Ini Cerita Mereka, Pernah Terjerat Paham Radikal

0
123
"Waspada, ancaman radikalisme masih mengintai"

Nusantara.news, Surabaya – Ini kisah mahasiswa yang pernah terjerat paham radikal saat masih aktif kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, sebut saja Sutik. Lekai asal Lamongan ini mengaku tak berdaya saat masuk jaring kelompok pendukung Negara Islam Indonesia (NII), wilayah Jawa Timur.

Dikatakan, semua itu bermula saat aktivis Jaringan Aksi Mahasiswa dan Pemuda Surabaya (JAMPS) ini akrab dengan seniornya, sebut saja Joko.

Berlanjut sering diajak mengikuti diskusi sesama mahasiswa berbagai jurusan. Selain soal keimanan, tak jarang diskusi yang berlansung hingga menjelang subuh itu juga membahas berbagai hal, juga soal negara NKRI dan sepak terjang pemimpinnya. Tak hanya dilakukan di kampus, juga kerap di luar kampus dan sejumlah kamar kos mahasiswa. Rutinitas jamaah kecil itu mengerucut pada munculnya ajakan dan mendukung gerakaner NII, lontaran itu terus dibahas dalam diskusi malam hari.

“Untuk menyamarkan sebutan, kelompok diskusi menyebut dengan kode N11 (N sebelas),” kata Sutik.

Dikisahkan, Joko kerap terang-terangan menyebut dan memberikan contoh pemimpin negeri ini kafir, korup, semena-mena dan mementingkan diri sendiri. NII melalui gerakan jihadnya diyakininya bagian dari perjuangan menuju kesempurnaan, mereka diajak untuk mengikuti dan mendukung. “Negeri ini dihuni para kafir, pemimpinnya banyak yang tidak amanah, termasuk mengabaikan hak-hak rakyat,” ucapnya menirukan kalimat senior yang menyampaikan.

Untuk itu semua jamaah N11 harus turut berjuang, perangi kafir, berjihad mewujudkan cita-cita pegiat N11. Ditegaskan, jamaah halal melakukan apa saja guna menyokong programnya, misalnya harus merampok, merampas, mencuri bahkan membunuh.

Salah satu doktrin yang dijejalkan, tidak ada gunanya beribadah karena negeri ini (NKRI) kotor, dihuni kafir dengan berbagai tabiatnya yang tidak mencerminkan ajaran N11.

Kalimat tegas yang pernah di sampaikan seniornya diantaranya adalah mengambarkan kisah Nabi Muhammad SAW, bahwa untuk memuluskan perjuangan harus hijrah guna menyempurnakan keimanan. Disebut, Joko selalu mengatakan tidak ada gunanya beribadah. Karena NKRI masih kotor, dihuni orang-orang kafir. “Untuk itu kita harus hijrah, bergabung N11 dan membantu perjuangannya,” terangnya, sambil menyebut baiat harus dilakukan di depan pengurus besar N11, di Jakarta.

Sebagai anak kos, dia mengaku saat itu hanya bisa mengiyakan dan menuruti ajakannya. Untuk pertemuan rutin di kelompoknya berlangsung seminggu dua kali. Akibatnya, mahasiswa angkatan 1998 itu kuliahnya sempat semrawut dan kerap mendapat teguran dari dosen.

Beruntung, setelah sekian waktu berjalan, dia menemukan cara untuk jalan keluar. Diisahkan, saat bertemu senior lainnya di organisasi binaan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), JAMPS. Namun, dia mengaku heran ternyata kakak kelas yang dimintai masukan itu malah menyarankan untuk mendukung dan mengikuti ajaran yang ditebar Joko.

“Meloko ae terus (ikuti saja terus), seberapa jauh mereka merekrut kamu,” ucapnya.

Saat itu dia mengaku pikirannya semakin kacau, ingin lari dari komunitas diskusi. Namun, tak gampang itu dilakukan, rasa ketakutan terus bergelayut di benaknya. Selain keberatan soal keimanan versi Joko dia juga mengaku keberatan dengan anjuran mengumpulkan biaya untuk ‘perjuangan’ pergerakan, dirasa membebani. Berupa infaq harian, bulanan, tahunan juga mahar penebus kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukan, yang harus dibayarkan ke kas organisasi.

“Selain infaq, semua dosa harus ditebus dengan bayar mahar, itu memberatkan, karena uang juga masih dari kiriman orang tua,” katanya.

Saat menemukan kesempatan dia memaksakan keberanian, kabur, menghindar dan menghilang. Jika dihubungi, dia menjawab dengan kalimat tipu-tipu, bahkan menyebut dirinya sudah pindah agama. Itu strategi untuk menyiasati dan menghindari ajakan Joko. Sejak itu dia terus berpindah-pindah kos, termasuk kerap menginap di Sekretariat JAMPS guna menghindari pertemuan dengan senior pembimbing sesatnya. Dia juga mengaku selalu bermain kucing-kucingan saat Joko mencarinya untuk diajak dalam diskusi atau keperluan semacamnya.

Pemuda Ini Juga Pernah Ikut Diklat Radikal

Cerita ini tak beda jauh dengan yang dialami Sutik. Sebut saja Wanto, dia mengaku itu bermula perkenalannya dengan seorang teman bernama Sholeh. Kemudian diakui membawanya pernah terjerat paham kelompok radikal. Kisahnya terjadi tahun 2000, dan dia baru menyadari yang dialami itu adalah bagian dari program ‘cuci otak’.

Saat itu dia baru setahun tamat dari SMA, dan hendak masuk perguruan tinggi. Warga Krembangan, Surabaya Utara itu menyebut kedekatannya dengan Sholeh yang disebutnya rajin mengikuti jamaah pengajian itu berlanjut ke ajakan. Sholeh mengatakan jika ingin mendapat banyak teman termasuk kenalan cewek-cewek cantik harus mengikuti ajakannya. Kedekatan dengan Sholeh diakui membawa dirinya pernah terjerat paham kelompok radikal. Kisahnya terjadi tahun 2000, dan dia baru menyadari yang dialami adalah bagian dari program ‘cuci otak’. Semua dirasakan berjalan masif, jaringan itu dirasakan senyap bagai tanpa bentuk. Dan ditularkan dengan cara mendekati teman-teman dekat.

“Yang saya tahu itu dilakukan di Surabaya dan sekitarnya. Tahunya, jamaah lain yang ikut kumpul ada yang dari Sidoarjo,” terangnya.

Dia pun mulai ikut pengajian dengan kelompok itu. Dan, mulai banyak mengenal gadis-gadis cantik. Dia juga menyebut, ada seorang teman lelakinya yang kemudian menikah dengan gadis satu jamaah yang diikuti.

Dikatakan, ada teman seangkatannya yang kemudian menikah dengan gadis dari jamaah dan berlanjut sampai sekarang. Dia menyebut sebelum melangkah ke pernikahan, harus memenuhi syarat yang ditentukan oleh jamaah, yakni baiat.

“Aturannya, kalau sudah baiat, yang kita inginkan pasti dikabulkan, dan cukup menyampaikannya kepada kiai, semuanya akan lancar,” terangnya.

Pengajian pertama yang masih terus diingat olehnya adalah saat dilaksanakan di sebuah rumah di kawasan Jalan Rangkah Surabaya Timur. Berjamaah ke berbagai tempat dan berpindah-pindah terus diikuti, itu dilakukan tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, termasuk rekan sebaya di kampung tempat tinggalnya.

Isi pengajian, diantaranya soal uraian perlunya hijrah untuk memperbaiki keimanan, seperti yang dilakukan Rasullullah Muhammad SAW di zamannya. Hijrah untuk memperbaiki keimanan dan diminta ikut berjuang menata kehidupan sesuai syariat (versi ajaran itu).

Salah satu materi yang dipaparkan dan sampai saat ini masih diingatnya, diantaranya saat pengisi materi pengajian menjelaskan sejumlah program yang harus dilakoni oleh jamaah. Misalnya, saat pemimpin pengajian membentangkan gambar di hadapan jamaah. Di bagian tengah gambar ada tulisan ‘Hijrah’, di sebelah kiri tulisan ‘Mekkah’, dan di sebelah kanan bertuliskan ‘Madinah’.

Oleh pemimpin pengajian, gambar pertama yang dijabarkan dimaknai bahwa manusia harus hijrah untuk menuju kesempurnaan keimanan.

Di lembar gambar ke dua, komposisi masih mirip gambar pertama, bertuliskan ‘NKRI’ di sebelah kiri. Kemudian, tulisan ‘Hijrah’ di tengah, dan di bagian kanan tertulis ‘NII’. Dia mengatakan gambar tersebut diartikan semua warga Indonesia harus hijrah ke NII. Sebab, hingga saat ini NKRI adalah negara ‘kafir’ dihuni oleh orang-orang kafir dan sangat kotor ibarat tong sampah.

Di negeri (NKRI) yang digambarkan ibarat ‘tong sampah’ itu, apa pun yang dilakukan warganya termasuk beribadah, salat, haji dan berbagai amalan lainnya tidak akan diterima oleh Tuhan. Percuma beribadah, termasuk pergi haji dengan biaya yang sangat mahal, juga amalan lainnya, tidak ada artinya.

“Karena kalian itu tinggal di negeri kafir bersama orang-orang thogut, murtad kepada Tuhan semua itu tidak ada gunanya. Kalian harus hijrah, caranya dengan mengikuti baiat (ke Jakarta) dengan pengurus besar,” terang lelaki itu.

Pengajian selanjutnya, si pembawa materi menyebut meski tidak memiliki wilayah teritorial, NII harus diyakini telah memiliki berbagai komponen pendukung. Mulai dari presiden, menteri dan jajaran serta para staf serta struktur di bawahnya telah tertata.

“Kita tinggal melengkapi bagian-bagian lain yang belum ada, ini menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua (jamaah dan pengikut),” terangnya menirukan lelaki pemberi materi pengajian.

Harus dipenuhi oleh jamaah di antaranya, untuk bersedia dan ihlas mengisi atau duduk di jabatan misalnya setara gubernur, walikota/bupati, camat, lurah sampai setingkat ketua RW/RT atau tingkat kelurahan/desa.

Ditambahkan, pihaknya, masih kata di pemberi ceramah bahwa saat ini tengah disiapkan penambahan jumlah calon personil. Nantinya ada yang menjadi atau bertugas sebagai tentara dan polisi (versi NII).

Dia juga mengatakan kalau dirinya diusulkan ke pusat untuk jabatan kepala kepolisian kota, saat ini setingkat Kapolrestabes Surabaya, tetapi setelah ikut baiat dan bayar mahar penebus dosa.

Ajaran lainnya, selain membawa dosa saat kecil, manusia juga dibebani dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya juga harus dibersihkan.

“Pernah saya ditanya, berapa kali melakukan onani atau jajan dengan perempuan lain. Itu dosa besar, harus dibersihkan harus dilakukan penebusan dengan ‘kifarat’ atau membayar denda ke kas ‘negara’.

Denda penebusan dosa harus dibayar sebelum pengikut mengikuti baiat, untuk menuju kesempurnaan dan (dosa) itu tidak akan bisa hilang kalau belum menunaikan kewajiban baiat dan membayar denda. Denda akan terus berlipat, harus sudah terbayar saat hendak mengikuti baiat atau penyempurnaan diri.

Uang denda dibayarkan ke Kas NII, selanjutnya dipakai untuk biaya mendukung perjuangan mewujudkan NII. Jamaah juga dibebani infaq setiap bulan, dan juga tahunan di tiap pergantian umur.

“Kalau tidak terbayar, kita menanggung dosa sepanjang hidup dan akan mati kafir,” terangnya.

Ajaran yang didapat, mereka yang tergabung di NII juga bebas melakukan apa saja. Hukumnya wajib jika tujuannya untuk menyokong terwujudnya NII menggantikan NKRI yang keberadaannya tidak sah dan dikutuk oleh Tuhan.

Itu yang membuat lelaki yang kini telah menikah dan dikaruniai dua anak, mengaku ngeri dan hatinya terus gundah. Terus terngiang di benaknya kalau dosa tidak akan pernah hilang sebelum membayar denda dan mengikuti baiat.

Untuk mendapatkan uang, dengan cara minta orang tua atau harus merampas atau merampok itu hukumnya halal, wajib dilakukan untuk mendukung perjuangan dan terwujudnya NII. Itu, disebutnya sebagai cita-cita luhur dan bagian dari jihad.

“Saya semakin bimbang, masa saya harus melakukan penebusan dosa masa lalu. Apa harus begitu untuk menuju terwujudnya kesempurnaan iman termasuk terbentuknya NII,” lanjutnya dengan heran.

Mengaku terus berada dalam pengawasan dan cengkeraman NII, lelaki itu mengaku hatinya diliputi bimbang. Nalurinya berkecamuk antara yakin dan sebaliknya. Dia mengaku sempat mengatakan niatnya untuk berangkat ke Jakarta mengikuti baiat, menyempurnakan keimanan, namun diurungkan sendiri. Lantaran, tidak memiliki uang Rp 1 juta, untuk baiat ke Jakarta.

Berada di lingkungan jamaah NII, saat itu diakui membuat gerak dan langkahnya terus diawasi. Dirinya selalu dijemput oleh beberapa rekannya sesama jamaah, termasuk datang ke rumahnya jika ada kegiatan yang harus diikuti. Itu, diakui sempat menimbulkan kecurigaan kedua orang tuanya, dan menanyakan apa yang diikuti dan dilakukan bersama kelompok jamaah itu.

Termasuk kerap mendapat ancaman. Jika khianat atau lari akan terus dicari dan mendapat sanksi. Jika di kemudian hari NII telah berdiri, dia akan ditangkap dan dipasung karena berkhianat.

“Saya makin takut, karena saat bergabung saya juga diminta menyerahkan fotokopi KTP,” katanya.

Sebaliknya, jika mengikuti NII dan telah dibaiat dengan mengeluarkan biaya termasuk untuk berangkat ke Jakarta, ia mendapat perlakuan baik, dan berpeluang menduduki jabatan sesuai kecakapannya di wilayah tempat tinggalnya. Dia menyebut saat itu diusulkan menjadi kepala polisi, dengan jabatan setingkat Kapolrestabes Surabaya.

Termasuk disarankan dan selau diminta merekrut anggota baru sebagai adik liting generasi penerusnya. Sesuai arahan sang pemandu jamaah mereka yang direkrut dari golongan orang-orang kaya, tetapi bodoh, lemah akidah dan agamanya yang setengah-setengah.

Dia memutuskan untuk lari, dan sempat pergi dari rumah orang tuanya, ke luar kota berbulan-bulan, dan mengaku sempat bekerja di Mojokerto. Itu dilakukan untuk menghindari kelompok jamaah tersebut.

Saat ini, termasuk saat terjadi teror peledakan bom, dia kembali terngiang apa yang pernah dilakoni. Beruntung kini dia lepas dari cengkeraman kelompok radikal.

Cerita di atas merupakan pelajaran berharga yang tidak bisa diabaikan dan harus diwaspadai. Di luar itu, ketimpangan, ketidakadilan,  dan perilaku culas serta korupsi merupakan pemantik munculnya paham radikal.

Tak hanya orang tua, lingkungan tempat tinggal, penyelenggara pendidikan dan kampus harus ekstra memantau anak-anaknya yang masih labil dan pencarian jati diri. Para penegak hukum juga dituntut cermat, tak hanya mampu melakukan pencegahan tetapi juga tindakan pembinaan terhadap generasi muda, jika tidak ingin paham radikal terus tumbuh dan menghancurkan sendi-sendi negara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here