Ini Dia Produk Indonesia yang Digemari Orang Afrika

1
771
Produk mie instan ini begitu populer di Nigeria sehingga orang di sana mengira Indomie itu produk dalam negerinya

Nusantara.news, Jakarta – Bukan hanya “dari Sabang sampai Merauke” yang taglinenya digunakan untuk kampanye Partai Demokrat 2009, mie instan produk Indomie ternyata ngetop juga di Afrika, khususnya Ghana dan Nigeria. Bahkan diklaim sebagai produk lokal mereka.

Meskipun gandum hampir tidak ditemukan di tanah pertanian Indonesia, tapi produk mie instan yang terbuat dari tepung gandum ini sangat familiar di kalangan anak kos, baik itu mahasiswa, pekerja kantoran yang masih bujang, hingga buruh pabrik di seputaran Jabodetabek.

Itulah hebatnya naluri bisnis Liem Sioe Liong, taipan terkaya Asia Tenggara era Orde Baru yang memiliki kedekatan dengan Presiden Soeharto. Setelah sukses memonopoli impor gandum sejak 1982, Om Liem memproduksi mie instan dengan merk Indomie. Setelah itu produk mie instan itu dipasarkan hingga ke Afrika Barat, khususnya Ghana dan Nigeria.

Kini, terang Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dalam Rapimnas Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DKI Jakarta, Selasa (21/3), di Nigeria saja sudah ada 10 pabrik Indomie. “Bahkan mereka mengklaim Indomie berasal dari Afrika,” ujarnya.

Sukses Indomie di Afrika, lanjut politisi Nasdem ini, mestinya mendorong pengusaha Indonesia lebih menjajaki pasar Afrika. Karena umumnya produk-produk Indonesia diterima baik di sana.

Lagu “Indomie” oleh penyanyi rap berkulit hitam di London, Jesse Two Ocean

Indomie dalam satu dekade ini bahkan menjadi bagian dari budaya pop. Sebut saja enam tahun lalu, penyanyi rap berkulit hitam di London, Jesse Two Ocean (J20) membuat lagu khusus berjudul Indomie yang merebut perhatian Netizen di Indonesia.

Video berdurasi 2 menit 52 detik itu, saat Nusantara.news membukanya sudah ditonton sebanyak 873.668 kali, menampilkan sosok Jesse dan gadis-gadis Afrika yang sedang acara masak-masak di kediamannya.

Tidak mau ketinggalan, penulis Nigeria Chimamanda Ngozi Adichie juga menyinggung merk Indomie dalam novelnya berjudul Americanah yang banyak dipuji oleh para kritikus.

Di Afrika Barat, mengutip kesaksian wartawan BBC Afrika Akwasi Sarpong, Indomie adalah makanan instan yang banyak digemari warga, khususnya di Nigeria dan Ghana. “Iklannya begitu gencar di radio, televisi dan sejumlah media yang mendorong pemilik uang warga Afrika ikut menikmati remah-remah bisnisnya,” beber Sarpong.

Kapten tim nasional sepakbola Ghana, Asamoah Gyan, yang pernah merumput di Sunderland FC, Liga Primer Inggris dan sekarang main di klub Uni Emirat Arab, lanjut Sarpong, menginvestasikan uangnya dalam mata rantai bisnis mie instan yang banyak digemari warga Afrika Barat.

Singkat cerita, apabila Amerika bangga dengan Coca-Cola, Pepsi Cola, KFC atau McDonald, Indonesia setidaknya memiliki Indomie yang produknya mendunia. Toh demikian, tahun 2010 produk mie instan asal Indonesia pernah ditarik dari sejumlah toko di Taiwan karena diduga mengandung zat pengawet yang membahayakan kesehatan manusia.

Karena popularitasnya itu, perusahaan riset WorlPanel menempatkan Indomie di posisi delapan dunia dalam kategori fast-moving consumer goods (produk cepat saji).

Di London yang banyak dihuni warga kulit hitam asal Afrika, Indomie dan produk mie instan lainnya banyak dijual di toko-toko Afrika dan menempatkannya di rak paling depan. Tolla Allie, warga Nigeria yang sudah 15 tahun bermukim di London, secara berkala membeli satu atau dua dus. Alasannya harga lebih murah ketimbang beli eceran.

“Sepertinya mereka tidak tahu yang dibeli itu produk Indonesia. Mereka tahunya dari Nigeria,” ujar Muhamad Susilo, wartawan BBC Indonesia di London.

Nah, di Indonesia sendiri pernah muncul viral yang cukup popular dengan kalimat, “haruskah aku menjadi Indomie agar menjadi seleramu?” Viral itu berangkat dari lagu iklan mie instan itu yang dalam kalimat terakhirnya berbunyi, “Indomie, Seleraku.”

Belum lama ini, sebuah kedai di Jakarta mengenalkan kue ulang tahun yang tumpukannya terbuat dari bahan mie instan goreng ditambah kornet dan keju. Karena memang mie instan yang dipasarkan secara masif melalui warung Indomie oleh warga yang umumnya asal Kuningan, Jawa Barat, di Jakarta itu sudah menjadi bagian dari hidup sebagian besar orang Indonesia.

“Tapi hati-hati, jangan keseringan makannya. Tidak baik untuk pencernaan,” saran pakar gizi umumnya yang dipantau Nusantara,news di sejumlah situs. Kandungan seratnya yang rendah satu di antara penyebab mie instan tidak boleh dijadikan makanan pokok sehari-hari. []

1 KOMENTAR

  1. Indomie memang masih menjadi selera, bahkan di Indonesia … Yah, moga-moga ada upaya mengenalkan produk makanan lain khas Indonesia .. thiwul laku nggak ya, hahahaaaa!

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here