Ini 5 dari 10 Cerita Menarik Tentang Goa Pindul (Bagian 1)

0
664
Bukan saja wisatawan domestik yang sudah mencicip keindahan goa pindul, melainkan juga wisatawan manca seperti terlihat pada gambar. Meskipun belum terlalu banyak setiap hari sudah ada wisatawan manca yang datang ke sana/Foto Marlin Dinamikanto

Nusantara.news, Jakarta – Goa Pindul memang sudah menjadi andalan obyek wisata Gunungkidul di samping wisata pantai yang masih menjadi favorit wisatawan. Kini bukan saja wisatawan domestik yang berdatangan, tetapi juga wisatawan mancanegara.

Mamat yang semula pengemudi perusahaan ekspedisi sekarang mengaku betah tinggal di Gunungkidul. Bekas Koordinator Keamanan Goa Pindul ini bercerita banyak tentang obyek wisata yang sehari-harinyabiasa dikunjungi 500-an orang dan di hari libur bisa mencapai sekitar 15 ribu orang. Sebab meskipun dia bukan orang yang memprakarsai hadirnya obyek wisata favorit Gunungkidul, Mamat sudah terlibat sejak proses uji coba pengamanan dan kelayakan.

Berdasarkan obrolan cerita Mamat yang asli Malang dan menikah dengan warga Pedukuhan Gelaran I ini serta diperkaya sejumlah sumber infornasi yang digali Nusantara.news,  tersaji 10 cerita menarik tentang Goa Pindul. Secara kebetulan penulis Nusantara.news adalah orang asli Karangmojo sehingga memiliki pengetahuan yang cukup tentang Goa Pindul yang dulu disebut Gelaran itu. Ini dia kisahnya

  1. Bekas Pemandian Umum

Sebelum dikenal sebagai tempat wisata, Goa Pindul yang berlokasi di Pedukuhan Gelaran II, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, adalah sumber air bersih dan tempat pemandian umum bagi warga setempat. Sudah puluhan tahun warga memfungsikan goa yang dialiri sungai bawah tanah itu sebagai tempat mandi dan mencuci pakaian. Tapi, berdasarkan kesepakatan bersama, warga dilarang keras membuang air besar.

Hasil gambar untuk goa pindul tempo dulu

Selain tempat pemandian umum ada pula warga yang memancing ikan. Ketika itu Goa Pindul yang namanya hanya dikenal oleh warga setempat sangat disakralkan sehingga tidak ada yang berani memasuki goa yang sesungguhnya aliran sungai bawah tanah yang bermuara di Sungai Oya. Kala itu di kedalaman goa hanya ada semak belukar dan sarang kelelawar. Namun sejak ditetapkan sebagai obyek wisata, warga dilarang mandi dan mencuci baju di sana.

  1. Beragam Versi Sejarah Asal Usul

Pada umumnya warga setempat sepakat, nama pindul berasal dari kata “Pipi Kependul” atau pipi terbentur sehingga memunculkan benjolan. Namun cerita di balik pipi siapa yang kependul itu dalam catatan Nusantara.news lebih dari tiga versi. Namanya juga cerita rakyat (folkfore) yang diwariskan secara lisan turun temurun, tentu saja menyajikan banyak versi.

Versi pertama menyebut, cerita berawal saat Panembahan Senopati yang juga pendiri Kerajaan Mataram Islam mengutus Juru Mertani dan Ki Ageng Pemanahan mencari bayi hasil pernikahan putrinya dengan Ki Ageng Mangir seorang tokoh pemberontak. Untuk meredam pemberontakan, Panembahan Senopati merestui pernikahan putrinya dengan Mangir. Namun tak lama setelah dinikahkan Mangir dibunuh oleh Panembahan Senopati.

Putri dari Panembahan Senopati yang hamil itu diungsikan ke suatu tempat. Panembahan Senopati mengutus Juru Mertani dan Pemanahan mencari jejak putrinya. Apabila melahirkan keturunan maka anaknya harus dibunuh. Namun kedua utusan itu tidak sampai hati melakukannya. Maka keduanya pun melarikan sang cucu yang tidak diinginkan itu ke Gunungkidul. Sesampai di sana mereka menggelar tikar, maka muncullah istilah Gelaran.

Saat sang bayi menangis Ki Juru Mertani membawanya ke sumber mata air. Dia pun mencari-cari sumber mata-air hingga ke atas bukit. Dengan kesaktiannya dia menjejak bukit dan muncul lobang besar. Namun kakinya terpeleset dan pipi bayi yang digendongnya itu terbentur dinding atau dalam Bahasa jawa pipi kependhul. Sejak itu goa itu dinamakan Goa Pindul.

Versi kedua menyebutkan, goa pindul berawal dari kisah petualangan Joko Singulung yang mencari jejak ayah kandungnya. Dia menyusuri hutan, sungai dan goa-goa. Ketika melewati goa ke-7 yang ada sumber airnya pipinya terbentur (pipi kejendul) dinding. Sejak itu orang setempat menyebutnya goa pindul.

Versi ketiga seperti yang diceritakan Mamat kepada Nusantara.com, cerita pipi kependhul itu terkait dengan kisah Prabu Angling Dharmo yang bermusuhan dengan Batik Madrim. Tapi sayang, Mamat tidak memiliki rincian ceritanya secara gamblang. “Ya pokoknya ada yang pipinya kependhul,”ujar Mamat.

Sedangkan tentang mata-air yang sebenarnya tetesan air dari pori-pori batuan kartz warga setempat menyebutkan mbelik panguripan (mata-air kehidupan). Ceritanya pun ada. Konon Mata air itu berhubungan dengan kisah Kyai Jaluwesi yang berseteru dengan Bendhogrowong. Singkat cerita terjadilah perkelahian. Bendhogrowong menyerang dengan ajian andalannya namun meleset dan mengenai anjing peliharaan milik anak kembar Jaluwesi yang bernama Widodo dan Widadi.

Anjing yang bernama Sona Langking itu terluka dan berlari ke semak-semak goa. Di sana anjing itu menemukan mata air di dalam goa yang ternyata dapat menyembuhkannya. Ki Jaawesi yang mengikuti jejak si anjing tentu saja bersuka-cita melihat anjing anaknya kembali sehat. Sejak itu Jalawesi menamakan sumber mata air di gua pindul itu mbelik panguripan.

  1. Gagasan Cerdas Mahasiswa KKN

Sebelumnya goa pindul berupa semak belukar yang menjadi sarang kelelawar. Burung walet juga tampak sliweran di sana. Maka pernah ada seorang pengusaha yang mencoba membuka sarang wallet tapi gagal. Suatu ketika datang rombongan KKN Universitas Gajahmada (UGM) ke Desa Bejiharjo. Mahasiswa itu menyusuri goa yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Dari penyusuran goa itu muncul gagasan untuk mengembangkannya menjadi obyek wisata.

Gambar terkait

Padahal, mahasiswa jurusan geologi itu tujuannya hanya meneliti batu-batuan dan kandungan air. Tapi mereka menemukan stalagtit dan stalagmite yang indah. Airnya pun meskipun hujan deras tidak banjir, karena hanya dihimpun dari pori-pori batuan yang menciptakan mata-air. Tidak ada limpahan sumber air dari tempat lainnya, sehingga goa itu sekalipun hujan lebat tetap aman dimasuki manusia.

Tindak lanjut dari gagasan mahasiswa UGM itu, masyarakat setempat dengan dibantu oleh sebuah lembaga nirlaba dengan melibatkan ahli geologi yang lebih kompeten mulai melakukan kajian lebih mendalam. Hasil kajian itu dibawa ke Dinas Pariwisata Gunungkidul yang selanjutnya melakukan serangkaian uji coba. Setelah itu obyek wisata minat khusus Goa Pindul diresmikan oleh Bupati Gunungkidul (Alm) Sumpeno pada 10 Oktober 2010.

  1. Cerita Lucu Saat Uji Coba

Sejak berhenti menjadi pengemudi di sebuah perusahaan ekspedisi, Mamat mencoba hidup bertani di kampung istrinya sejak 2007. Jadi Mamat mengetahui persis gua pindul yang sebelumnya tempat pemandian umum menjadi obyek wisata terkenal di Gunungkidul. Mamat bercerita, sebelum diresmikan, goa pindul yang sudah dibersihkan dari semak belukar terlebih dahulu akan dilakukan uji coba.

Hasil gambar untuk goa pindul tempo dulu

Pertama kali uji coba menyusuri sungai bawah tanah di goa pindul menggunakan batang pisang, pernah juga dicoba menggunakan rakit bambu. Tapi itu dianggap kurang praktis. Maka dicoba menggunakan ban yang melibatkan orang-orang di sekitar goa pindul. Karena di dalam goa ada alur menyempit yang hanya bisa dilewati oleh ban (tube).

Saat itu dirinya sedang panen kacang. Dia pun diajak kawannya yang sudah berkerumun di sekitar mulut goa untuk ikut uji coba menggunakan ban menyusuri aliran sungai bawah tanah yang menembus ke goa. “Pertama kali menggunakan ban kaki saya nyangkut sebelah. Menjadi bahan tertawaan orang-orang,” tutur Mamat

Sejak itu Mamat terlibat aktif dalam kegiatan, bahkan diangkat menjadi koordinator keamanan yang membawahi semua operator yang mengorganisasi wisatawan menyusuri sungai bawah tanah di goa pindul. “Tapi terus terang saya puyeng, maka sudah setahun terakhir saya berhenti,” ujar Mamat yang mengaku sekarang sedang mencoba membuka obyek wisata sejenis di daerah lainnya di Gunungkidul.

  1. Cahaya Batu Kristal

Penyusuran gua pindul menggunakan ban disebut Cave Tubing Pindul. Dengan dipandu guide yang kocak wisatawan akan menyusuri gua dari tempat terang, ke tempat remang-remang hingga ke tempat gelap. Sampai di tempat gelap tak perlu takut, karena pemandu akan menyalakan headlamp (senter kepala) yang cukup terang.

Hasil gambar untuk goa pindul masa lalu

Di sepanjang gua wisatawan akan tampak batuan stalagtit dan stalagmite yang begitu indah menghias dinding-dinding goa. Saat pemandu menyorotkan lampunya ke dinding wisatawan akan melihat cahaya batu kristal yang tampak berpendar. Fenomena geologi yang sangat menakjubkan tentunya. Sekali-kali tetesan air jatuh berderai dari sela-sela batuan di atap goa.

Banyak mitos yang berkembang tentang keberadaan batu di goa pindul. Ada batu perkasa dan batu mutiara yang akan dijelaskan oleh pemandu. Tepat di tengah-tengah penyusuran akan ditemukan stalaglatit dengan lebar lima rentangan tangan orang dewasa yang disebut sebagai Soko Guru. [] Bersambung

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here