Ini Dia Gaya Populisme Ala Menteri Susi Pudjiastuti

1
884
Menteri Susi menumpang mobil pickup polisi yang menggemparkan warga Kota Kolaka

Nusantara.news, Kendari – Warga Kota Kolaka, Sulawesi Tenggara, dibuat heboh oleh ulah Menteri Susi Pudjiastuti. Bayangkan saja, Menteri kelahiran Pengandaran 15 Januari 1965 ini keliling kota dengan menumpang mobil bak terbuka polisi.

Mengetahui ada Menteri Susi naik mobil bak terbuka polisi, warga Kota Kolaka pun menyambutnya dengan riang gembira. Mereka berduyun-duyun melambaikan tangan di pinggir jalan yang dilalui Menteri Susi.

Apa Penyebab Susi Pudjiastuti Ketawa Ngakak? Ini Kata Sang Menteri Kelautan

Menteri Susi mengunggah fotonya yang tertawa terbahak-bahak 

Menteri satu ini memang menggemaskan. Suatu ketika dia tertawa terbahak-bahak saat duduk bersama Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhamad Natsir dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi. Bahkan fotonya saat tertawa ngakak itu diunggahnya ke akun twitter miliknya.

Meskipun sering terlihat konyol, namun kebijakannya menenggelamkan kapal pencuri ikan menunjukkan ketegasannya dalam bersikap. Bahkan Menteri Susi pernah meraih predikat Menteri berkinerja terbaik berdasarkan hasil jajak pendapat Populi Center 2015 yang lalu.

Kekaguman publik tentu saja tidak terlepas dari gaya populismenya yang menyimpang dari kebiasaan umumnya pejabat publik di tanah air.

Berikut ini sejumlah gaya “populisme” Menteri Susi yang foto-fotonya diunggahnya sendiri di akun twitternya.

Susi Pudjiastuti

Susi disebut media Malaysia sedang berpose yoga

Sejak sebelum menjadi Menteri, Susi Pudjiastuti memang sudah akrab dengan laut. Di akun twitter miliknya dia mengunggah sejumlah kegiatannya di laut, antara lain saat mengayuh kano dan berpose Yoga di atas kano.

Susi Pudjiastuti

Ngopi dan merokok di atas kano

Tak jarang pula Menteri Susi mengunggah kegiatannya saat minum kopi dan merokok di atas kano yang berlayar di tengah laut. Memang, Susi Pudjiastuti tidak pernah menyembunyikan kebiasaannya merokok, seperti misal saat duduk di lantai sambal merokok seusai namanya diumumkan Presiden menjadi Menteri pada Oktober 2014.

Selain itu, Susi Pudjiastuti yang tidak menyelesaikan sekolahnya di SMA 1 Yogyakarta tidak pernah menyembunyikan tato di kakinya.

Sosok Populis

Tak pelak lagi, Susi memang menampilkan gaya populis (disukai rakyat) yang cenderung anti elite. Dalam pandangan konsultan komunikasi publik M. Bahrul Witjaksana, Susi benar-benar mewakili keinginan Presiden Joko Widodo untuk menampilkan wajah wong cilik dalam pemerintahannya.

“Jokowi ingin mentransformasikan citra dirinya ke dalam kabinet yang ia pilih, karena Susi adalah representasi orang biasa, hanya lulusan SMP, dan pendidikan bukan kriteria utama,” kata Bahrul.

Bahkan Bahrul melihat pemilihan Susi sebagai menteri seperti sebuah “olok-olok” terhadap sistem rekrutmen politik yang selama ini dilakukan oleh pemerintahan Indonesia yang menampilkan aspek-aspek elitis yang berbasis partai politik, dunia akademis dan para pesohor.

“Penunjukan Susi sebagai menteri seperti punya niat menunjukkan kita sudah jengah dengan elitisme seperti itu dalam politik kita,” kata Bahrul.

Bahrul tidak menutup kemungkinan bahwa sosok Susi ini adalah bagian dari pencitraan, sekalipun tidak dibuat-buat.

Gaya populisme Susi Pudjiastuti memang sudah dari lahirnya begitu. SMA 1 Yogyakarta adalah satu diantara sekolah favorit di Kota Gudeg, tapi dengan enteng Susi meninggalkannya. Dia lebih memilih menjadi pengepul ikan di Pangandaran.

Susi Pudjiastuti

Said Didu pun melalui akun twitternya memuji Susi, “Ciri-ciri orang yang menikmati kehidupan untuk diabdikan ke kemanusiaan – bukan sekedar untuk diri sendiri.

Bahrul pun juga berpandangan, seandainya dipercaya menjadi konsultan komunikasi Menteri Susi, dia akan memberi masukan baginya untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Dirinya yang orisinil ini tak bisa dilawan dengan pabrikasi (pencitraan buatan) apapun.

Dalam mengemas citra politik, tutur Bahrul, ada matter (materi), manner (model kemasan) dan method (metode penyampaian), dan dalam tiga aspek itu, Susi memiliki materi yang sangat bagus.

“Tanpa melakukan banyak upaya dalam manner dan method, Susi sebagai sosok sudah bisa menarik perhatian publik,” puji Bahrul.

Namun Bahrul pesimis gaya “populisme” ala Menteri Susi akan mengubah pola-pola rekrutmen politik di Indonesia yang selama ini dibajak oleh kepentingan uang.

Sekalipun ada contoh lain misalnya Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang juga termasuk tokoh otentik dan tampil apa adanya, lanjut Bahrul, namun masih ada masalah dalam rekrutmen politik.

“Mahalnya biaya rekrutmen politik dan pilihan-pilihan dari kalangan elite yang masih akan menjadi penghalang,” tandas Bahrul. []

 

 

1 KOMENTAR

  1. “Kekurangan” ini justru menjadi penguat bagi keberadaannya sbg sosok pejabat yg bekerja apa adanya. Rakyat merindukan hal-hal itu, bekerja dng semangat, tdk mengada-ada … Terlebih lagi, tdk ikut parpol mana pun, ini kekuatan tersendiri!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here