

Perang jenis itulah yang sekarang dikenal dengan perang proxy, berkembang menjadi perang asimetris, berkembang lagi menjadi perang cyber dan terus berkembang dengan kombinasi ketiganya menjadi perang hybrid.

Walau perang proxy baru populer sekarang ini, tetapi Rothschild sudah melontarkan ungkapan itu pada tahun 1790 dengan mengatakan, dirinya akan mengendalikan perputaran uang di seluruh negara. “Hanya saya yang bisa menerbitkan dan mengendalikan uang di suatu negara, dan saya tidak peduli siapa yang menulis hukumnya,” ungkap Mayer Rothschild saat itu.
Satu tahun setelahnya, Rothschild berhasil mengendalikan perputaran uang di Amerika Serikat (AS) melalui wakil dari kabinet Washington, Alexander Hamilton. Saat itu, AS mendirikan bank sentral bernama First Bank of the United States.
Tutup usia pada 1811, lima anak laki-laki dari sepuluh anak Rothschild meneruskan jejaknya mendirikan bank di sejumlah negara lain. Kelima anak laki-laki Rothschild itu membangun bank di Frankfurt, Naples, Wina, Perancis dan London. Lima anak panah dalam genggaman tangan yang menjadi logo bank-bank Rothschild merupakan simbol persatuan keluarga Rothschild. Logo itu juga menjadi tanda bangkitnya dinasti perbankan global Rothschild.

Keluarga Rothschild berhasil memiliki hampir semua bank sentral di dunia, kecuali Iran, Kuba, dan Korea Utara.

Keturunan Rothschild menempatkan orang-orang kepercayaan dari keluarganya untuk mengatur dan mengendalikan bank-bank sentral tersebut, dan melalui orang-orang kepercayaannya, Keluarga Rothschild juga mengendalikan tiap pemerintahan di level makro dan tidak takut pada apapun.

Perang proxy adalah perang para kaki tangan. Awalnya, pengendalian bank sentral di seluruh dunia  mungkin hanya diarahkan untuk mengendalikan kekayaan mereka. Tetapi saat ini, sudah barang tentu juga untuk mengendalikan negara-negara melaui pengendalian atas operasi bank sentral yang dimiliki.

Protokol Zionis dan Perang Asimetris

Masyarakat dunia juga mengenal apa yang disebut dengan Protokol Zionis atau The Protocols of Zion. Protokol  Zionis lahir dan dikukuhkan dalam Kongres Zionis di Basel – Swiss tahun 1897. Kongres tersebut juga membentuk Organisasi Zionis Dunia (World Zionist Organization) yang diketuai oleh Hertzel.

Protokol tersebut bocor ke tangan Pendeta Orthodox Rusia, Sergey Nylos tahun 1921. Tahun 1927, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh wartawan Inggris, Victor E Marden, dengan judul ”The Protocols of The Learned Elders of Zion”.

Isinya terdiri dari 24 poin, mulai dari upaya memanipulasi falsafah kemerdekaan suatu bangsa, menciptakan ketegangan antara pemerintah dan rakyat di berbagai negara, dan mengadu domba antar negara, dengan mengeksploitasi pemikiran Darwin, Karl Marx, Adam Smith dan Nitche, melalui penguasaan media.

Kemudian memprovokasi para politisi agar berebut kekuasaan melalui partai politik dengan segala cara, dan memanfaatkan serta mengadu domba para buruh dengan para orang kaya (konglomerat), untuk kepentingan perusahaan Yahudi. Membangun Gerakan Freemasonry secara besar-besaran di seluruh dunia dan menanamkan sikap atheisme dengan bungkus liberalisme kepada umat beragama diluar Yahudi, agar tidak ada lagi umat beragama yang memusuhi Yahudi.

Hinakan semua Tokoh Agama Non Yahudi di pandangan masyarakat, dan jauhkan masyarakat dari ajaran Agama selain Yahudi, serta ciptakan pertikaian antar umat beragama di luar Yahudi.

Membangun Lembaga Keuangan Dunia untuk menguasai Ekonomi sekaligus menjerat semua negara agar tunduk kepada aturan Yahudi.

Penguasaan media untuk membentuk dan membuat opini umum sesuai kemauan Yahudi, sekaligus memperalat Amerika dan Eropa untuk menekan atau menyerang negara mana saja demi melindungi kepentingan Yahudi Internasional.

Mencetak sarjana dan cendikiawan serta ekonom dan politisi di berbagai negara melalui doktrin di perguruan-perguruan tinggi Amerika dan Eropa dengan kurikulum Yahudi, agar pro Yahudi.

Agen Rahasia Yahudi harus disebar ke seluruh Dunia untuk menghimpun data-data dan memuluskan jalan Gerakan Free Mansory menuju Kerajan Zionis Internasional, serta menghabisi siapa saja yang mencoba untuk menghalangi.

Menghapus semua kurikulum pendidikan anti Yahudi di negara mana pun, dan menerapkan sistem pendidikan yang menjauhkan bangsa-bangsa dari pendidikan agama mau pun budi pekerti, karena manusia non Yahudi adalah Gentiles atau Ghoyim / Ghoyum yaitu Binatang Ternak yang diciptakan hanya untuk melayani Yahudi.

Menjatuhkan popularitas semua tokoh agama non Yahudi, dan mengambil alih pengaruhnya untuk menguasai para pengikutnya buat kepentingan Yahudi.

Merekayasa kerusuhan dan keonaran di berbagai negara, lalu tampil sebagai pahlawan penyelamat untuk meraih simpatik masyarakat internasional.

Membunuh karakter para tokoh politik anti Yahudi, dan menjerat berbagai negara dengan utang kepada Lembaga Keuangan Yahudi Internasional, agar selalu tunduk kepada kemauan Yahudi, dan lain sebagainya.

Protokol zionis ini tidak lain adalah bagian dari perang yang dikenal sebagai perang asimetris, yakni perang yang dilakukan untuk melemahkan lawan melalui upaya melemahkan tokoh-tokoh masyarakat suatu negara, adu domba antar umat beragama, penguasaan media massa, kerusuhan massal, terorisme, narkoba, dan lain sebagainya.

Saat ini juga sudah populer sejumlah istilah di media sosial mulai dari hacking dan anti-hacking. Aktivitas hacking dan anti-hacking ini bertujuan mencuri data hingga melumpuhkan sistem yang dimiliki oleh suatu negara. Inilah yang disebut dengan perang cyber.

Seperti juga cyber crime, bentuk perang cyber bermacam-macam. Selain hacking dan anti-hacking tadi, ada juga penyebaran propaganda melalui media sosial, dalam bentuk gambar-gambar maupun artikel atau kegiatan bully mem-bully. Termasuk dalam perang cyber ini adalah kegiatan penyebaran virus untuk berbagai kepentingan mulai dari upaya melumpuhkan reaktor nuklir negara lawan, mengacaukan data perang negara lawan dan lain sebagainya.

Kemudian ada yang disebut dengan perang hybrid, yakni sebuah strategi militer yang memadukan berbagai aspek dalam peperangan mulai dari pelaku perang (state actor dan non state actor), metode berperang (konvensional dan non konvensional) yang didukung oleh keunggulan teknologi informasi dan komunikasi, termasuk kemampuan cyber dan kemampuan nuklir, radiologi, senjata biologi dan kimia. Penggunaan teknologi informasi dalam ancaman perang hybrid pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan politik, intelijen, militer dan sistem persenjataannya, manajemen, kemampuan cyber, publikasi dan komando dan pengendalian.

Salah satu basis perang hybridi adalah tekonologi informasi dan komunikasi. Teknologi ini saat ini dikuasai oleh Goo gle yang didirikan oleh Sergey Mikhailovich Brin yang lagi-lagi berasal dari keluarga Yahudi.

Dari hal-hal yang dikemukakan di atas, tampak bahwa Israel sudah mempersiapkan dan sudah melakukan perang konvensional sejak lama. Amerika dan Inggris adalah proxy utamanya. Tampaknya itu pula yang membuat Benyamin Netanyahu tak gentar atas reaksi dunia yang keras.

Indonesia yang memosisikan diri sebagai salah satu negara penentang utama  pemindahan Ibukota Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem, harus teliti dalam mengalang kekuatan. Salah memilih kawan justru bis terjebak dalam perangkap Israel. Indonesia harus teliti memilih negara yang bukan proxy Yahudi.

Sementara terkait dalam negeri, Indonesia juga harus sensitif mencermati kaki tangan dan penetrasi perang nonkonvensional yang sudah masuk ke berbagai lembaga dan organisasi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here