Ini Cerita Pengungsi Rohingya Tentang Kejamnya Militer Myanmar

1
101
Pengungsi Rohingya yang baru tiba di kamp pengungsian Bangladesh setelah menempuh perjalanan maut berhari-hari FOTO VOA

Nusantara.news, Jakarta – Berdasarkan kesaksian Mohammed Rafiq kepada sekelompok aktivis penggiat Hak-Hak Azasi Manusia (HAM) yang mewawancarainya setelah tiba di kamp pengungsian terungkap kekejaman yang luar basa dilakukan milter Myanmar.

“Sewaktu rumah kami dibakar, tidak ada lagi tempat untuk tinggal. Jadi kami mulai berjalan ke arah barat dan kami mencapai Pulau Dwip. Tidak ada perahu dan kami harus menunggu selama 10 hingga 15 hari tanpa makanan,” ujarnya.

Kekejaman militer Myanmar telah memaksa lebih dari 530 ribu Muslim Rohingya meninggalkan rumah dan bisnis mereka dengan sedikit harapan mereka dapat kembali.

Seorang pengungsi Rohingya lainnya juga mengungkap, “Kami telah kehilangan segalanya, tapi kami masih memiliki anak-anak. Setiap hari saya memikirkan kehidupan lama saya. Saya merasa cemas siang dan malam.”

Gelombang baru sekitar 15 ribu pengungsi terdampar di perbatasan Myanmar-Bangladesh hari Selasa, sehingga mendorong para pejabat PBB menyerukan agar mereka segera masuk ke daerah-daerah yang lebih aman.

Kecaman AS

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengecam pimpinan militer Myanmar yang harus bertanggung jawab atas krisis Rohingya

Menanggapi laporan penggiat HAM, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (Menlu AS) Rex Tillerson di Washington DC, Rabu (18/10) kemarin mengecam keras pimpinan militer Myanmar yang harus bertanggung jawab atas krisis Rohingya.

Operasi militer paska penyerangan gerilyawan Rohingya terhadap pos-pos militer di Rakhine Barat telah menyebabkan arus pengungsian besar-besaran sejak September hingga pertengahan Oktober ini. Tindakan keras militer Myanmar itu telah menuai kecaman keras dari dari dunia internasional, meskipun pejabat di Myanmar masih terus menyangkal adanya krisis.

“Kami benar-benar meminta pemimpin militer untuk bertanggung jawab atas apa yang terjadi di wilayah Rakhine,” kata Tillerson hari Rabu.

“Apa yang paling penting bagi kita adalah bahwa dunia tidak dapat berdiam diri dan menyaksikan kekejaman yang dilaporkan terjadi di wilayah tersebut,” imbuhnya.

Komentar Tillerson muncul menyusul sebuah laporan dari kelompok aktivis hak asasi manusia Amnesty International,yang terang-terangan menyebut pasukan keamanan Myanmar dituduh melakukan pembersihan secara sistemik terhadap orang-orang Rohingya.

Berdasarkan laporan yang bersumber dari wawancara sekitar 100-an pengungsi, pasukan keamanan menembak ratusan orang Rohingya yang mencoba melarikan diri dari desa mereka dan membakar sampai mati orang tua dan orang sakit yang terlalu lemah untuk melarikan diri.

Di beberapa desa, pasukan keamanan juga memperkosa atau melakukan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan. Atas perbuatan keji itu, tercatat sekitar 400 desa yang mayoritas berpenduduk Rohingya terbakar.

Seruan PBB

Hingga Selasa (17/10) lalu, arus pengungsi yang menyeberang wilayah perbatasan Rakhine dan Bangladesh masih mengalir. Badan pengungsi PBB mengimbau pihak berwenang Bangladesh mempercepat proses registrasi sekitar 15 ribu pengungsi Rohingya yang terdampar di perbatasan negara itu dengan Myanmar.

Lebih dari setengah juta warga Rohingya yang lari menghindari kekerasan di Myanmar dalam beberapa pekan belakangan ini telah berada di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh, kebanyakan berada di kamp-kamp tak terdaftar. Akibatnya bantuan makanan, tempat tinggal yang layak, air minum dan sanitasi langka didapat.

Rekaman terbaru dari udara yang disiapkan PBB memperlihatkan ribuan orang Rohingya berjalan kaki dari Myanmar menuju Bangladesh.

Hari Senin lalu, sebuah perahu yang penuh sesak dengan pengungsi terbalik di Teluk Benggala, menewaskan 12 orang, termasuk anak-anak.

Mereka dikuburkan di dekat sebuah desa nelayan Bangladesh. Mereka yang berhasil menyeberangi perbatasan tampak kelelahan, mengalami dehidrasi dan kelaparan.

Kecelakaan perahu telah menewaskan sedikitnya 184 warga desa Rohingya yang berusaha mencapai Bangladesh sejak akhir Agustus, sewaktu serangan terpadu pemberontak Rohingya di negara bagian Rakhine memicu penindakan keras oleh militer terhadap desa-desa Rohingya.

Gelombang baru sekitar 15 ribu pengungsi terdampar di perbatasan Myanmar-Bangladesh hari Selasa, sehingga mendorong para pejabat PBB menyerukan agar mereka segera masuk ke daerah-daerah yang lebih aman.

“Sekarang ini prioritas menyelamatkan jiwa adalah yang paling penting. Anak-anak memerlukan air yang aman diminum, mereka perlu tinggal di lingkungan yang bersih, mereka perlu dilindungi dari penyakit dan mereka membutuhkan kita semua agar bersiap-siap jika ada sesuatu terjadi, misalnya wabah besar,” papar Juru Bicara UNICEF Marixie Mercado, Selasa (17/10) lalu

Seruan UNICEF itu disampaikan bersamaan kunjungan seorang pejabat PBB ke Myanmar untuk membahas prospek memulihkan perdamaian di negara bagian Rakhine agar para pengungsi dapat kembali ke rumah mereka.

Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi telah mendapat kecaman global karena tidak menyatakan sikap lebih bersimpati pada penderitaan Muslim Rohingya yang dianggap sebagai imigran gelap di negara berpenduduk mayoritas Buddhis itu. []

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here