Ini Cara Bung Karno Membuat Mati Kutu Presiden AS

0
841
Presiden RI Soekarno disambut Presiden AS John F Kennedy saat kunjungan kenegaraannya ke AS pada APril 1961

Nusantara.news, Jakarta –  Suatu ketika Presiden Amerika Serikat (AS) D. Dwight Eisenhower alias Ike cemas atas menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI). Bayangkan saja, PKI yang dibubarkan tahun 1948 dan baru direhabilitasi pemerintah menjelang Pemilu 1955 berada di posisi ke-4 setelah PNI, Masyumi dan NU pada Pemilu 29 September 1955 yang diikuti oleh 29 partai politik dan puluhan calon perseorangan.

Amerika Serikat (AS) curiga ada pengaruh Uni Sovyet (US) di sana. Maklum, ketika itu AS dan US yang sama-sama memenangkan Perang Dunia II mulai saling berebut pengaruh. Di satu sisi AS mengklaim sebagai polisi dunia yang mengontrol Eropa Barat, Jepang dan Australia melawan US yang mengontrol Eropa Timur serta China dari Blok Komunis.

Indonesia termasuk wilayah yang dianggap penting bagi AS. Ketakutan Ike atas jatuhnya Indonesia ke tangan komunis mendorongnya, secara diam-diam tentunya, menyokong pemberontakan PRRI-Permesta (1957-1961) di wilayah Sumatera, Sulawesi dan Maluku Utara.

Diam-diam AS mengirimkan Allen Lawrence Pope, seorang tantara bayaran menjadi penerbang pesawat tempur B-26 Invader milik Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) Permesta. Suatu ketika, tepatnya 18 Mei 1958,  Allen Pope dengan co-pilot Harry Rantung berusaha mengebom iring-iringan kapal yang hendak menyerang basis-basis Permesta. Dia membidik KRI Sawega di lepas pantai Tanjungalang, Ambon, tapi meleset.

Pesawat Allen Pope pun kabur setelah dibalas rentetan penembakan dari iring-iringan armada ALRI. Kala itu Ignatius Dewanto sudah standby di kokpit P-51 Mustang mendapat perintah menyerang. Tak lama setelah itu terlihat pesawat B-26 terbakar. Allen Pope dan mitra lokalnya Harry Rantung yang bisa menyelamatkan diri dengan parasut berhasil ditangkap pasukan ALRI yang mengejarnya. Allen Pope pun dibawa ke Jakarta.

Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika. Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. Setelah pesawat B-26 yang dipilotinya jatuh dihajar mustang AU dan kapal pemburu AL, komentar Pope: “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang”. Setelah itu dia masih sempat minta rokok.

Tapi sebetulnya yang lebih membuat malu Amerika bukan soal kalah yang dikatakan Pope tadi. Tapi tertangkapnya Allan Pope mengungkap permainan kotor AS untuk menggulingkan Soekarno. Amerika terus ngeyel menyangkal. Tapi bukti-bukti yang ada, akhirnya membungkam mulut Amerika. Operasi penggulingan Soekarno pun sementara dihentikan.

Ike yang pada dasarnya tidak suka Bung Karno mengundang berkunjung ke negaranya pada Juni 1960. Sesudah itu Ike tak lagi menjadi Presiden. Jabatannya sudah beralih ke John F Kennedy (JFK) yang jauh lebih muda dan gesit. Tak lama setelah terpilih, pada April 1951 JFK mengundang Bung Karno ke Amerika.

Chemistry Bung Karno tampaknya lebih nyambung dengan Presiden baru Amerika ini. Tampaknya JFK lebih memahami kepribadian Soekarno yang sangat kuat dan benci diatur-atur. Maka JFK menggunakan cara persahabatan untuk merangkulnya. “Kennedy adalah presiden Amerika yang sangat mengerti saya,”kenang Bung Karno kepada Cindy Adam, penulis biografinya.

Bung Karno memainkan kartu trufnya atas dasar apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia ketika itu. Indonesia betul-betul sengsara dan kelaparan, jadi butuh uang dan nasi. Indonesia sedang bertempur melawan Belanda untuk merebut Irian Barat. Jadi butuh senjata, sejumlah perangkat perang dan armada tempur.

Permintaan Bung Karno itu tentu saja tidak disampaikan dengan cara mengemis. Tapi dengan cara yang menyeret Amerika untuk membuat interpretasi diplomatik. Mau tidak mau, isyarat diplomatik Soekarno membuat Amerika harus bisa membaca yang tersirat di balik yang tersurat.

Dibanding Ike alias Eisenhower, John Kennedy lebih peka membaca isyarat itu. Itulah yang dimaksud Bung Karno bahwa John Kennedy mengerti dirinya. Kennedy tidak cuma sekedar mengundang Bung Karno ke Amerika untuk plesiran. Tapi juga ada tindak lanjut nyata di balik undangan diplomatik itu.

John paham Indonesia butuh perangkat perang untuk merebut Irian Barat. Di antaranya armada tempur. Karena itu diajaknya Bung Karno mengunjungi pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno dbantu dalam pembelian 10 pesawat Hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan 2 tanker.

Negosiasi pembebasan Allen Pope antara Ike dan Bung Karno tadinya alot. Tapi jadi licin jalannya dengan John. Dia tidak pelit membalas “kebaikan” Bung Karno yang memenuhi permintaan AS untuk membebaskan Allen Pope.

Hasilnya? Hercules dari Amerika, menjadi cikal bakal lahirnya armada Hercules bagi AURI (armada yang kelak ikut bertempur merebut Irian Barat). Bung Karno bisa membuat Amerika menghentikan embargo. Lalu menyuntik dana ke Indonesia. Juga beras 37.000 ton dan ratusan persenjataan perangkat perang. Kebutuhan itu semua memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu.

Itulah kemahiran Bung Karno dalam memainkan kartu truf untuk menjaga kepentingan negaranya yang membuat tidak berkutik dua Presiden Amerika. Semoga menjadi inspirasi pemimpin yang sekarang dan sesudahnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here