Ini Alasan PAN Tidak Dukung PT 20%

0
242
Perwakilan parpol pendukung PT 20 persen bertemu Jokowi di Istana, Senin (24/7/2017)

Nusantara.news Jakarta – Partai Amanat Nasional (PAN) batal ikut dalam pertemuan enam sekjen partai pendukung presidential threshold (PT) 20 persen. Pertemuan itu dinilai penting karena merupakan awal berbaliknya PPP, PKB dan Hanura dari menentang menjadi pendukung PT 20%. Akibatnya, kader PAN di kabinet terancam dicopot. Mengapa PAN tidak ikut dan kemudian menolak mendukung PT 20%? Ini penjelasan Drajat Wibowo kepada Nusantara.news, Rabu (26/7/2017).

Pengesahan RUU Penyelenggaraan Pemilu menjadi Undang-undang Penyelenggaraan Pemilu dengan presidential threshold (PT) 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional pada Jumat (21/7/2017) lalu, menyisakan pertanyaan ada apa dibalik kesepakatan enam partai koalisi pemerintah?

Kesepakatan keenam partai pendukung PT 20 persen. Golkar, PDI-P, Nasdem, Hanura. PPP, dan PKB yang terkesan tiba-tiba itu cukup menarik dicermati. Pasalnya, beberapa hari sebelum rapat paripurna untuk mengesahkan PT 20 persen, seluruh partai termasuk koalisi pemerintah masih belum menemukan kesepakatan.

Pada tanggal 8 Juli 2017, rapat Panitia Khusus (Pansus) RUU Pemilu yang diketuai Lukman Edy dari Fraksi PKB masih buntu. Lobi-lobi yang digelar seluruh fraksi mentok tak membuahkan kata sepakat.

Masing-masing fraksi masih bersikukuh mempertahankan sikap soal besaran PT yang diinginkan.  PDI-P, Golkar dan Nasdem bertahan dengan sikap PT 20 persen. Sementara PKB, PAN, Hanura dan PPP menginginkan 10 – 15 persen dan dikubu lain ada Demokrat dan Gerindra yang berkeras PT 0 persen. Sedangkan PKS tak mempersoalkan berapapun besarnya PT yang  akan diputuskan. Soal sikap Nadem dan Golkar sebenarnya tidak aneh, sebab sejak dini kedua partai itu sudah menyatakan mendukung Jokowi sebagai capres 2019 nanti.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya pada Rabu (12/7/2017), enam parpol yang diwakili para sekjen masing-masing, menggelar pertemuan membahas sejumlah kesepakatan RUU Pemilu, di antaranya menyepakati soal presidential threshold (PT) 20 persen.

Pertemuan itu digelar sehari sebelum rapat internal pansus untuk menyepakati pandangan mini fraksi soal sejumlah isu krusial. Yakni, isu penataan dapil DPR, sistem pemilu. metode konversi suara, ambang batas capres (presidential threshold), dan ambang batas parlemen (parliamentary threshold)

Ikhwal pertemuan tersebut diungkapkan Sekjen PPP, Asrul Sani bahwa pertemuan itu dihadiri enam sekjen parpol  pendukung pemerintah minus PAN. Padahal, diketahui PAN merupakan partai yang masuk dalam koalisi pemerintah dengan mendudukkan kadernya Asman Abnur dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB).

Asrul mengaku tidak mengetahui alasan ketidakhadiran wakil PAN dalam pertemuan penting itu. Meskipun begitu, Asrul menyatakan komunikasi dengan PAN tetap lancar.

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan mengaku pihaknya tak bisa hadir dalam pertemuan itu karena dirinya sedang tugas ke Nusa Tenggara Barat (NTB) sedangkan Sekjen PAN Eddy Soeparno sedang di Amerika.

Ketidakhadiran PAN sebenarnya sudah bisa jadi sinyal soal bagaimana sikap partai berlogo matahari itu pada rapat paripurna untuk memutuskan besaran PT.

Benar saja, saat rapat paripurna di gelar pada Jumat (21/7/2017), PAN bersama Demokrat, Gerindra, dan PKS memilih walk-out. Sementara, enam partai pendukung pemerintah, yakni PDI-P, Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, dan PKB bersuara bulat mendukung PT 20 persen.

Sikap PAN itu tak urung membuat kesal partai pendukung pemerintah lainnya. Tak hanya dianggap “mbalelo”, bahkan PAN diminta menarik kadernya keluar dari kabinet. Namun, PAN bergeming dan menyerahkan masalah itu ke Presiden Jokowi.

Usai rapat paripurna, “pesta kemenangan” pun digelar di Istana pada Senin (24/7/2017). Seluruh partai pendukung pemerintah datang ke Istana menyambangi Jokowi. Lagi-lagi pertemuan itu digelar minus perwakilan PAN.

Jika dicermati, sikap sejumlah partai khususnya yang masuk dalam koalisi pemerintah awalnya begitu keras mempertahankan sikap menolak PT 20 persen, Namun, hanya dalam hitungan hari pasca pertemuan partai diwakili sekjen masing-masing, tiba-tiba sikap itu berubah drastis. Selang waktu dari tanggal 8 Juli hingga 12 Juli dan dari 12 Juli menuju tanggal 21 Juli (rapat parpipurna) itu menjadi saat krusial. Banyak hal yang bisa terjadi dan mempengaruhi sikap partai untuk berubah. Lobi-lobi tingkat tinggi bisa jadi berlangsung secara tertutup.

Dari perspektif politik, perubahan sikap itu bisa diartikan telah terjadi kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, yakni antara partai yang menolak PT 20 persen dengan partai atau pemerintah yang juga bersikukuh agar PT 20 persen.

Lantas apa kira-kira kesepakatan mereka. Apakah soal distribusi kursi kabinet? Atau penyelesaian kasus-kasus hukum yang bisa jadi menjerat di antara petinggi partai? Atau bisa jadi ada mahar berupa dana yang mungkin bisa digunakan untuk kepentingan partai saat pemilu nanti?

Politikus senior PAN, Drajad Wibowo yang dikonfirmasi nusantara.news langsung menampik kabar tersebut. Menurutnya, ketidakhadiran perwakilan PAN dalam pertemuan koalisi pemerintah itu sama sekali tidak terkait soal tiga kemungkinan kesepakatan tersebut.

“PAN tidak ikut (pertemuan antar-Sekjen Partai pendukung pemerintah) Karena metode penghitungan suara Saint League Murni dalam penentuan kursi DPR sangat merugikan PAN. Kursi PAN bisa berkurang banyak, jika dibandingkan metode Kuota Hare. PAN hanya meminta satu ini. Soal PT 20 persen PAN sudah sepakat. Tidak ada faktor lain, Kursi di DPRD juga bakal banyak yang berkurang,” jawabnya melalui Whatsapp kepada nusantara.news, Rabu (26/7/2017).

Mungkinkah tak ada kesepakatan penting yang dicapai dalam pertemuan antar-Sekjen partai pendukung pemerintah sebelum ketok palu mengesahkan PT 20 persen?

Memang tak mudah untuk menjawab apa dibalik sebuah pertemuan elit politik. Namun, ada idiom yang mungkin bisa menggambarkan perubahan sikap partai tersebut, yakni “Tak ada makan siang gratis” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here