Inggris Resmi Gugat Cerai Uni Eropa

0
55
PM Inggris Theresa May duduk di bawah lukisan PM Inggris pertama Robert Walpole di ruang Kabinet, menandatangani surat resmi untuk Presiden Dewan Eropa Donald Tusk meminta Pasal 50 dan keinginan Inggris keluar dari Uni Eropa, Selasa (28/3) di London, Inggris. Rakyat Inggris mengadakan referendum pada bulan Juni 2016 dan memilih untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit), penandatanganan Pasal 50 secara resmi memulai proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa. (Foto: Antara/Reuters)

Nusantara.news, London – Perdana Menteri Inggris Theresa May menandatangai dokumen resmi dan sangat bersejarah bagi negara itu, serta bagi Uni Eropa (UE) pada Selasa malam, 28 Maret 2017. Surat “gugatan cerai” Inggris terhadap UE itu diserahkan langsung kepada Presiden Dewan UE Donald Tusk di Brussels keesokan harinya. Surat dibawa oleh utusan Inggris untuk UE, Tim Barrow.

Penyerahan surat resmi “gugatan cerai” Inggris (Brexit) menandai awal proses pemisahan Inggris dari UE yang akan berlangsung selama dua tahun ke depan (diperkirakan berakhir tahun 2019). Inggris telah menjadi anggota UE selama 44 tahun sejak negara itu bergabung dalam Masyarakat Ekonomi Eropa tahun 1973.

Langkah ini juga menjadi pertanda resmi bahwa Inggris telah menggunakan haknya sebagaimana tercantum dalam Artikel 50 Kesepakatan Lissabon, tepat 9 bulan setelah sebagian besar rakyat Inggris memilih keluar dari UE lewat referendum. Artikel 50 menyebutkan bahwa setiap negara anggota UE berhak keluar dari UE apabila rakyatnya memutuskan dengan suara mayoritas.

Setelah menandatangani dokumen Brexit, sebagaimana dilansir AP, Rabu (29/3) PM May menyampaikan pidato di hadapan parlemen Inggris. May berjanji akan melaksanakan proses Brexit sesuai dengan yang diharapkan, yaitu membawa dampak positif bagi semua rakyat Inggris.

Penekanan bagi semua rakyat Inggris oleh May, dimaksudkan juga sebagai jaminan bagi warga Uni Eropa yang memiliki kewarganegaraan dari negara lain, tapi tinggal di Inggris.

Maklum, referendum yang menghasilkan Brexit telah menyulut keresahan bagi warga pendatang di Inggris lantaran wacana bakal terjadinya sejumlah kebijakan baru tentang imigrasi. Sejumlah pekerja di sejumlah perusahaan di Inggris bahkan sudah lebih dulu “hengkang” dari negara tersebut untuk mencari pekerjaan di negara Eropa lainnya, khawatir tentang pengetatan kebijakan imigran.

Jumlah warga Eropa ini di Inggris sekitar 3 juta orang. Brexit sebagai hasil referndum pada bulan Juni 2016 lalu telah membuat mereka khawatir tentang masa depan mereka di Inggris.

“PM May dalam pidatonya,  antara lain menyatakan tekad kuat untuk mencapai kesepakatan yang tepat dan menguntungkan bagi semua orang yang tinggal di Inggris,” demikian pernyataan kantor Perdana Menteri.

PM May juga mengedepankan persatuan warga dan negara yang kuat, dengan sejarah yang bisa dibanggakan serta masa depan Inggris yang cerah.

“Sekarang, setelah keputusan diambil untuk keluar dari Uni Eropa, ia menegaskan, inilah saatnya untuk bersatu,” kata pihak kantor Perdana Menteri Inggris.

Diakui PM May saat ini menghadapi tugas berat, di satu sisi dia harus melakukan negosiasi yang alot dengan 27 negara anggota UE tentang berbagai masalah, seperti soal keuangan, perdagangan dan keamanan.

Sementara, di sisi Iain dia juga harus menangani masalah Skotlandia yang saat ini berstatus setengah otonom. Pada saat yang sama, suara-suara dari Skotlandia untuk menuntut kemerdekaan dari Inggris semakin kuat.

Pada hari yang bersamaan dengan penyerahan surat “gugatan cerai” Inggris ke UE, anggota parlemen Skotlandia malah menggelar pemungutan suara untuk memutuskan akan diadakannya referendum tentang pemisahan diri dari Inggris. Tentu ini menambah tugas PM May.

Skotlandia pernah mengadakan referendum yang sama pada tahun 2014, tapi waktu itu sebagian besar warganya menolak ‘merdeka’ dari Inggris. Tapi kali ini lain, karena dalam referendum Brexit Juni 2016 lalu, sebagian besar warga Skotlandia dan Irlandia Utara menolak Brexit, tapi suara mereka dikalahkan oleh mayoritas warga Inggris. Tuntutan kemerdekaan Skotlandia dinilai sebagai protes terhadap Brexit.

Sebagaimana dilansir BBC London, Rabu (29/3) Menteri Keuangan Inggris, Philip Hammond, mengatakan bahwa penyerahan surat Brexit adalah “momen penting bagi Inggris.”

Hamond juga menolak pendapat sejumlah kalangan yang pesimistis terhadap Brexit, bahwa Inggris saat ini tengah “melakukan lompatan dalam gelap”.

“Kita semua memiliki agenda yang sama. Kami semua sedang mencari untuk mendapatkan kesepakatan terbaik bagi Inggris,” kata Hamond.

Hammond optimis bahwa negosiasi yang secara resmi sudah dimulai bakal memperkuat Inggris  dan juga Uni Eropa.

Sementara itu, para pejabat Uni Eropa beserta para pemimpin negara-negara Uni Eropa, dikurangi PM Theresa May, bakal mengadakan pertemuan pada 29 April nanti untuk membahas draf negosiasi antara Inggris dan Uni Eropa.

PM May menyatakan komitmennya bahwa Inggris tetap akan bermitra dengan Uni Eropa. “Inggris akan menjadi lebih kuat, lebih adil, lebih bersatu, dan lebih berwawasan ke luar, serta akan mencari kemitraan baru yang lebih dalam, khususnya dengan negara-negara Uni Eropa,” kata May.

Tapi tampaknya optimisme May bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Banyak pelaku bisnis di Inggris yang takut akan dampak Brexit karena Inggris meninggalkan pasar tunggal Uni Eropa dengan potensinya sekitar 500 juta orang.

Brexit pada kenyataannya berimplikasi terhadap ekonomi Inggris dan bahkan terhadap kesatuan masyarakat Inggris. Keputusan Brexit telah mendorong keinginan baru kemerdekaan masyarakat Skotlandia, dan menggagu dasar-dasar penyelesaian perdamaian dengan Irlandia Utara.

Brexit juga merupakan pukulan telak bagi UE setelah puluhan tahun melakukan ekspansi tapi kemudian harus kehilangan salah satu dari anggotanya yang terbesar, Inggris. Bahkan, saat ini UE Eropa harus menghadapi ancaman disintegrasi berikutnya dengan munculnya tokoh-tokoh populis yang anti-Uni Eropa sepert Marine Le Pen, pemimpin partai sayap kanan di Prancis yang berharap apa yang dilakukan Inggris dengan Brexit bisa dilakukan di seluruh negara benua Eropa. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here