Indonesia Ladang Korporasi Berebut Bisnis Benih

1
85
Petani mencabuti bibit padi di area persawahan Desa Kalidoro, Pati, Jawa Tengah, Kamis (1/3). Petani di kawasan tersebut telah memulai musim tanam padi. ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/18.

Nusantara.news, Surabaya – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memprediksi pada 2020, jumlah populasi penduduk Indonesia mencapai 271 juta jiwa. Menurut proyeksi PBB, dua pertiga populasi pada 2050 akan tinggal di wilayah perkotaan. Pertimbangan ini yang menjadikan ketahanan pangan negeri ini terancam karena kurangnya tenaga produktif di sektor pertanian.

Di sisi lain, periode 2030-2035 Indonesia bakal mengalami puncak era bonus demografi. Sinyal ini sudah mulai terlihat ketika angka ketergantungan usia tidak produktif terhadap usia produktif pada 2016 mencapai 48,4 persen. Tidak seperti di awal-awal Revolusi Hijau melanda dunia (1971 mencapai 86,6 persen).

Celah ini jadi pintu masuk korporasi untuk memberi pilihan instan menutup kekurangan tenaga produktif dengan produk pertanian yang diberi label lebih cepat panen dengan hasil melimpah. Riset alami bangsa agraris di pelosok Nusantara yang sudah berlangsung selama beberapa generasi, digantikan oleh riset industri dengan melibatkan pengetahuan akan rekayasa genetika maupun pengayaan organisme biologi dalam pengadaan benih.

Hasilnya memang cepat terlihat namun seiring waktu, justru menggerus kemampuan tanah secara alami dalam mengelola komoditi yang ditanam. Tapi yang paling ironis adalah hilangnya kemampuan petani memuliakan benih secara mandiri dan menggantungkan bibit dan pupuk dari korporasi. Hal ini membuat korporasi benih leluasa berlomba menguasai penyebaran benih ke lahan persawahan seluas 8.087.393 hektare (Data BPS 2015). Termasuk dengan indikasi mempengaruhi pembuat regulasi agar petani kian tergantung dengan hasil produksi korporasi.

Merujuk rejeki nomplok di depan mata itu, tak heran beberapa perusahaan benih internasional menjadikan Indonesia sebagai ladang bisnisnya. Lima di antaranya bisa disebut sebagai penguasa benih dunia dengan Mosanto Grup sebagai leadernya. Namun yang terbesar di Indonesia saat ini adalah PT Benih Inti Subur Intani (BISI).

Melalui PT Tanindo Subur Tani, PT BISI merupakan perusahaan yang didirikan PT Charoen Pokphan Group (Thailand). Mereka hampir menguasai sebaran benih jagung hibrida, padi hibrida dan holtikultura. Terutama setelah ada program Perhutanan Sosial yang berwujud penggarapan lahan hutan Perhutani oleh petani di era Presiden Joko Widodo.

Sepak Terjang Membangun Citra
Mosanto Corporation

Menjadi produsen benih papan atas dunia yang memproduksi bibit padi, sayuran, dan jagung. Perusahaan yang berpusat di Amerika ini sempat menguasai 88 persen industri benih dunia. Tak hanya itu, produksi pestisida dan pupuk buatannya juga ikut menyebar seiring ekspansi bisnis ke berbagai negara.

Nama Mosanto di Jawa Timur sempat merebak pada 2005 ketika menjerat petani di Nganjuk dengan tuduhan meniru teknologi pembenihan mereka. Perusahaan yang berpusat di Amerika ini pula yang memaksa petani di Bulukumba Sulawesi Selatan untuk menanam kapas transgenik yang terbukti merugikan petani pada 2001.

Namun jejak hitam Mosanto bisa dirunut sejak perang Vietnam. Sebelum berubah menjadi divisi produksi pestisida dan pupuk, hasil penelitian laboratorium Mosanto digunakan untuk memproduksi senjata kimia ‘agent orange’. Dampak senjata ini masih dirasakan hingga kini. Tak hanya bangsa Vietnam, senjata penyebab kanker dan cacat bawaan juga diderita pasukan Amerika yang berperang jauh dari kampung halamannya.

Terkait sektor pertanian di Indonesia, pada kurun 1997-2002, Mosanto dituding ada di balik gratifikasi terhadap pejabat di Kementerian Pertanian yang totalnya mencapai 700 ribu dolar Amerika. Suap itu diduga untuk melindungi kiprah Mosanto dalam penjualan produk pestisida tak resmi yang harganya dimark up.

Meskipun ditambah citra negatif dari kasus-kasus di belahan dunia lainnya, Mosanto tetap sukses menjual benih dengan nilai 7,3 miliar dolar US (2009). Citra negatif ini pula yang memaksa Mosanto takluk dan memilih diakuisisi Bayer beberapa tahun berselang dengan nilai 66 miliar dolar US.

Bayer Corp Science

Merek dagang Nunhems yang dijalankan PT Nunhems Indonesia menjadi kepanjangan korporasi yang berpusat di Jerman ini untuk berebut ladang bisnis benih holtikultura. Energi pangan sebagai kebutuhan utama di masa depan diprediksi jadi penyebab perusahaan kimia dan farmasi terkemuka ini mulai fokus bergerak pada komoditi pertanian. Terutama ketika mengambil alih kepemilikan Mosanto Coproration.

Berbeda dengan Mosanto, Bayer masih menjaga citra dengan tidak larut dalam pengembangan bisnis benih dari hasil rekayasa genetika. Namun di Indonesia, perusahaan ini masih dianggap sebagai leader produsen pestisida. Indonesia bisa jadi salah satu pertimbangan utama manuver Bayer lebih serius menerjuni bisnis benih dengan keberadaan petani yang mencapai lebih dari 100 juta orang.

Sygenta Indonesia

Perusahaan ini merupakan gabungan antara PT Novartis Agro Indonesia dengan PT Zeneca Agri Products Indonesia yang kantor pusatnya ada di Swiss. Fokus dalam penyediaan benih sayuran, jagung transgenik dan perkebunan, Sygenta juga menempati peringkat kedua dalam pasar pestisida (menguasai 15 persen). Dalam setahun, Sygenta memproduksi 15 juta liter (data 2015) dan diprediksi meningkat 5 juta liter setiap tahunnya.

DuPont Pioneer Indonesia

Anak perusahaan Pioneer Hi-Bred Internasional Inc dari Amerika lebih dikenal sebagai penyedia benih jagung hibrida dengan merek dagang Pioneer. Namun di sini, DuPont lebih menekankan bisnisnya pada produksi pestisida yang menjadi basis pasar untuk Asia Tenggara. Dua pabrik skala besar didirikan di Jawa Timur.

BISI Internasional Tbk

Sebagai satu-satunya pemain asal Asia Tenggara, perusahaan yang didirikan PT Charoen Pokphan Group asal Thailand ini sukses menjadi yang terdepan dalam bisnis penyediaan benih, khususnya padi dan jagung. Salah satu kelebihan produk BISI adalah hasil pengembangan dalam riset selain kultur agraris yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Termasuk kepercayaan yang diraih dari pemerintah dalam sukseskan program ketahanan pangan saat ini.

Di luar 5 besar penguasa benih di atas, sebenarnya masih ada korporasi yang komposisi sahamnya ada kepemilikan asing. Setidaknya, ada 12 perusahaan multinasional yang menjalankan bisnisnya di Indonesia. Mereka nyaris tidak terkalahkan oleh perusahaan dalam negeri yang 100 persen sahamnya dimiliki anak bangsa. Fakta ini yang menjadikan Indonesia seolah menyerahkan kedaulatan pangannya pada kepentingan asing ketika urusan benih sebagai dasar masih dipandang sebelah mata.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Pending Dadih (kanan) didampingi Direktur Bisnis Produk Industrial PT Pindad Heru Puryanto (kedua kiri) dan Direktur Alat dan Mesin Pertanian Kementerian Pertanian Bustanul Arifin (kiri) mengoperasikan Mesin Pemanen Padi dan Jagung (Combine harvester PP160) Produksi PT Pindad. Ini merupakan bagian dari pengembangan produk PT Pindad dalam upaya mendukung penguatan ketahanan pangan dan program pembangunan pemerintah. ANTARA FOTO/Novrian Arbi/aww/18.

Enviromentalis India terkemuka Vandana Shiva pernah berujar bahwa benih adalah isu terbesar di seputar demokrasi pangan. Pangan yang demokratis adalah pangan yang bisa diadakan oleh siapa saja terutama oleh para petani, termasuk pengadaan benih tanaman. Keberadaan korporasi yang dimotori negara maju harus disikapi sebagai keinginan untuk menjadi pemain dominan karena korporasi bertanggung jawab kepada keuntungan pemilik modal.

Karena itu, korporasi harus dijembatani dengan ideologi korporasi yang lebih manusiawi dan menjadi bagian dari harmoni alam. Korporasi harus menjadi biokorporasi untuk menempatkan soal benih ini tidak menjadi politik pangan yang egosentris dan hanya mementingkan keuntungan pemilik modal, tapi juga melihat hakikat dan siklus benih sebagai takdir alam yang harus dijaga agar itu juga berkembang.

Negara harus mengambil peran lebih dengan memberdayakan petani dan pertanian. Bukan justru dengan merebut peran pembenihan alami oleh petani untuk diberikan kepada korporasi. Jika masih terjebak pada kondisi ini, petaka besar akan mengancam ketika krisis pangan mulai melanda Indonesia.[]

1 KOMENTAR

  1. bayer melalui bibit yang bernama arize telah hancurkan panen di wilayah jawa timur yakni mojokerto, jombang, lamongan tuban.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here