Ini Cara Shanghai Mengatasi Penyakit Kota Besar

0
134
Landscape Kota Shanghai terkini yang tampak modern tapi seperti halnya kota besar lainnya menyimpan penyakit polusi, kemacetan lalu lintas dan menurunnya standar kesehatan penduduknya / Foto Istimewa

Nusantara.news, Jakarta – Shanghai yang sudah berdiri sejak 1553 Sebelum Masehi termasuk kota tua dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Kini jumlah penduduk Shanghai, satu di antara 4 kota besar di China yang berstatus Provinsi, mencapai 24.151.500 jiwa.

Sebagai upaya mengatasi penyakit kota-kota besar seperti polusi dan rendahnya pelayanan masyarakat, kini Shanghai yang sejak dahulu kala menjadi pusat pertumbuhan ekonomi terbesar di China membatasi jumlah penduduknya hanya 25 juta jiwa pada 2035.

Mengutip situs Dewan Kota setempat, pada Senin (25/12) malam, pembatasan jumlah penduduk itu  sudah menjadi bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Shanghai 2017 – 2036 yang sudah disetujui oleh pemerintah pusat.

“Pada tahun 2035 penduduk Kota Shanghai ditetapkan sejumlah 25 juta jiwa dan jumlah lahan yang tersedia untuk kontruksi tidak akan melebihi 3.200 kilometer persegi,” ungkap situs itu beraksara China itu.

Bahkan Kota Shanghai, ungkap situs itu, telah mengidentifikasi sejumlah “penyakit kota besar” yang muncul ketika mega-city terganggu oleh pencemaran lingkungan, kemacetan lalu lintas dan kekurangan layanan publik, termasuk pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Diragukan Pakar

Namun sejumlah ahli masih meragukan kelayakan RTRW Kota Shanghai. Bahkan Liang Zhongtang, seorang ahli tata kota yang juga thinktank pemerintah China menggambarkan skema itu “tidak praktis dan bertentangan dengan tren pembangunan sosial”.

Dengan diberlakukannya RTRW itu buruh migran dan penduduk miskin kota di Shanghai akan menjadi orang yang paling menderita. Ketidak-setujuan Zhongtang sudah dia kemukaan dalam sebuah wawancara dengan media milik pemerintah setahun yang lalu, ketika RTRW itu sedang dirancang di Dewan Kota.

Sebelum RTRW Kota Shanghai disetujui pemerintah China, pada bulan September lalu pembatasan jumlah penduduk tidak boleh melebihi 23 juta pada tahun 2020 sudah ditetapkan untuk Kota Beijing. Tahun 2014 jumlah penduduk di Beijing sudah mencapai 21,5 juta jiwa. Pejabat setempat ingin mengurangi jumlah penduduk hingga 15% dari populasi penduduk pada 2014 di 6 distrik inti di Kota Beijing.

Dampak dari kebijakan itu, tercatat puluhan ribu pekerja migran diusir dari tempat tinggal mereka yang kebarakan sejak November 2017 lalu. Selama 40 hari ribuan penghuni masih mencoba bertahan di puing-puing rumah kebaran sebelum akhirnya diusir dengan cara kekerasan oleh petugas.

Memang, kebutuhan tempat tinggal juga menjadi persoalan utama di China, terlebih di kota-kota besar seperti Shanghai. Lonjakan harga rumah telah mencemaskan pemerintah setempat akan kemungkinan terjadinya gelembung properti.

Pemerintah Beijing dan Shanghai secara tegas telah membatasi siapa saja yang boleh membeli properti di kedua kota yang rentan terancam anjlok. Tahun 2015 lalu Shanghai memiliki jumlah penduduk 24,15 juta.

Dalam RTRW yang sudah disepakati pemerintah pusat itu, pemerintah setempat juga akan mengintensifkan upaya untuk melindungi lingkungan dan situs bersejarah sebagai bagian dari rencana induk tata ruangnya.

Sejarah Shanghai

Memang, meskipun bukan ibukota China, namun Shanghai yang terletak di tepian delta Changjiang adalah kota terbesar di negeri Tirai Bambu. Sejak Abad ke-19, Shanghai tampil menjadi kota perdagangan di China. Sekarang, Pelabuhan Shanghai merupakan satu di antara pelabuhan paling sibuk di dunia bersama Singapura dan Rotterdam (Belanda).

Dalam bahasa Tionghoa, Shanghai secara harfiah berarti “atas” dan “laut”. Penggunaan nama itu sudah dimulai sejak era Dinasti Song. Sumber lain menyebutkan, Shanghai adalah kota tempat bertemunya sejumlah sungai sehingga ada yang menyebut arti Shanghai “Menuju ke Laut”.

Sebelum kota Shanghai terbentuk, pusat keramaian itu menjadi bagian dari Kota Songjiang yang berada di Provinsi Sozhou. Kota ini sudah lahir sejak era Dinasti Song yang memerintah di China pada 960 – 1279 M. Secara perlahan Shanghai berubah menjadi kota pelabuhan yang sibuk.

Sumber lain menjelaskan, Kota Shanghai mulai dibangun sejak didirikannya tembok kota pada tahun 1553 SM. Namun sebelum masuk Abad ke-19 Shanghai belum menjadi kota besar. Dia masih kalah bersinar dengan kota-kota di China lainnya. Maka tidak mengherankan apabila Shanghai hanya memiliki sedikit bangunan bersejarah.

Sebelum tahun 1927 Shanghai berada di bawah pemerintah provinsi Jiangsu yang beribukota di Nanjing. Sejak ditetapkan menjadi Kota Administrasi Istimewa pada 1927 maka statusnya pun berubah menjadi provinsi. Karena memang, lokasinya yang strategis di muara Sungai Yangtze menjadikannya kota yang ideal untuk perdagangan dengan dunia barat.

Saat perang opium pada Abad ke-19, Inggris menempatkan pasukannya di Shanghai. Perang itu berakhir dengan ditanda-tanganinya Perjanjian Nanjing pada 1842. Berdasarkan perjanjian itu Shanghai ditetapkan sebagai pelabuhan internasional. Setelah itu ada Perjanjian Bogue pada 1843 dan Perjanjian Sino-Amerika pada 1844 yang memberikan hak kepada warga asing menguasai tanah-tanah di Tiongkok.

Pada 1850 Perkumpulan Pedagang-Pedagang Kecil memberontak dan berhasil menguasai Shanghai. Pemberontakan itu hanya berhasil menguasai daerah pinggiran, sedangkan pusat kota masih dikuasai oleh warga asing. Peraturan baru tahun 1854 membolehkan warga Tionghoa memiliki tanah di Shanghai yang sebelumnya dikuasai oleh asing, sehingga harga tanah di sana melonjak.

Di tahun itu juga dibentuk Perwalian Kota Shanghai yang bertugas mengatur daerah kekuasaan asing. Daerah kekuasaan Inggris dan Amerika disatukan pada 1863 untuk membentuk daerah Pendudukan Internasional.

Setelah China kalah perang dengan Jepang dalam perebutan semenanjung Korea (1894-1895) maka ditanda-tangani lah Perjanjian Shimonoseki yang memberikan Jepang sebagai penguasa baru di Shanghai. Jepang membangun pabrik di sana yang diikuti oleh pengusaha asing lainnya di sana sehingga Shanghai menjadi kota industri.

Sejak itu Shanghai menjelma menjadi pusat keuangan terbesar di Asia Timur. Angkatan Laut Jepang mengebom Shanghai pada 28 Januari 1932 yang mengawali era pendudukan Jepang. Shanghai sepenuhnya jatuh ke tangan Jepang pada 1937 hingga 14 Agustus 1945. Namun Shanghai juga menampung pengungsi asing dari berbagai negara pada masa itu.

Sebagai kota terbanyak penduduknya di dunia, Shanghai memang memiliki penyakit serupa kota-kota besar lainnya, antara lain kemacetan lalu lintas, polusi dan menurunnya standar kesehatan masyarakatnya. Untuk itu Shanghai berbenah. Pertanyaannya, apakah pembatasan jumlah penduduk sebagai solusi yang adil bagi warga? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here