Ini Dia Aplikasi Pengawas Kecurangan dari Tiga Pasang Calon Pilkada DKI

0
585

Nusantara.news, Jakarta – Dari 3 pasang calon Gubernur-Wakil Gubernur Pilkada DKI Jakarta masing-masing telah menyiapkan aplikasi untuk mengawasi kecurangan di setiap TPS. Berikut nama aplikasi dan kinerja pengawasan yang ditawarkan oleh masing-masing aplikasi dari ketiga kandidat.

Jaga Agus-Sylvi

Tim pasangan nomer urut satu ini meluncurkan aplikasi yang hanya bisa diunduh oleh ponsel pintar berbasis Android pada pertengahan Januari 2017.

Meskipun aplikasi ini ditegaskan berfokus untuk “mengantisipasi kecurangan”, ada tiga fitur berbeda yang disajikan layanan yang diklaim Agus sudah ‘diunduh puluhan ribu orang’itu.

Ketiga fitur itu adalah berita, misi harian dan chat.

Jika kita membuka fitur berita, terdapat sejumlah berita positif terkait pasangan nomor urut satu ini, misalnya berita berjudul Agus Harimurti luncurkan buku“atau Cegah anak konsumsi miras, Sylviana utamakan pendidikan spiritual.

Namun, berita yang disajikan hanya ada enam buah, dan tampaknya jarang diperbarui. Keenam berita itu semuanya berasal dari tanggal enam dan tujuh Februari.

Pengawasan terlihat di fitur misi harian, dimana pengguna diminta untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) dan memfoto daftar pemilih. Aplikasi ini juga memperingatkan “jika ada pemilih asing, segera kontak call center.” Keluhan tidak langsung dilayangkan lewat layanan ini.

Pengaduan “keluhan/laporan/temuan” paling jelas terlihat di fitur chat. Namun, ketika digunakan, fitur ini tampaknya hanya menerima pengaduan berupa tulisan, tidak foto atau video.

“MataBadja”

Dibandingkan dua aplikasi lainnya, Mata Badja yang dibuat oleh tim relawan pasangan cagub-cawagub Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat lebih terkonsentrasi sebagai media pelaporan hasil dan kecurangan dalam pilkada.

Ketika pengguna masuk mencobanya, kita akan diminta untuk mengunduh formulir “Pelaporan Publik Pilkada 2017”.

Dengan menggesek ke kanan, pengguna dipersilahkan mengisi data diri, nomor telepon, email, wilayah pencoblosan dan nomor TPS, sebelum masuk ke bagian inti pelaporan.

Bagi Anda yang menginginkan pengisian data dengan format sederhana di satu halaman, mungkin akan sedikit merasa kewalahan, karena data di atas berada di halaman berbeda dan hanya bisa diisi jika data sebelumnya telah diisi.

Di halaman inti, pengguna bisa mengunggah foto formulir C1 hasil penghitungan pilkada di TPS.

Unggahan tersebut bisa diikuti laporan kecurangan. Pengguna tinggal memilih satu dari 17 jenis kecurangan yang ditulis, misalnya “memilih lebih dari sekali”, atau “merusak surat suara”.

Jika terjadi ancaman di TPS, pengguna juga bisa melaporkannya, apakah kecurangan tersebut dari “penyelenggara”, “aparat keamanan”, atau “ormas atau kelompok tertentu”.

Pelaporan tersebut dapat diiringi unggahan foto dan narasi.

Meskipun begitu, baik laporan kecurangan atau ancaman, pengguna aplikasi masing-masing hanya bisa memilih satu dari sekian banyak pilihan. Sehingga jika terjadi lebih dari satu kecurangan atau ancaman, pengguna harus membuatnya di formulir berbeda dan memulai semua proses satu-persatu dari awal.

Aplikasi ini juga hanya bisa diunduh oleh ponsel Android.

“Salam Bersama untuk DKI Jakarta”

Untuk menggunakan aplikasi milik tim pasangan cagub-cawagub Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang juga berbasis Android ini, pengguna harus mendaftar terlebih dahulu.

Menariknya, kita harus memilih satu dari 10 ‘status’ yang ditawarkan, apakah mendaftarkan diri sebagai anggota “jaringan partai Gerindra”, “relawan keumatan”, “relawan pemuda dan mahasiswa” dan lain sebagainya.

Setelah mendaftar pengguna akan melihat empat fitur yang ada; form, info, news dan buzzer.

Namun, tiga fitur terakhir (info, news dan buzzer) tampaknya jarang sekali diperbarui. Kontennya hanya satu dan serupa yaitu tautan berjudul “Rindu kami padamu, Ya Rasul” yang sudah diunggah sejak 12 Desember lalu.

Fitur utamanya yaitu “form” yang memiliki empat layanan. Yang paling menarik adalah layanan bernama “Yuk kenali TPS” dan “Yuk lapor”.

Pada “Yuk kenali TPS” pengguna bisa melihat seluruh daftar nama pemilih di kelurahan tempat pengguna terdaftar, lengkap dengan nomor TPS-nya. Nama pemilih itu disusun sesuai abjad dan disediakan tempat untuk mengunggah foto pemilih tersebut.

Sementara, laporan kecurangan bisa dituliskan di layanan “Yuk lapor”. Pengguna bisa memilih tim mana yang melakukan kecurangan, lokasi, kronologi kecurangan dan pilihan untuk mengunggah bukti foto.

Berbeda dan lebih ringkas dibandingkan “Mata Badja”, seluruh data pelaporan di “Salam Bersama untuk DKI Jakarta” dituliskan dalam satu halaman saja.[]

sumber berita : bbc

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here