Indonesia, Utang dan Negeri Salah Kelola

0
197
Posisi Silang Negara Indonesia

Nusantara.news, Surabaya – Indonesia mestinya menjadi negara industri raksasa, karena posisinya yang sangat strategis. Berada di antara dua benua dan dua samudera dengan kandungan kekayaan alam yang melimpah baik di daratan dan lautan.

Tak salah jika Prabowo Subianto kerap melontarkan kalimat minor, atas kondisi negeri yang sebaliknya ini. Dia menyebut, itu terjadi lantaran salah kelola sehingga negeri ini terus terpuruk, hingga hari ini. Ironisnya, negara berjuluk Nusantara ini terus bergantung dari utang luar negeri.

Padahal, dari posisinya seharusnya negeri ini dan juga rakyatnya lebih makmur dari penduduk belahan dunia lainnya. Dari letak Astronomis, Indonesia berada di 6o LU (Lintang Utara) – 11o LS (Lintang Selatan) dan antara 95o BT (Bujur Timur) – 141o BT (Bujur Timur). Garis Lintang Utara dan Garis Lintang Selatan dibatasi oleh garis Khatulistiwa. Sementara di Garis Bujur Barat dan dan Bujur Timur dibatasi oleh Greenwich Mean Time.

Dari posisi Astronomis, Indonesia juga sangat strategis karena berada di kawasan iklim tropis dan berada di belahan timur bumi. Ini membuat Indonesia mendapat sinar matahari sepanjang tahun, dengan dua kali pergantian musim yakni, musim kemarau dan hujan. Negeri ini juga terlimpah kekayaan alam yang luar biasa. Curah hujan tinggi membuat tanah menjadi subur dengan flora dan fauna yang beraneka ragam.

Dengan posisi di Garis Lintang atau garis khayal (pada peta atau globe) yang sejajar dengan Khatulistiwa. Juga berdasarkan garis lintang 6o LU – 11o LS, wilayah ini memiliki curah hujan tinggi, hutan hujan tropis yang luas dan sinar matahari sepanjang tahun, dengan kelembaban udara yang tinggi.

Negara kaya hidup dari utang
Negeri Kaya Hidup dari Utang Luar Negeri
Sekedar mengingatkan, catatan Bank Indonesia (BI) di kuartal I Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$387,5 miliar atau setara Rp5.425 triliun (jika kurs Rp14 ribu per dolar AS). Angka itu naik 8,7 persen dibanding di periode yang sama tahun lalu, sebesar US$330,04 miliar.
Lonjakan ULN terjadi akibat utang pemerintah yang naik 11,6 persen menjadi US$181,14 miliar atau sekitar Rp2.535 triliun. Utang pihak swasta naik 6,3 persen, menjadi US$174,05 miliar atau sekitar Rp2.437 triliun. Artinya, ULN Indonesia di akhir kuartal I 2018, tumbuh sebesar 8,7 persen, meski disebut pertumbuhannya melambat dibanding kuartal sebelumnya yang 10,4 persen.

 

“Utang Luar Negeri Indonesia di akhir kuartal I 2018 tumbuh sebesar 8,7 persen, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang mencapai 10,4 persen,” seperti dikutip dari keterangan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman, Selasa (15/5/2018).

Masih dari data BI, ULN Indonesia di kuartal II tahun 2018 tercatat sebesar US$ 355,7 miliar. Dengan rincian utang pemerintah dan bank sentral sebesar US$ 179,7 miliar, serta utang swasta sebesar US$ 176,0 miliar. Utang menggunung itu berasal dari kreditor sejumlah negara, yakni dari Singapura sebesar 55,94 persen; Jepang 28,84 persen; China 16,52 persen; AS 15,37 persen; dan dari Hongkong 13,66 persen.

Wajar, jika Prabowo terus mengulas itu termasuk saat berbicara di depan ribuan jemaah di sebuah acara yang digelar Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), di Pondok Gede, Jakarta.

“Negara yang begini kaya, yang oleh ahli-ahli dunia dinilai kita (Indonesia) ke enam terkaya di dunia. Akan tetapi, sebagai bangsa kita dikatakan tekor, kita adalah bangsa yang rugi. Kita sekarang bangsa yang hidup dari utang,” kata Prabowo di acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Pondok Pesantren Minhajurasidin, Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta (Kamis, 11/10/2018).

Lanjut Prabowo, dengan kekayaan mineral yang dimiliki seperti nikel, minyak bumi, batu-bara dan lain-lainnya, Indonesia mestinya sudah bisa menjadi negara industri raksasa. Bisa hidup lebih baik dan jauh lebih berkembang. Tentu, jika para elite konsisten menjalankan amanat konstitusi yaitu, menjalankan dengan benar Pasal 33 UUD 1945.

“Karena bunyi pasal itu, mewajibkan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat. Yang menyedihkan adalah banyak elite kita merasa hidup dari utang itu biasa dan baik-baik saja,” tegas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Jika mencermati posisi strategis Indonesia, memang tidak semestinya terus berhutang dan bergantung dari asing, dan kenyataan ini memang menarik untuk dibahas. Tentunya tak hanya sekedar untuk dibahas, tetapi juga harus bijak mencari jalan keluar atau penyelesaiannya.

Secara Geografis, posisi Indonesia strategis karena terletak di antara 2 benua dan 2 samudera. Jika dikelola dengan baik dan tepat akan memberikan keuntungan di berbagai sektor. Pertama, di sektor ekonomi, karena berada di posisi silang itu, Indonesia memiliki kesempatan mengelola lalu lintas perdagangan dunia. Tentu jika dikelola dengan baik dan maksimal akan mendatangkan keuntungan cukup besar yang terpampang di depan mata.

Kedua, didukung iklim tropis karena terletak di garis Khatulistiwa dengan sumber daya alam yang melimpah di darat dan laut juga keuntungan yang tiada tara besarnya. Di darat, keuntungan bisa di dapat dengan pengelolaan pertanian yang akan menghasilkan berbagai bahan pangan. Seperti beras, sayur, buah dan tanaman budidaya lainnya. Hasilnya, bisa dimanfaatkan untuk ekspor selain untuk pemenuhan kebutuhan pangan di dalam negeri.

Dari sektor kehutanan juga tak kalah besar hasilnya, karena daratan Indonesia juga sangat luas, dengan iklim tropis banyak ditumbuhi jenis species dan vegetasi yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Hutan yang sangat luas juga diakui berfungsi sebagai paru-paru dunia, dan merupakan wilayah hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire.

Di sektor Laut, Indonesia juga dikenal sebagai negara Maritim, karena memiliki hamparan laut yang sangat luas dengan kandungan keanekaragaman ekosistem laut di dalamnya. Lagi-lagi, tentu jika dikelola dengan baik, kandungan laut Indonesia akan menghasilkan pendapatan yang tidak sedikit.

Kandungan berbagai jenis species di laut yang cukup besar itu akan mendatangkan manfaat, termasuk untuk ekspor keluar negeri, selain untuk pemenuhan kebutuhan sendiri. Tak hanya itu, potensi laut dan keindahan alamnya juga berpotensi untuk wisata bahari.

Misalnya, laut Selatan Jawa yang memiliki daya tarik untuk snorkling, menikmati matahari terbit dan keindahan pantai. Indonesia yang memiliki banyak pegunungan vulkanik aktif serta habitatnya juga menjadi daya tarik tujuan wisata hiking.

Gunung-gunung di Indonesia yang terus didatangi pendaki dalam negeri dan manca negara, diantaranya Puncak Jayapura, Gunung Andong, Gunung Kerinci, Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, Gunung Prau, Gunung Semeru, Gunung Tangkuban Perahu dan lainnya.

Indonesia yang merupakan lalu lintas perdagangan internasional juga memiliki potensi penghasilan dari sektor transportasi moderen dari negara maju. Transportasi laut dan udara, misalnya itu merupakan pilar utama dalam perdagangan dunia. Artinya, jika Indonesia dapat melakukan transaksi pembelian alat transportasi guna keperluan negara dan perdagangan internasional, misalnya kapal dan pesawat terbang akan mendatangkan manfaat yang besar.

Selain itu, untuk di dalam negeri kebaradaan transportasi moderen akan dengan cepat mendongkrak dan memaksimalkan pengiriman hasil-hasil pertanian dari satu wilayah ke wilayah lain. Tak hanya untuk kepentingan meningkatkan perdagangan, tetapi juga meningkatkan transportasi menuju berbagai lokasi wisata di tanah air.

Di bidang komunikasi Indonesia memiliki keuntungan yang akan didapat dari para pedagang asing yang masuk negara ini, yakni dengan penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional. Serta bahasa lainnya termasuk Jepang, Jerman, Perancis, China dan lainnya.

Kekayaan alam Indonesia ternyata bukan hanya dari alam, melainkan juga kekayaan budaya yang beraneka ragam. Selain sebagai jati diri, jika dimanfaatkan dengan maksimal akan mendatangkan keuntungan yang tidak sedikit, melalui pariwisata budaya.

Keindahan alamnya, juga tak kalah yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Di setiap wilayah memiliki keindahan dan keistimewaannya sendiri, itu tak didapati di negara lain. Merupakan daya tarik tersendiri untuk mendatangkan devisa, melalui sektor pariwisata.

Selain kelebihan dan keuntungan, tentu dengan posisi strategis Indonesia juga mendatangkan persoalan. Di antaranya, masih kerapnya terjadi pencurian ikan khususnya di wilayah perbatasan dengan negara lain. Mengatasi itu negara harus kembali mengevaluasi dan menambah kekuatan personil juga kelengkapan pendukung termasuk persenjataan. Karena, faktor utama terjadinya kejahatan di wilayah itu karena kurangnya pengawasan dan daya dukung kelengkapan. Selebihnya, juga sarat dengan singgahan pelaku pasar gelap di beberapa titik tertentu. Banyak warga negara asing yang tinggal di Indonesia tetapi tidak memenuhi prosedur resmi sesuai aturan.

Ya, inilah Indonesia, siapa pun bebas menyebut dan menyampaikan pendapat dan pemikirannya. Namun, semua lontaran positif atau negatif hendaknya memiliki semangat yang sama. Tidak hanya berpikir, namun juga berjuang dan bertindak untuk membebaskan negeri ini dari kangkangan bahkan penjajahan bangsa lain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here