Ini Daftar 21 Investasi Ilegal dan Modus Operandinya

0
682
Ilustrasi

Nusantara.news, Jakarta – Baru-baru ini, Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghimbau masyarakat mewaspadai tawaran produk dan kegiatan usaha 21 perusahaan investasi illegal yang terdeteksi sejak awal Desember 2017.

Ke-21 perusahaan investasi itu, ungkap Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L. Tobing, tidak memiliki izin usaha penawaran produk atau investasi yang berpotensi merugikan masyarakat. Terlebih hasil imbal keuntungan yang ditawarkan sangat tidak masuk akal.

“Jangan sampai tergiur dengan iming-iming keuntungan yang tinggi tanpa melihat risiko yang akan diterima,” himbau Tongam melalui rilis resminya kepada media massa, Kamis (14/12) kemarin.

Tongam juga mengingatkan, selain mewaspadai investasi bodong masyarakat juga harus jeli dengan tawaran mata uang virtual (virtual currency) seperti bitcoin.

“Perdagangan virtual currency lebih bersifat spekulatif karena memiliki risiko yang sangat tinggi. Beberapa entitas yang menawarkan virtual currency bukan bertindak sebagai marketplace tetap memberikan janji imbal hasil apabila membeli virtual currency,” singkapnya.

Mata uang virtual perlu diwaspadai, lanjut Tongam, sebab Bank Indonesia sendiri melarang penggunaan mata uang virtual sebagai alat pembayaran. Selanjutnya Tongam merilis nama-nama “perusahaan” investasi illegal dengan harapan masyarakat terhindar dari kerugian, sebagai berikut :

  1. PT Ayudee Global Nusantara
    2. PT Indiscub Ziona Ripav
    3. PT Monspace Mega Indonesia
    4. PT Raja Walet Indonesia (Rajawali)
    5. CV Usaha Mikro Indonesia
    6. IFC Martkets Corp
    7. Tifia Markets Limited
    8. Alpari
    9. Forex Time Limited
    10. FX Primus ID
    11. FBS-Indonesia
    12. XM Global Limited
    13. Ayrex
    14. Helvetia Equity Aggregator
    15. PT Bitconnect Coin Indonesia (Bitconnect)
    16. Ucoin Cash
    17. ATM Smart Card
    18. The Peterson Group
    19. PT Grand Nest Production (PT GNP Corporindo),
    20. PT Rofiq Hanifah Sukses (RHS Group)
    21. PT Maju Aset Indonesia

Nusantara.news mencoba googling perusahaan paling atas di antara 21 entitas yang diduga menawarkan investasi illegal. Sebut saja PT Ayude Global Nusantara cukup gesit menawarkan produk investasi lengkap dengan video presentasinya.

Pada daftar teratas google berjudul ayude global berisi laman perusahaan ayudeeglobal.co.id yang masih aktif yang berisi brochure pengenalan perusahaan, yaitu Tentang Kami berisi pose gambar perempuan cantik.

Pada daftar kedua Google berjudul “Peluang Menjadi Reseller Ayudee”. Tapi begitu lamannya dibuka ada pengumuman “Tutup, Selama 10 Hari”. Pada daftar ketiga dan keempat berisi laman Facebook Ayudee. Pada daftar ke-4 mengenalkan Konsep Bisnis PT Ayudee Global Nusantara yang berisi 4 point, masing-masing : (1) produk terbaik, (2) investasi kecil, (3) Income besar dan mudah diraih dan (4) sport penuh perusahaan.

Produk yang ditawarkan adalah produk natural organik yang dibutuhkan semua orang di dunia dengan rangkaian manfaat yang sudah terbukti. Harga jual ke pasar produk Kami sangat bersaing. Pengiriman produk Kami bisa menjangkau ke berbagai negara (Malaysia, Hongkong, Taiwan, Singapura, Filipina, dll). Menakjubkan!”

Pada point (2) dijelaskan, Untuk mendapatkan Paltform Reseller Ayudee Anda tidak perlu mengeluarkan investasi yang besar, cukup 1.5 juta saja. Ini pastinya tidak sebanding dengan apa yang akan Anda dapatkan dari Ayudee”.

Adapun imbal hasil yang ditawarkan pada point ke-3 adalah, Dapatkan bonus 1 juta rupiah setiap kali Anda bisa mengajak orang lain untuk bergabung menjadi Reseller Ayudee. Dan dapatkan profit besar dari omset yang Anda raih”.

Sedangkan dukungan penuh perusahaan dijanjikan dengan kalimat : Ayudee akan membekali Anda dengan Tools Marketing Online (Facebook, Instagram, dll) yang akan sangat membantu Anda dalam menjalankan bisnis dan memasarkan produk Ayudee.” Dan ditutup dengan nomer WA marketinggnya 082240283XXXX

Saat googling secara acak ke entitas lainnya, meskipun produk yang ditawarkan berbeda-beda namun modus operandinya relative sama, yaitu menawarkan imbal hasil yang cenderung tidak masuk akal. Jadi sudah tepat apabila OJK memberikan peringatan kepada masyarakat terhadap 21 entitas yang diduga melakukan investasi secara illegal ke masyarakat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here