Ini Cerita Istri, Melepas Suami “Jihad” di Aksi Bela Islam 112 di Jakarta

0
236

Nusantara.news, Surabaya – “Suami ku, ikut Jihad”. Ini kesaksian sang istri yang ditinggal sejenak oleh suaminya ke Jakarta ikut bergabung dalam Aksi Bela Islam 112. Sebut saja dia Anita. Wanita 40 tahun, asli Malang yang sejak 16 tahun silam menetap di Surabaya ini menuturkan kisah suaminya yang bersemangat berangkat ke Jakarta, lantaran tergugah hati nuraninya sebagai Muslim. Namun, kekhawatirannya juga tidak bisa ditutupi, sifat suaminya dari salah satu suku di kawasan Indonesia Timur, yang mudah tersulut amarahnya, apalagi untuk membela Islam.

Ditemui Nusantara.news di sebuah tempat di kawasan Jalan Basuki Rahmad Surabaya, wanita berkulit kuning langsat itu dengan runtut menceritakan alasan suaminya mendukung Aksi Bela Islam 112. Dituturkan, itu menyangkut iman dan harga diri umat Islam serta untuk Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Itu soal keimanan dan harga diri sebagai Muslim,” kata Anita menirukan ucapan suaminya, mengawali cerita, Jumat (10/2/2017).

Tentang suaminya dia menyebut, sangat tawadhu dengan akidah Islam, membela agama Allah SWT adalah kewajiban.

“Untuk itu suami saya berangkat ke Jakarta, bergabung dengan jamaah lainnya. Ke sana itu (Jakarta-red) untuk memberikan support, ikut berdoa bersama-sama demi keselamatan bangsa, juga agar pemerintah menegakkan aturan sesuai hukum yang berlaku, bukan untuk urusan politik,” tambahnya.

Lanjut ibu seorang anak yang saat ini kuliah semester akhir di Malang tersebut menambahkan, hampir setiap malam, suaminya mengatakan kalau kondisi negara saat ini mengkhawatirkan. Selain banyak pejabat yang tidak lagi amanah, mementingkan diri sendiri dan kelompoknya dan tidak segan mengorbankan rakyatnya.

“Rakyat yang menjadi korban, apalagi saat ini asing mulai menguasai Indonesia, kita harus berhati-hati, begitu kata suami saya,” sambung wanita berambut panjang itu.

Kemudian, soal PKI, dia mengaku selain dari suami, juga kerap mendapat cerita dari ibunya. Dirinya merasa ngeri kalau itu (kebangkitan PKI-red) benar-benar terjadi di Indonesia. Suasana seperti ini, menurutnya akan semakin menambah ketidaktenteraman di masyarakat. “Kan jadi takut kalau seperti itu Mas,” keluhnya.

Masih mengutip cerita dari suaminya yang seorang pengusaha. Penegakan hukum dan keadilan di negara ini harus dikuatkan. Termasuk ketersinggungan umat Islam saat ini, yang dilecehkan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mendiskreditkan Surat Al Maidah 51, harus diselesaikan tuntas, tidak dengan sandiwara.

Hanya untuk Islam, suaminya berpamitan pergi ke Jakarta. Meski dengan perasaan cemas, Anita mengatakan selalu berdoa untuk keselamatan suaminya.

“Di sana itu untuk berdoa, tetapi saya khawatir kalau kemudian dilanjutkan long mach dan dihalau pihak keamanan, apalagi kalau ada kerusuhan. Apalagi suami saya itu gampang terprovokasi, saya jadi mikir dan ada rasa takut,” ucapnya.

Menghalau berkecamuknya perasaan tersebut, dia mengaku tidak abai untuk selalu berdoa, utamanya setiap melakukan sholat. Baginya, suami adalah segala-galanya, meski harga diri sebagai Muslim dan sebagai warga negara Indonesia juga tidak boleh diabaikan. Selamat berjihad suamiku, semoga Allah SWT melindungi dan selalu memberikan yang terbaik bagi keluarga kita, untuk agama Islam dan untuk negara Indonesia”. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here