Ini Alasan Duet Demiz-Demul di Pilkada Jabar

0
268

Nusantara.news, Jakarta –  Duet Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi sudah terbentuk. Kedua tokoh sepakat membentuk koalisi ‘sajajar’. Jika tidak ada lagi aral yang melintang, tinggal kedua partai koalisi yakni Demokrat dan Golkar menentukan siapa yang menjadi calon gubernur dan siapa yang menjadi calon wakil gubernur. Bagaimana cara menentukannya? Tepatkah skema yang diajukan Koordinator Pemenangan Pemilu Indonesia I Golkar Nusron Wahid yang mengacu pada jumlah kursi di DPRD Jabar?

Deddy Mizwar

Pilgub Jabar itu memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Belum ada riset, tetapi Cagub Jatim biasanya dipilih dari tokoh yang setidaknya dekat dengan ulama, mungkin karena daerah Jatim adalah daerah pesantren yang dipimpin para ulama. Cagub Jateng biasanya dipilih tokoh dari kalangan pejabat. Mungkin karena di Jateng ada dua keraton yakni di Yogya dan Solo. Di Jabar, dalam dua kali pilgub yakni Pilgub  2008 dan Pilgub 2013 dua kalinya menyertakan selebriti atau pesohor film.

Seberapa besar keterkaitan pesohor dengan pilgub di Jabar?

Pada Pilgub Jabar 2008 yang digelar 13 April 2008, terdapat tiga pasang calon. Yakni, Ahmad Heryawan (Aher) dan Dede Jusuf, diusung  koalisi dua partai tengah, PKS dan PAN. Agum Gumelar-Nu’man diusung PDIP dan PPP dan sejumlah partai lain, dan Danny Setiawan-Iwan Sulandjana diusung Partai Golkar dan Partai Demokrat.

Dari segi ketokohan dan kebesaran partai, pasangan Ahmad Heryawan (Aher)-Dede Yusuf jelas kalah dibanding dua pasang calon lainnya.

Betapa tidak, Ahmad Heryawan adalah politisi muda dari Sukabumi yang karir politik tertingginya baru sebatas anggota DPRD DKI Jakarta. Sementara Dede Yusuf hanya seorang pesohor yang merupakan pendatang baru dalam dunia politik. Jumlah kursi PKS di DPRD Jabar 13 kursi dan PAN 5 kursi.

Bandingkan dengan pasangan Agum Gumelar dan Nu’man. Agum yang kelahiran Tasikmalaya adalah tokoh nasional yang beberapa kali menjabat menteri. Sementara wakilnya, Nu’man ketika itu adalah petahana Wakil Gubernur Jabar yang sebelumnya anggota DPR RI Fraksi PPP dari daerah pemilihan Jabar. Jumlah kursi PDIP di DPRD Jabar ketika itu mencapai 17 kursi sedang PPP 8 kursi.

Pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana tidak kalah beken. Danny Setiawan ketika itu adalah petahana Gubernur Jawa Barat, sedang Iwan Sulandjana adalah Ketua DPD Partai Demokrat Jabar yang sudah mengakar di Jawa Barat karena pernah sebagai Pangdam Siliwangi, terakhir menjabat sebagai Asisten Operasi KSAD. Kursi Partai Golkar di Jabar ketika itu 16 kursi, sedang kursi Partai Demokrat 28 kursi, tertinggi di antara semua fraksi.

Walau ketokohan Ahmad heryawan-Dede Yusuf kalah beken dan partainya juga kalah besar, namun keduanya berhasil memenangi Pilgub Jabar 2008.

Pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf memperolehan 7.287.647 suara (40,50%), disusul pasangan Agum Gumelar dan Nu’man dengan perolehan suara 6.217.557 suara (34,55%), dan pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana memperoleh 4.490.901 suara (24,95%).

Pengalaman ini membuktikan bahwa tokoh beken dan partai besar tidak menjadi faktor dalam memenangi Pilgub Jabar.

Lalu apa yang membuat Ahmad Heryawan-Dede Yusuf berhasil memenangi Pilgub Jabar 2008?

Para analis mengatakan, salah satu faktor kemenangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf adalah faktor Dede Yusuf sebagai selebriti, sebagai pesohor.

Apa yang membuat selebriti atau pesohor seperti Dede Yusuf bisa menjadi faktor kemenangan? Apa mungkin karena masyarakat Jawa Barat suka terhadap hal-hal yang bersifat glamour (suatu yang melekat dalam diri Dede Yusuf sebagai pesohor). Atau masyarakat Jawa Barat, dalam hal-hal tertentu lebih memilih yang ringan-ringan ketimbang yang ribet-ribet atau njelimet seperti tergambar sebagian dalam sosok si Kabayan.

Apapun alasannya, pada Pilgub 2013, PKS kembali mengusung Ahmad Heryawan yang sekali lagi berpasangan dengan seorang pesohor dari non partai yakni Deddy Mizwar yang terkenal dengan perannya sebagai Jenderal Naga Bonar dalam Film “Naga Bonar” dan belakangan dikenal sebagai sutradara dan juga aktor dalam sinetron “Mencari Tuhan.”

Pasangan ini berhadapan dengan empat pasang calon. Yakni  Dede Yusuf dan Lex Lesmana diusung satu partai besar yakni Partai Demokrat berkoalisi dengan PAN dan PKB. Irianto MS Syafiuddin  dan Tatang Fathanul diusung Partai Golkar. Pasangan Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki diusung oleh PDIP. Satu pasang lagi adalah Dikdik Mulyana dan Cecep Nana Suryana Toyib dari calon perseorangan.

Dari semua tokoh yang bertarung, setidaknya terdapat empat nama besar yang menjadi pesaing pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar. Yakni Dede Yusuf, Irianto MS Syafiuddin alias Yance, Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki.

Hasilnya, Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar kembali menang dengan memperoleh 6.515.313 suara, disusul Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki memperoleh 5.714.997 suara, dan Dede Yusuf-Lex Lesmana memperoleh 5.077.522 Suara. Pasangan  Irianto MS Syafiuddin alias Yance memperoleh 2.448.358 suara, sedang pasangan Dikdik Mulyana dan Cecep Nana Suryana Toyib hanya memperoleh 359.233 suara.

Dari lima pasang calon di Pilgub Jabar 2013, tiga pasang di antaranya disertai tokoh dari kalangan pesohor, yakni Deddy Mizwar, Rieke Diah Pitaloka dan Dede Yusuf.

Dari hasil perolehan suara, ketiganya memperoleh suara paling besar. Irianto MS Syafiuddin yang didukung partai sebesar Golkar tetapi tidak diwarnai kehadiran pesohor, perolehan suaranya hanya 2.448.358 suara, jauh di bawah prolehan suara tiga pasang lainnya yang ada pesohornya. Perolehan suara pada Pilgub Jabar 2013 ini, sekali lagi membuktikan arti penting aktor/aktris, selebriti atau pesohor dalam mendulang suara di Jabar.

Pertanyaannya, mengapa Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang menang? Mengapa bukan Dede Yusuf-Lex lesmana yang ketika itu merupakan petahana Wakil Gubernur, atau Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki, yang juga sangat terkenal dengan sebutan Oneng dalam serial Bajaj Bajuri dan didukung tokoh anti korupsi sekelas Teten Masduki dan partai sebesar PDIP? Mungkin ini bukti kesukaan pemilih Jabar terhadap Deddy Mizwar, selain tentunya faktor PKS sebagai partai kader yang mampu menggerakkan mesin partai secara efektif.

Deddy Mizwar patut mendapat catatan tersendiri pada Pilgub Jabar 2013, selain karena berhadapan dengan Dede Yusuf yang juga pesohor dan petahana wakil gubernur, juga karena  kehadirannya sebagai calon wakil gubernur tidak mewakili partai melainkan mewakili dirinya sediri.

Nilai Jual

Pada Pilgub 2018 yang digelar Juni 2018 mendatang nama Deddy Mizwar menjadi salah satu yang diunggulkan. Kali ini Deddy Mizwar tidak lagi mewakili dirinya sendiri melainkan maju dengan bendera Partai Demokrat.  Partai Demokrat diwacanakan berkoalisi dengan Partai Golkar yang mengusung Dedi Mulyadi. Dalam koalisi ini kemungkinan  ikut bergabung PDIP yang memiliki sejumlah nama seperti Anton Charlyan, Puti Guntur Soekarnoputri, TB Hasanuddin.

Antara Deddy Mizwar dan Dedi Muyadi sudah ada kata sepakat berduet. Keduanya tidak mempermasalahkan siapa yang menjadi cagub dan siapa cawagub. “Kita bentuk koalisi ‘Sajajar’ tidak ada perbedaan, baik menjadi gubernur maupun wakil gubernur. Yang pasti, nanti gubernurnya DM, wakil gubernurnya DM (DM singkatan Deddy Mizwar juga singkatan Dedi Mulyadi, Red). Kita setara karena tujuannya sama dalam membangun Jawa Barat,” kata Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Rumah Makan Bebek Kaleyo, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Rabu 27 Desember 2017 malam.

Tetapi cara berpikir kedua tokoh ini berbeda dengan cara berpikir Koordinator Pemenangan Pemilu Indonesia I Golkar Nusron Wahid. Dalam menentukan siapa cagub dan siapa cawagub, Nusron memiliki skema tersendiri, yakni dilandaskan pada jumlah kursi partai pengusung di DPRD Jabar.

Nusron mengatakan, jika berkoalisi dengan Partai Demokrat maka cagubnya Dedi Mulyadi, dengan alasan jumlah kursi Partai Golkar di DPRD Jabar (17 kursi) lebih banyak ketimbang jumlah kursi Partai Demokrat (12 kursi).

Sebaliknya, jika berkoalisi dengan PDIP, menurut Nusron, Dedi Mulyadi jadi Cawagub dan kader PDIP jadi cagub dengan alasan kursi PDIP di DPRD Jabar (20 kursi) lebih banyak ketimbang kursi Partai Golkar.

Skema yang ditawarkan Nusron memang adil bagi partai pengusung, tetapi belum tentu adil bagi pemilih Jabar.

Dedi  Mulyadi harus diakui memang top di Jabar. Popularitasnya setara atau beda-beda tipis dengan Deddy Mizwar. Dari segi partai Dedi Mulyadi adalah Ketua DPD Golkar Jabar, sementara Deddy Mizwar hanya kader biasa di Partai Demokrat. Dedi juga dikenal sebagai seorang Bupati Purwakarta yang berhasil memutar roda Pemerintahan Kabupaten Purwakarta selama dua periode.

Sementara Deddy Mizwar selama menjadi wakil gubernur belum terlihat sepak terjangnya, kecuali dalam kasus izin Maikarta di mana Deddy Mizwar selaku Wakil Gubernur Jabar kukuh hanya berkenan memberikan izin Meikarta sesuai yang dizinkan Perda tentang Tata Ruang Jabar.

Dedi Mulyadi memang memiliki nilai jual, tetapi dalam hal Pilgub Jabar, nilai jual Deddy Mizwar dinilai lebih tinggi.  Mengapa, karena mengacu pada dua pilgub sebelumnya, karakter pemilih jabar lebih menerima seorang pesohor seperti Deddy Mizwar, Dede Yusuf atau Rieke Diah Pitaloka ketimbang seorang pajabat ataiu politisi tulen seperti Agum Gumelar, Danny Setiawan, Iwan Sulandjana.

Dedi Mulyadi juga bukan sembarang tokoh di Jabar. Tokoh yang memiliki karir politik panjang sejak usia muda ini bahkan dikenal sebagai tokoh Jabar yang berani meminta Sunda Wiwitan agar diakui negara. Dia juga seorang pesohor yang beberapa kali memimpin pentas seni “Manusia Tanah”. Suara  masyarakat di Purwasuka (Purwakarta, Subang dan Karawang) juga akan memihak kepadanya.

Namun demikian, dalam konteks Pilgub jabar, posisi politik Dedi Mulyadi kurang lebih sama dengan posisi politik Agum Gumelar, Danny Setiawan, Iwan Sulandja yang kalah dengan Ahmad Heryawan pada Pilgub  2008.

Selain itu, Deddy Mizwar kini menjabat Wakil Gubernur Jabar, sedang Dedi Mulyadi menjabat Bupati. Jika duet ini menjadikan Dedi Mulyadi sebagai cagub dan Deddy Mizwar sebagai cawagub, maka terkesan tidak patuh terhadap struktur urut kacang, yang dengan sendirinya berpotensi tercipta opini Deddy Mizwar tidak dipentingkan dan dengan sednirinya menurunkan nilai jualnya.

Faktor lain yang tidak kurang pentingnya dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan siapa cagub dan siapa cawagub di antara kedua tokoh adalah, keberadaan Dedi Mulyadi yang pernah bersitegang dengan Habib Rizieg Syihab.

Habib Rizieq Shihab memang bukan penentu dalam Pilgub Jabar. Tetapi forum 212 yang salah satunya dimotori Habib Rizieq Shihab, kini ditafsirkan telah berkembang menjadi “partai politik” besar yang dianalisis sebagai faktor yang menentukan kemenangan Anies-Sandi di Pilgub DKI Jakarta April 2017 lalu.

Dalam perspektif ini, skema Nusron dalam menentukan siapa cagub dan siapa cawagub diantara dua tokoh, perlu ditinjau ulang. Skema yang dilandaskan pada jumlah kursi perlu diganti dengan skema yang lebih terkait dengan pilgub, yakni siapa di antara dua DM yang paling memiliki nilai jual.

Perlu dibuat neraca plus minus antara kedua tokoh, berdasarkan karakteristik pemilih Jabar yang dapat diacu pada pengalaman  dua kali pilgub sebelumnya yang dimenangi Ahmad Heryawan-Dede Yusuf dan Ahmad Heryawan Deddy Mizwar.

Faktor lawan juga patut menjadi perhitungan dalam menentukan siapa cagub dan siapa cawagub. Lawan yang sudah muncul dan sudah pasti adalah Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung Gerindra-PKS-PAN.

Dari seluruh partai yang memiliki kursi di DPRD Jabar, hanya PKS dan PAN yang sudah merasakan manisnya kemenangan dalam Pilgub Jabar. PKS sudah dua kali ikut dalam koalisi memenangi Pilgub Jabar yakni Pilgub 2008 dan 2013, sedang PAN ikut dalam koalisi memenangi Pilgub 2008 ketika Ahmad Heryawan berpasangan dengan Dede Yusuf.

Partai-partai lain, walau dua kali ikut dalam kontestasi, kalah untuk kedua kalinya.

Pilgub Jabar 2018 mendatang dengan demikian akan memperhadapkan partai yang sudah dua kali memengani Pilgub Jabar, yakni  koalisi PKS sebagai partai petahana, PAN sebagai partai yang pernah ikut dalam koalisi pemenang, ditambah Gerindra, di satu sisi  dengan partai yang belum pernah menang di sisi lain.

Faktor Deddy Mizwar lagi-lagi patut menjadi perhatian tersendiri, mengingat sang Jendral Naga Bonar adalah bagian dari partai petahana saat memenangi Pilgub jabar 2013. Faktor Deddy Mizwar dalam hal ini bisa memecah basis suara PKS yang sudah dua kali memenangi Pilgub Jabar.

Lebih dari itu, modal sosial dan politik Deddy Mizwar lebih luas secara kuantitatif ketimbang Dedi Mulyadi. Modal sosial Deddy Mizwar terbentuk dan meluas melalui film “Naga Bonar” dan Sinetron “Mencari Tuhan”. Sedang modal politiknya terbentuk dari pengalamannya selama menjadi Wakil Gubernur Jabar.

Sementara modal sosial dan politik Dedi Mulyadi terbatas pada daerah yang pernah mementaskan seni Manusia Tanah, dan modal politiknya terbatas pada Purwakarta atau Purwasuka.

Modal sosial yang dimiliki Deddy Mizwar juga lebih baik secara kualitatif. Sebab, Film Naga Bonar yang progresif, cocok dengan karakter masyarakat  Pantai Utara Jabar, sedang Sinetron Mencari Tuhan yang santun cocok dengan karakter masyarakat Priangan.

Berdasarkan hal-hal di atas,  Deddy Mizwar lebih memiliki nilai jual ketimbang Dedi Mulyadi dan oleh sebab itu, Deddy Mizwar lebih pas jadi cagub dan Dedi Mulyadi yang memiliki pengalaman dalam bekerja lebih pas sebagai cawagub.  Duet Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi cocok dan pas, di mana Deddy Mizwar sebagai figur simbol sedang Dedi Mulyadi mahir bertindak sebagai figur pekerja yang menjalankan dan mengawasi pelaksanaan teknis program-program Pemprov Jabar []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here