Ini Bahaya Kampanye Terlalu Lama

0
78

MASA kampanye pemilu yang sangat panjang ini perlu dievaluasi. Sebab, terlalu banyak dampak negatif dalam kampanye yang berlangsung hampir tujuh bulan ini, 23 September 2018 sampai 13 April 2019.

Entah apa pertimbangan KPU menetapkan masa kampanye selama itu. Sebab biasanya kampanye hanya berlangsung sekitar satu bulan. Barangkali salah satu pertimbangannya adalah karena pemilu kali ini diadakan serentak untuk tiga pemilihan: Presiden, DPR/DPRD dan DPD.

Masa kampanye selama tujuh bulan itu ternyata tidak efektif digunakan para peserta pemilu untuk memasarkan daya tarik dirinya kepada masyarakat pemilih. Lihat saja sekarang, kampanye DPR/DPRD dan DPD nyaris tak terdengar. Hanya terdapat beberapa alat peraga yang dipasang di lokasi-lokasi tertentu.

Bisa jadi ini kiat efisiensi. Sebab, jika para calon anggota legislatif atau DPD itu menggeber kampanyenya sekarang, sangat mungkin mereka akan kehabisan nafas di masa-masa akhir kampanye nanti. Sehingga mereka memilih untuk menggencarkan kampanye di hari-hari terakhir, dengan harapan nama mereka masih melekat di ingatan publik ketika menuju bilik suara.

Kampanye yang ramai praktis hanya di antara dua pasang calon presiden-wakil presiden. Tanda-tanda bahwa Indonesia sedang menyongsong pesta demokrasi praktis ditandai oleh berita tentang aktivitas kampanye dua pasang calon pemimpin ini.

Lalu di mana bahayanya?

Sekarang rivalitas terpusat pada kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tidak ada titik sentral politik lain yang bisa memecah konsentrasi perhatian publik, karena peserta pemilu lain baru akan menggeliat di menit-menit terakhir.

Hal itu tidak akan menjadi masalah seandainya masing-masing kubu bisa mengkreasi isu-isu kampanye yang konsepsional. Reaksi terhadap isu seperti itu adalah pro-kontra yang juga bersifat konsepsional pula.

Namun, harus diakui, tim di kedua pihak sangat tidak cerdas menciptakan wacana untuk memancing perdebatan tentang hal-hal yang paradigmatik. Coba saja simak perdebatan di antara kedua tim pendukung. Semuanya isu-isu sepele, yang bahkan tak ada kaitannya dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan negara.

Belum ada wacana besar yang komprehensif tentang bagaimana mengelola bangsa ini di masa depan. Entah belum tersampaikan, atau memang tak ada yang mau disampaikan.

Bahkan, ada kecenderungan, tim sukses kedua belah pihak berlaku seperti seorang sniper atau penembak runduk: Hanya melepaskan tembakan ketika lawan sudah masuk sasaran tembak. Sedikit saja lawan membuat kesalahan, dia akan menjadi sasaran terbuka.

Itulah yang terjadi sekarang. Ketika salah satu capres atau cawapres melakukan kesalahan diksi, sikap atau perilaku, kubu seberang akan menghantamnya dengan aneka tembakan. Mungkin benar apa yang dikatakan Wapres Jusuf Kalla, bahwa pertarungan politik itu seperti permainan badminton. Poin bisa didapat dari pukulan yang akurat, atau akibat lawan melakukan kesalahan.

Masalahnya, respon publik terhadap tembakan bullying itu cenderung emosional, baik yang membela maupun yang menghantam. Akibatnya, seperti sudah terlihat, terjadi pembelahan massa yang sangat friksionistik.

Hal ini diperparah lagi dengan pilihan diksi pemimpin yang cenderung provokatif. Para pemimpin itu seperti tak menyadari bahwa massa politik kita sangat emosional, yang menentukan sikap dan pilihan berdasarkan emosi. Massa politik kita belum sepenuhnya rasional, yang menentukan sikap dan pilihannya berdasarkan pertimbangan akal sehat. Karena itu, brutal tidaknya massa politik sangat ditentukan oleh gaya para pemimpinnya.

Dan, sudah terlihat betapa persaingan mereka potensial (kalau tak bisa dikatakan sudah menjurus) kepada aksi yang saling melukai.

Inilah yang perlu dikhawatirkan. Jika persaingan antara kandidat presiden semakin memanas, akan menular ke massa pendukung. Dan persaingan di tingkat massa biasanya berarti perkelahian. Duel maut di Sampang, Madura, pekan lalu (21/11/2018) antara pendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga jelas berada dalam konteks ini. Pendukung Jokowi bernama Idris menembak pendukung Prabowo, Subaidi, hingga tewas. Penyebabnya gara-gara bertengkar soal dukung-mendukung di media sosial.

Peristiwa ini ditanggapi Presiden Joko Widodo. “Itu kesalahan besar. Saya sudah sampaikan berkali-kali. Tidak bertegur sapa lantaran beda pilihan pada pemilu saja sudah tidak benar. Apalagi sampai membunuh itu lebih keliru besar,” kata Jokowi usai menutup Rapimnas Kadin Indonesia 2018 di Solo, Rabu (28/11/2018) .

Keprihatinan Presiden ini mesti diikuti dengan tindakan nyata. Pemerintah dan KPU dan semua pemangku kepentingan yang ada harus duduk bersama untuk mendisain pemilu yang lebih baik. Kalau tidak, alih-alih membawa rakyat ke tingkat yang lebih baik, pemilu-pemilu kelak bukan tak mungkin akan berdarah-darah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here