Infrastruktur Jor-Joran Buat Rupiah Melemah

1
161
Pembangunan infrastruktur yang jor-joran di tengah keterbatasan anggaran ditengarai sebagai salah satu penyebab rupiah melemah berkepanjangan.

Nusantara.news, Jakarta – Nilai tukar rupiah hari ini kembali terkoreksi sebesar 0,25% ke level Rp14.414 per dolar AS. Lantas apa yang membuat rupiah terus menerus melemah? Ekonom menilai karena pemerintah terlalu overdosis dalam membangun proyek infrastruktur.

Rupiah juga tercatat melemah ke level Rp14.406 di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI). Padahal sehari sebelumnya rupiah berada di posisi Rp14.391 per dolar AS.

Para analis berpendapat  hari ini dolar AS memang menguat terhadap nilai tukar rupiah dan sebagian besar mata uang asing lainnya. Pasar bereaksi negatif terhadap testimoni Gubernur Federal Reserve Jerome Powell semalam yang menyatakan suku bunga masih akan naik secara bertahap dalam waktu dekat.

Pernyataan Powell tersebut mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebanyak dua kali lagi hingga akhir tahun kembali meningkat. Belum lagi, pasar juga mulai bertanya-tanya apakah The Fed akan tetap agresif hingga tahun depan.

Federal Reserve menyatakan titik ambang maksimal Fed Fund Rate (FFR) itu 2,9%. Kalau tahun ini naik dua kali lagi, tahun depan berarti bisa tetap ketat.

Testimoni Powell tersebut mendorong aliran dana investor ke instrumen obligasi pemerintah AS (Treasury Bill—T Bill). Tak heran, sebagian besar mata uang hari ini melemah, bahkan mata uang negara-negara dengan neraca transaksi berjalan yang surplus sekalipun.

Beberapa mata uang mencatat pelemahan lebih dalam daripada rupiah. Di antaranya, mata uang Korea won melemah 0,73%, Malaysia ringgit melemah 0,3%, dan Thailand baht juga melemah 0,3%.

Pelaku pasar masih akan menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Kamis (19/7). Kemungkinan besar BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan untuk saat ini, mengingat bank sentral sudah tiga kali menaikkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate.

Pasar memprediksi BI bisa saja menaikkan kembali suku bunga pada Agustus 2018 untuk merespon kebijakan The Fed. Disamping BI juga terus mengamati gejolak perang dagang, perkembangan data ekonomi  nasional, serta kebijakan moneter Bank Sentral Inggris.

Dipicu infrastruktur

Lantas, apakah yang menjadi faktor pemicu sehingga rupiah berkali-kali harus terkoreksi, padahal BI sudah melakukan intevensi yang menguras cadangan devisa lebih dari US$12 miliar. Ditambah pula BI telah menaikan tiga kali suku bunga hingga 100 basis poin, namun rupiah menguat sebentar untuk kemudian kembali melemah.

Ekonom senior dari Fakultas Ekonomi UI Faisal Basri berpendapat nilai tukar rupiah masih cenderung melemah hingga akhir tahun terhadap dolar AS. Selain faktor eksternal, ia menilai pelemahan rupiah juga didorong ambisi pemerintah dalam menggenjot pembangunan infrastruktur.

“Sumber utama rupiah rusak adalah pemerintah yang terlalu ambisius, yang melampaui dari kemampuannya sendiri,” demikian alasan Faisal.

Yang dimaksud dengan melampaui kemampuannya sendiri, Faisal menjelaskan, karena pemerintah jor-joran membangun infrastruktur. Padahal, pembangunan proyek infrastruktur mendongkrak kenaikan impor bahan baku dan barang modal yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.

Ambil contoh, untuk proyek pembangunan jalur bawah tanah (mass rapid transportation—MRT), Indonesia masih harus mengimpor mesin bor dari Jepang. “Bahkan, tenaga kerja yang menjalankannya (bor) masih harus diimpor. Kalau tidak salah dari Thailand,” imbuh Faisal.

Faisal mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kondisi defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan banyak dipengaruhi dari defisit neraca perdagangan. Per Januari–Mei 2018, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$2,83 miliar. Sebagai pembanding, pada periode yang sama tahun lalu, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus US$5,89 miliar.

Namun, di saat bersamaan, permintaan global terhadap ekspor Indonesia juga tidak bisa diandalkan. Hal itu tak lepas dari isu perang dagang yang mengemuka antara AS–China sejak beberapa waktu lalu.

Perang dagang yang terjadi antara kedua negara, menurut Faisal, pada akhirnya akan membatasi pergerakan arus barang di dunia. Bahkan, bukan tidak mungkin China bisa mengalihkan ekspornya dari AS ke Indonesia ke depan.

Sementara, selama produk ekspor Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah, ekspor Indonesia hanya akan berjalan di tempat.

Di sektor keuangan, Faisal mengingatkan proyek pembangunan infrastruktur pemerintah sebagian didanai dari aliran modal masuk asing (capital inflows), baik dalam bentuk investasi langsung maupun surat utang. Artinya, semakin agresif pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur, semakin besar dana yang dibutuhkan.

Di tengah ketidakpastian global, risiko investor asing mengalihkan investasinya dari negara berkembang, termasuk Indonesia, ke negara maju akan semakin tinggi. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah membesar.

Guna menahan pelemahan rupiah, menurut Faisal, BI mau tak mau harus mengikuti arus dengan meningkatkan suku bunga acuan. Rupiah itu akan cenderung melemah sampai akhir tahun. Pertanyaannya, melemah dalam waktu cepat atau lambat. Nah itu bergantung dari respon BI menaikkan suku bunga.

Konsekuensinya, suku bunga kredit yang ditanggung masyarakat bakal meningkat karena biaya dana semakin mahal.

Selain itu, opsi lain yang bisa diambil adalah pemerintah bisa mulai mengerem pembangunan infrastruktur. Selain bisa menghemat belanja negara, langkah ini juga dapat memperbaiki neraca perdagangan.

Karena itu, big picture masalahnya sudah jelas, pembangunan infrastruktur yang jor-joran di tengah keterbatasan dana yang mendorong rupiah melemah. Karena itu ke depan sepertinya Pemerintah Jokowi sudah saatnya mengerem diri, menengok kemampuan APBN, sehingga tetap membangun infrastruktur yang fokus bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here