Indonesia, Negeri Berkubang Teror

0
394
Suasana lokasi ledakan yang diduga bom di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/5) malam.

Nusantara.news, Jakarta – Lagi-lagi Indonesia diguncang aksi teror. Baru saja terjadi ledakan di toilet Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Rabu (24/05/2017). Ledakan pertama terjadi pukul 21.00 WIB, sedangkan ledakan kedua terjadi 5 menit kemudian. Menurut Wakapolri Komjen Pol Sjafruddin ada tujuh orang korban, dua di antaranya meninggal. Salah satu yang meninggal adalah Bripda Taufan Al Agung, anggota Gasum Sabhara Unit 1 Peleton Polda Metro Jaya. Di antara korban luka juga ada dua polisi yaitu Bripda Feri dan Bripda Yogi, rekan satu kesatuan dengan Bripda Agung.

Belum ada keterangan tentang bahan peledak apa yang digunakan. Tapi melihat skala ledakan, besar kemungkinan adalah bahan peledak organik, atau bukan merupakan bahan peledak racikan. Menurut sejumlah saksi mata, ledakan terdengar keras, tapi tidak ada api yang berkobar. Ini mengindikasikan, bahan peledak memang jenis organik. Sebab, bahan peledak jenis ini hanya menghasilkan daya ledak, bukan api.

Terorisme dengan menggunakan bahan peledak bukan barang baru di Indonesia. Meski istilah teror bom baru “memasyarakat” sejak Bom Bali tahun 2002, namun Indonesia sudah kenyang dengan malapetaka itu dalam setengah abad terakhir. Pelaku rangkaian aksi teror itu, selain orang Indonesia, juga ada orang asing.

Ledakan di toilet Terminal Kampung Melayu ini adalah rentetan panjang dari aksi teror tersebut.

Berikut daftar panjang aksi teror yang pernah terjadi di negeri ini.

1962: Bom teror pertama yang meledak di Indonesia setelah merdeka terjadi tahun 1962.  Presiden Soekarno yang tengah berkunjung ke sekolah Perguruan Cikini hendak dibunuh melalui ledakan bom. Untung Sang Proklamator itu selamat.

11 November 1976: Setelah lama tak pernah lagi ada teror bom, tiba-tiba Masjid Nurul Iman di Padang diledakkan orang tak dikenal. Siapa pelakunya tak pernah tertangkap hingga kini. Hanya menurut aparat keamanan, sang teroris itu bernama Timzar Zubir dari Komando Jihad.

20 Maret 1978: Sekelompok pemuda melakukan peledakan di beberapa tempat di Jakarta dengan bom molotov, dan membakar mobil Presiden Taxi untuk mengganggu jalannya Sidang Umum MPR.

14 April 1978: Lagi-lagi mesjid jadi sasaran. Kali ini adalah Masjid Istiqlal, Jakarta. Pelakunya pun tak pernah diketahui.

4 Oktober 1984: Bank BCA di Pecenongan, Jakarta Pusat diledakkan. Beberapa nama terkenal terseret kasus ini, seperti A.M. Fatwa, Letjen Purn. HR Dharsono, mantan Menteri Muda Perindustrian H.M. Sanusi. Menurut pengakuan pelaku di lapangan, aksi ini pelampiasan kekecewaan mereka atas Peristiwa Tanjungpriok.

24 Desember 1984: Sekolah Seminari di Malang diledakkan. Pelakunya juga tak diketahui.

20 Januari 1985: Candi Borobudur diledakkan. Menurut versi polisi, pelakunya adalah Husein Al Alhabsy yang marah dengan peristiwa Tanjungpriok. Tapi Husein membantah, dan menyebut pelakunya adalah Mohammad Jawad. Husein, mubalig tuna netra itu, dipenjara seumur hidup. Namun 1999 dibebaskan berkat grasi yang diberikan Presiden Habibie.

16 Maret 1985:  Sebuah bus malam, Pemudi Ekspress, tujuan Bali diledakkan di daerah Banyuwangi. Pelakunya Abdulkadir Alhasby. Kasus ini konon juga berkait dengan Peristiwa Priok. Bahan peledak yang digunakan adalah TNT batangan PE 808/tipe Dahana.

14 Mei 1986: Kali ini pelaku bom adalah orang asing yang menamakan diri Brigade Anti Imperialisme dari Jepang. Sasarannya adalah Wisma Metropolitan dan Hotel President (sekarang Hotel Nikko). Dua bangunan itu milik pemerintah yang dibeli dengan pampasan perang dari Jepang.

13 Juni 1986: Kelompok dari Jepang itu diduga melakukan aksi lanjutannya dengan meluncurkan roket dari kamar 827  Hotel President ke Kedubes Jepang dan Kanada.

13 September 1991: Ledakan bom di Mragen-Demak, Jawa Timur. Ketika itu, Xanana Gusmao sebagai pemimpin perjuangan Timor Leste menyatakan bertanggungjawab atas terjadinya ledakan yang diduga dilakukan oleh tiga pemuda Timor Leste.

30 September 1991: : Hotel Mini di Surabaya diledakkan dengan potassium klorat (bahan pembuat bom ikan). Pelakunya tidak diketahui.

18 Januari 1998: Di tengah ribut-ribut reformasi, bom meledak di Rumah Susun Senen, Jakarta.

11 Desember 1998: Tempat parkir kendaraan di Atrium Plaza di Jakarta Pusat diledakkan. Sejumlah mobil rusak.

2 Januari 1999: Pusat perbelanjaan Ramayana di Jalan Sabang, Jakarta diledakkan sehingga merusak bagian depan toko itu. Pelakunya adalah orang yang sama engan peledakan Atrium.

15 April 1999: Plaza Hayam Wuruk di Jakarta Barat diledakkan oleh sejumlah pemuda yang mengaku anggota Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN). Dalam pemeriksaan terbukti mereka cuma berniat merampok. Umar Ranto, pemimpin kelompok itu adalah seorang residivis yang sebelumnya merampok Bank BCA di Jakarta Kota.

28 Mei 2000: Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Medan dibom oleh orang tak dikenal.

29 Mei 2000: GKPI lagi-lagi jadi sasaran. Pelakunya pun tetap tak jelas.

4 Juli 2000: Sebuah bom buatan PT Pindad menghancurkan toilet Kejaksaan Agung, Jakarta.

1 Agustus 2000: Rumah Dubes Filipina untuk Indonesia di Jalan Imam Bonjol, Jakarta meledakan dan menewaskan dua staf lokal kedubes. Ini adalah bom terbesar sampai saat itu. Konon bom ini menggunakan Composition-4 (C-4). Beberapa pelakunya punya kaitan tak langsung dengan sejumlah aksi bom lainnya setelah itu. Dan nama yang kemudian terkenal adalah Faturrahman Al Ghozi, yang belakangan tertembak mati di Cotabato, Filipina Selatan.

27 Agustus 2000: Granat meledak di kompleks Kedutaan Besar Malaysia di Kuningan, Jakarta. Tidak ada korban jiwa. Di hari yang sama juga ada ledakan bom rakitan di depan bengkel sepeda milik di Jalan Bahagia, Medan, dan selang beberapa menit kemudian bom meledak lagi di pagar rumah Ppendeta J Sitorus.

13 September 2000: Bom dengan skala besar meledak di tempat parkir gedung Gedung Bursa Efek Jakarta. Korban tewas 10 orang, 15 orang luka, serta puluhan mobil rusak. Pelakunya diduga punya kaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Malam Natal 2000: Sejumlah gereja yang dipenuhi jemaat yang merayakan Malam Kudus di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru, diledakkan. Total ada 34 lokasi ledakan di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 orang,  37 mobil rusak, dan 15 gereja yang menjadi lokasi peledakan bom. Inilah awal keterlibatan  Hambali dalam rangkaian teror di Indonesia.  Pria asal Cianjur yang ditangkap di Ayutthaha Thailand, 2003, oleh aparat intelijen Thailand. menunjuk Imam Samudera untuk pelaksana eksekusi Batam dan Idris alias Gembrot untuk Pekanbaru.

Januari 2001: Taman Mini Indonesia Indah gempar karena ditemukan sebuah bom yang dibawa seorang wanita bernama Elize M. Tuwahatu.

10 Mei 2001: Asrama mahasiswa asal Aceh, Yayasan Kesejahteraan Mahasiswa Iskandar Muda, di Jalan Guntur, Manggarai Jakarta diledakkan oleh bom. Tiga orang tewas. Bom ini diduga juga berkait dengan GAM.

22 Juli 2001: Gereja Santa Anna di  Pondok Bambu Jakarta Timur hancur karena ledakan bom.

13 Agustus 2001: Plaza Atrium kembali dibom. Pelaku seorang warga Malaysia bernama Taufik bin Abdul Halim. Taufik yang kakinya hancur akibat bomnya sendiri itu dijatuhi hukuman mati.

23 September 2001: Lagi-lagi bom meledak di tempat parkir Plaza Atrium

1 Januari 2002: Sebuah granat Bom meledak di Restoran Ayam Goreng Bulungan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pelakunya seorang pemuda asal Aceh yang tewas ditempat.

9 Juni 2002: Tempat parkir lagi-lagi jadi tempat peledakan bom. Kali ini terjadi di Hotel Jayakarta dan Diskotik Eksotis, Jakarta Barat.

1 Juli 2002: Bom kali ini mengagetkan, karena terjadi di Mal Graha Cijantung, Jakarta dekat Komplek Kopassus. Mal itu sendiri milik yayasan pasukan komando itu.

12 Oktober 2002: Hari itu terjadi aksi teror bom paling dahysat dalam sejarah Indonesia. Bom meledak di Paddy’s Café dan Sari Club, dua restoran di jalan Legian, Kuta, Denpasar yang hanya dimasuki orang bule. Tiga ledakan terjadi dalam waktu berdekatan. Sebelumnya di dekat kantor konsulat AS di Renon, Denpasar. Ledakan di Legian menewaskan 187 tewas dan 385 luka-luka.

Lokasi ledakan Bom Bali I di Paddy’s Cafe, di Kuta, 2002.

3 Februari 2003: Wisma Bhayangkari Mabes Polri diledakkan oleh seorang perwira polisi. Tidak ada korban jiwa akibat ledakan itu. Bom ini adalah bom rakitan yang dibuat dari pipa paralon sepanjang 11 cm dengan diameter 16 cm, ditutup dengan lempengan baja yang dilapisi dengan semen

24 April 2003: Ditemukan ledakan bom rakitan low explosive di belakang kantor PBB. Ledakan berkekuatan rendah. Tidak ada korban dalam kejadian itu.

27 April 2003: Kali ini yang jadi sasaran adalah Terminal Keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Satu keluarga yang terdiri dari enam orang jadi korban luka-luka, termasuk seorang baby sitter mereka yang kakinya terputus.

14 Juli 2003: Sebuah bom kecil meledak di Gedung DPR dan menghancurkan saluran pendingin udara. Tidak ada korban jiwa.

5 Agustus 2003: Sebuah bom besar sekelas Bom Bali kembali menghantam. Kali ini sasarannya Hotel JW Marriott, Jakarta. Ini merupakan aksi bom bunuh diri yang dilakukan Asmar Latin Sani, alumnus Pesantren Ngruki, yang mengendarai Toyota Kijang berisi bahan peledak. Model bomnya mirip dengan Bom Bali yang menggunakan bahan campuran organik dan anorganik. Korban tewas 13 orang.

7 Agustus 2003: Bom di Poso, Sulawesi Tengah.

12 September 2003: Lagi-lagi bom meledak di Poso.

14 Januari 2004: Seorang tukang mi goreng di Medan bersama seorang anggota GAM meledakkan bom di kota itu.

10 Januari 2004: Sebuah bom besar meledak di di Kafe Samfodo Indah di Kota Palopo, Sulawesi Selatan yang menewaskan mengakibatkan empat orang. Pelakunya, Arman, Idil, Ahmad Rizal, Jeddi, Benardi dan Jasmin. Enam orang lainnya yang masih buron adalah Aswandi alias Aco bin Kasim, Ishak, Nirwan, Kahar dan Agung Hamid. Mereka marah karena kafe itu sering jadi tempat maksiat.

10 September 2004
: Bom di Kedubes Australia. Ini merupakan aksi terorisme besar ketiga yang ditujukan terhadap Australia yang terjadi di Indonesia setelah Bom Bali 2002 dan Bom JW Marriott 2003.

21 Maret 2005: Dua bom meledak di Ambon.

28 Mei 2005: Bom Tentena,  22 orang tewas.

8 Juni 2005: Bom meledak di di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Tidak ada korban jiwa.

1 Oktober 2005: Terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka. Ini dikenal dengan nama Bom II.

31 Desember 2005: Bom di Pasar Palu menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang.

17 Juli 2009: Bom di di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta. Empat orang pengusaha asing yang sedang bertemu di hotel itu tewas. Mereka adalah Timothy D MacKay, Presiden Direktur PT Holcim Indonesia, salah satu produsen semen terbesar di Indonesia, Garth McEvoy (54), Nathan Verity (38) dan Craig Senger (36),.

15 April 2011: Bom di Masjid Mapolresta Cirebon saat Salat Jumat yang menewaskan pelaku dan melukai 25 orang lainnya.

22 April 2011: Rencana pengeboman Gereja Christ Cathedral Serpong, Tangerang Selatan, Banten berhasil digagalkan Densus 88 Anti Teror.

25 September 2011: Bom usai kebaktian di GBIS Kepunton, Solo. Pelaku tewas dan 28 lainnya terluka.

19 Agustus 2012: Granat di Pospam Gladak, Solo. Tidak ada korban.

9 Juni 2013: Bom di depan Masjid Mapolres Poso. Pelaku tewas dan seorang pekerja bangunan terluka.

14 Januari 2016: Bom Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

5 Juli 2016: Bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta Pelaku tewas dan seorang polisi terluka. Pelaku terkait dengan jaringan Bom Sarinah, Jakarta.

28 Agustus 2016: Bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansur, Medan. Pelaku mengalami luka bakar, dan seorang pastor terluka.

13 November 2016: Bom molotov di depan Gereja Oikumene Kota Samarinda. Empat anak-anak terluka. Satu di antaranya, Intan Marbun yang baru berusia 3 tahun, meninggal dunia akibat luka bakar 70 persen.

14 November 2016: Bom molotov dilemparkan keVihara Budi Dharma, Singkawang, Kalimantan Barat.

24 Mei 2017: Ledakan di toilet Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here