Ini Dia Museum Sejarah Anti Kolonial yang Pertama di Indonesia

1
621
Viral Museum Multatuli yang berlokasi d bekas rumah wedana Lebak

Nusantara.news, Jakarta – Eduard Doewes Dekker yang lebh dikenal dengan nama Multatuli, lahir di Amsterdam, 2 Maret 1820.

Untuk mengenang sastrawan legendaris yang novelnya berjudul Max Havelaar berkisah tentang Lebak, maka Bupati Iti Octavia Jayabaya menghadirkan Museum Multatuli di Kota Rangasbitung, Provinsi Banten, sebagai museum antikolonial pertama di Indonesia.

Profil Multatuli sang penulis Max Havelaar

Lokasi museum bertempat di bekas kantor sekaligus kediaman Wedana Lebak yang dibangun sekitar tahun 1920-an.  Sayang, isi museum masih perlu dilengkapi hingga peresmian yang dijadwalkan pada Mei 2017 nanti.

Walaupun disebut Museum Multatuli, museum ini disiapkan sebagai museum tentang gerakan anti kolonialisme -sejak persinggungan awal berbagai wilayah di Nusantara di abad 14 dengan Belanda, Portugis, Spanyol hingga berdirinya Republik Indonesia.

“Isinya nanti, kalau sudah jadi, tentang bagaimana penjajahan masuk Nusantara, bagaimana terjadi dan bagaimana penjajahan turut menyumbang pada bentuk negara bangsa Indonesia,” ujar Bonnie Triyana, seorang konseptor museum.

Multatuli sebagai nama samaran Eduard Douwes Dekker memang memiliki pertalian sejarah yang kuat dengan Kabupaten Lebak. Saat menjabat asisten residen Lebak dia menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak.

Memang, hanya ada sedikit koleksi yang sekarang bisa ditampilkan di museum. Antara lain koleksi surat-menyurat Eduard dengan pejabat kolonial Hindia Belanda. Ada juga foto-foto dan tentu saja novel Max Havelaar terbitan pertama.

“Yang menarik, kami mendapatkan tegel rumah Multatuli di Lebak,” ungkap Bonnie, yang ikut menemani Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, dalam kunjungan ke Belanda, dua tahun lalu.

Bupati Iti Octavia dan Bonnie Triyana merancang isi museum

Tegel yang berasal dari rumah Multatuli di Lebak itu ‘diselamatkan’ seorang turis Belanda pada 1980-an sebelum bangunannya dibongkar. Tegel itu kemudian disumbangkan kepada Perhimpunan Multatuli di Belanda.

“Ada dua pasang tegel. Kami menerima sumbangan tegel putih, sementara yang hitam tetap disimpan oleh Perhimpunan Multatuli di Belanda,” paparnya.

Pemerintah Kabupaten Lebak sendiri berharap Museum Multatuli itu bisa diresmikan pada Mei 2017 nanti. “Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional,” tambahnya.

Mengenalkan Lebak

Terlibat sejak awal sebagai salah-seorang konseptor, Bonnie mengatakan, selain memotret perjalanan gerakan antikolonialisme, museum juga akan menghubungkan sejarah yang terjadi di Lebak dengan sejarah Nusantara dan dunia.

“Jadi kami ingin mengangkat posisi daerah yg kecil ini dalam sejarah Indonesia dan dunia,” katanya.

Agar lebih diterima masyarakat, selain Multatuli, Bonnie yang juga penggagas Perhimpunan Multatuli di Indonesia ini tak lupa menampilkan tokoh-tokoh yang pernah tinggal di Lebak seperti H. Agus Salim, Tan Malaka, atau sastrawan yang terinspirasi oleh Lebak seperti WS Rendra.

Seperti diketahui, WS Rendra pernah menerbitkan kumpulan puisinya berjudul Orang-Orang Rangkasbitung. Max Havelaar sendiri diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh HB Jassin, dan di dalam Max Havelaar ada kisah “Saijah dan Adinda” yang pernah difilmkan.

Pengelola museum juga akan menampilkan patung Multatuli dan patung Saijah dan Adinda -dua tokoh dalam novel Max Havelaar- karya pematung Dolorosa Sinaga.

Toh demikian, Bonnie yang juga sebagai Sejarahwan UI tidak bermaksud mengkultuskan sosok Multatuli. “Namun karena Multatuli namanya sudah dikenal dunia, kami berharap mereka hadir di Rangkasbitung,” pungkas Bonnie.[]

 

1 KOMENTAR

  1. Perlu generasi saat ini utk diikutsertakan dalam menggali potensi sejarah bangsa agar supaya generasi mendatang tidak melupakan sejarah. Saya ingat jadinya semboyan Bung Karno yang beliau mengatakan “JASMERAH”. Bagi saya pribadi setelah membaca tulisan2 yg selalu saya terima dengan gratis dari Sang Penulis Bang Marlin (panggilan akrab pertemanan saya saat sekolah) saya jadi menerawang seperti saya masih di bangku sekolah. Sukses selalu Mas Marlin Dinamikanto, terima kasih banyak saya pribadi atas ulasan dan tulisannya yg dpt saya jadukan bahan diskusi dengan anak dan keluarga saya untuk mengenang sejarah bangsa.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here