Inggris Diberondong Teror, Jadwal Pemilu Terganggu

0
63
Foto: The Guardian

Nusantara.news  Selang dua minggu dari serangan bom bunuh diri Manchester Arena yang menewaskan 22 orang, Inggis kembali diguncang teror. Kali ini teror terjadi di jantung kota London, sejumlah orang tiba-tiba keluar dari van lalu menyerang orang-orang di sekitarnya dengan pisau. Sedikitnya 6 orang tewas dan 48 luka-luka dalam serangan yang terjadi pada Sabtu (3/6) pukul 10 malam di kawasan London Bridge. Tiga pelaku tewas ditembak aparat 8 menit setelah kejadian. Teror terjadi menjelang kurang dari seminggu pemilu Inggris yang bakal digelar pada 8 Juni. Pemerintah telah mengadakan rapat darurat, pemilu terancam terganggu karena sejumlah jadwal bakal ditangguhkan.

Sebelum kejadian ini, pada Maret lalu serangan serupa juga terjadi di depan gedung parlemen (Westminster Bridge) yang membunuh 4 orang, seorang di antaranya petugas keamanan. Dari semua rangkaian teror tersebut disimpulkan bahwa pelakunya adalah jejaring ISIS. Bahkan, dalam peristiwa teror terakhir, meski belum jelas identitas pelaku, sejumlah media internasional sudah mengarahkan dugaan kepada kelompok ISIS. Indikasinya sangat sederhana, saat pelaku melakukan aksi mereka meneriakan kata, “untuk Allah, untuk Allah…”.

Tentu untuk membuktikan bahwa pelaku adalah jaringan teroris ISIS aparat keamanan Inggris harus membuktikannya. Sementara saat ini aparat keamanan Inggris juga masih disibukkan dengan penyelidikan terhadap pelaku bom bunuh diri Manchester Arena, dimana sang pelaku, Salman Abedi, yang merupakan pria kelahiran Manchester diduga memiliki jaringan dengan kelompok teroris Libya.

The Guardian menggambarkan kronologis kejadian penyerangan brutal yang terjadi saat orang-orang menikmati malam akhir pekan itu. Digambarkan, kejadian berawal dengan sebuah van yang membawa sekelompok penyerang menabrak pejalan kaki di Jembatan London (London Bridge), sebelum mereka melompat keluar dan menikam orang-orang di Pasar Borough di dekatnya.

Saksi mata menggambarkan adegan berdarah setelah serangan tersebut, yang terjadi lepas pukul 10 malam di daerah yang penuh dengan bar dan restoran itu. Saat itu banyak penggemar sepak bola yang tengah menyaksikan final Liga Champions di banyak pub di sekitar kawasan tersebut.

Bethany Atkin, kontributor The Guardian, saat itu tengah berada di Boro Bistro di bawah London Bridge saat dia mendengar sebuah tubrukan besar ketika van menghantam jembatan, reruntuhan pembatas jembatan ke bawah. Saat dia  berlari ke rumah sakit London Bridge, dia melihat korban berdarah-darah di sepanjang jalan.

“Seorang pria berteriak dan kemudian semua orang mulai menjerit dan lari dari pria itu. Sangat mengerikan,” kata Atkin.

Walikota Londong Sadiq Khan mengutuk keras kejadian tersebut. Malam itu juga, dia bersama para politisi Inggris lainnya, Theresa May (PM Inggris), Jeremy Corbyn, Tim Farron bergabung dengan politisi lainnya, mengungkapkan kekecewaan mereka.

Khan mengatakan, “Kami belum mengetahui rincian kejadian secara lengkap, tapi ini adalah serangan yang disengaja dan oleh seorang pengecut terhadap orang-orang London yang tidak bersalah dan pengunjung kota kami saat menikmati Sabtu malam mereka. Saya mengutuknya dengan keras. Tidak ada pembenaran apapun untuk tindakan biadab semacam itu,” katanya.

Sementara itu, pertemuan komite Cobra darurat oleh pemerintah diadakan pada Minggu (4/6) pagi, ada indikasi sejumlah jadwal kampanye pemilu akan ditangguhkan.

Simpati pemimpin dunia

Para pemimpin dunia dengan cepat mengirimkan pesan dukungan dan simpati untuk Inggris, bahkan pada saat kejadian masih berlangsung. Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang memiliki perasaan sama karena juga sering menghadapi teror di negerinya sendiri, mengatakan bahwa negaranya “lebih dari sebelumnya” berada bersama Inggris.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau men-tweet tentang “kabar mengerikan dari London” dan mengarahkan orang-orang Kanada yang membutuhkan bantuan ke saluran resmi.

Nada agak berbeda disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump, yang dituduh memanfaatkan situasi keprihatinan Inggris untuk kepentingan politik dalam negerinya setelah dia men-tweet bahwa serangan London membantu memperkuat pelarangan bepergian bagi Muslim.

“Kita harus pintar, waspada dan tangguh. Kami membutuhkan pengadilan untuk mengembalikan hak-hak kami. Kami membutuhkan larangan perjalanan sebagai tingkat keamanan ekstra!” Kata Trump.

Inggris tentu berharap kejadian teror semalam adalah yang terakhir, tapi situasi politik Inggris yang sangat kompleks tentu mempengaruhi tingkat keamanan negara itu. Inggris kini sedang menghadapi proses Brexit, dimana secara politik tidak semua kelompok, salah satunya Partai Buruh, tidak sepakat dengan langkah tersebut.

Dalam proses Brexit, Inggris juga sedang bernegosiasi dengan Uni Eropa, dimana isu-isu kerja sama soal keamanan, pertukaran data dan informasi (termasuk soal terorisme) dengan negara-negara Uni Eropa juga turut dinegosiasikan di dalamnya. Hubungan intelijen Inggris dan Amerika, sekutu utamanya, beberapa waktu lalu juga mengalami masalah terkait bocornya informasi intelijen Inggris tentang penyelidikan teroris Manchester ke media-media AS. Lebih-lebih, Inggris dalam waktu dekat ini bakal menghadapi pemilu, tentu kerawanan keamanan bakal semakin meningkat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here