Ini Dia, Program Nuklir Korea Utara yang Ditakuti Amerika

0
716
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un memantau uji coba rudal Pukguksong-2 di suatu tempat, foto tidak bertanggal dirilis oleh KCNA di Pyongyang, 13 Februari 2017

Nusantara.news – Eskalasi politik di Semenanjung Korea makin memanas dalam beberapa hari ini. Penyebabnya, Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistik yang jatuh di Laut Jepang jelang pertemuan penting Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di Florida (6-7, April). Padahal, salah satu poin pembicaraan antara kedua pemimpin negara itu adalah masalah program pengembangan nuklir di Korea Utara.

Pejabat AS menduga, Korea Utara telah mengalami kemajuan yang cukup pesat dalam program pengembangan senjata nuklir.

Sejak kenaikan Kim Jong-Un pada tahun 2011, Korea Utara telah menimbulkan tantangan diplomatik tersendiri bagi AS. Pyongyang dilaporkan telah menggenjot program nuklirnya dan berharap untuk segera memiliki rudal senjata nuklir yang mampu mencapai daratan AS.

Ketegangan AS-Korea Utara telah meningkat dalam beberapa tahun belakangan. Mantan Presiden AS Barack Obama memperingatkan penggantinya, Presiden Donald Trump, bahwa nuklir Korea Utara  bakal menjadi masalah paling mendesak yang dihadapi pemerintahan baru AS.

Para ahli mengatakan, jika kecenderungan terus berlanjut, Kim Jong-Un mungkin akan mampu memiliki rudal nuklir yang diinginkan dalam satu dekade mendatang.

Berikut sejumlah hal yang perlu diketahui tentang program nuklir yang dikembangkan oleh Korea Utara, dan upaya Barat untuk menghentikannya, sebagaimana dilansir Huffington Post.

Korea Utara telah membangun program senjata nuklir selama beberapa dekade lalu. Dimulai pada era Pemerintahan Kim Il Sung pasca-Perang Dunia II dan mulai terbentuk di bawah pemerintahan putranya, Kim Jong Il yang pertama kali diuji coba pada tahun 2006.

Wartawan New York Times, David Sanger menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan Dave Davies dari NPR bulan lalu, menyebutkan bahwa Korea Utara mampu membeli banyak teknologi nuklir dari salah satu pendiri program nuklir Pakistan dan memperkaya uranium dari Libya.

Korea Utara diperkirakan saat ini memiliki sekitar 10 senjata nuklir dan memiliki cadangan yang cukup untuk membuat 100 lebih lagi.

Senjata nuklir

Korea Utara sejauh ini telah melakukan setidaknya 5 kali uji coba senjata nuklir, semua dilakukan di lokasi uji coba bawah tanah di timur laut negara itu yang disebut Punggye-ri.

The New York Times mencatat uji coba yang pertama dilakukan oleh ayah pemimpin Korea Utara saat ini, Kim Jong Il, dan menghasilkan kekuatan kurang dari satu kiloton atau setara 1.000 ton TNT.

Kedua, dilakukan tiga tahun kemudian yang menghasilkan kekuatan 2,35 kiloton. Uji Coba terbaru Korea Utara pada bulan September adalah yang terkuat yang pernah dicapai.

Departemen Pertahanan Korea Selatan memperkirakan kekuatannya mencapai 10 kiloton, meskipun sejumlah spekulasi menyebut kekuatannya telah mencapai antara 20 hingga 30 kiloton.

Sebagai bagai catatan,  “Little Boy” bom yang dijatuhkan oleh AS di Hiroshima, Jepang berkekuatan sekitar 15 kiloton.

Rudal

Di samping pengembangan nuklir, Korea Utara juga telah mengembangkan rudal balistik, tujuan akhirnya adalah rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu membawa hulu ledak nuklir ke daratan AS.

Sebuah Infografis yang dibuat Center for Nonproliferation Studies for the Nuclear Threat Initiative menunjukkan, saat ini rudal Korea Utara termasuk beberapa jenis yang belum teruji, berpotensi mampu mencapai Amerika.

Musudan, rudal Korea Utara dengan jarak tembak terjauh, dianggap mampu mencapai wilayah AS di Guam, telah diuji sebanyak delapan kali pada 2016, namun hanya sebagian yang berhasil, yaitu sekali saja pada bulan Juni 2016.

Pada Mei 2016  lalu, para pejabat intelijen AS dan Korea Selatan mengumumkan Korea Utara saat ini memiliki kemampuan menyertakan hulu ledak nuklir kecil di atas rudal balistik yang mampu menjangkau banyak wilayah di Korea Selatan dan Jepang. Bahkan para ahli mengatakan, Korea Utara dapat mencapai kemampuan menyerang AS tahuh 2026.

Apa yang diinginkan Korea Utara?

Para ahli mengatakan, nuklir Korea Utara merupakan ambisi pimpinan Korea Utara untuk mempertahankan kontrol kekuasaan mereka sebagai bangsa yang terisolasi.

“Di atas segalanya, program nuklir Korea Utara adalah tentang keamanan,” kata John Delury, profesor di Universitas Yonsei di Seoul.

Respon AS dan International

Kim Jong-Un terus melakukan serangkaian tes senjata nuklir meskipun mendapatkan kecaman keras dari dari masyarakat internasional. Januari lalu, PBB mengenakan saksi “terberat” dari sebelumnya terhadap negara Korea Utara sebagai upaya mencegah program senjata nuklir.

Namun, nampaknya upaya pencegahan telah gagal, sebab pada bulan September 2016 lalu, mantan Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan, tindakan Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan kekacauan sebuah wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya, kata Ki-Moon mengomentari pengembangan nuklir Korea Utara.

Amerika Serikat di bawah Pemerintahan Presiden Barrack Obama berhati-hati menyikapi Korea Utara. Dia tampak selalu menahan diri untuk melakukan tindakan langsung terhadap rezim Kim. Namun, sebagai anggota Dewan Keamanan PBB, AS membantu meningkatkan sanksi terhadap Korea Utara menyusul uji coba nuklir bulan September lalu. AS juga dilaporkan terlibat dalam operasi sangat rahasia terkait pengembangan senjata nuklir Korea Utara.

Rezim Pemerintahan Donald Trump

Meski mendapat kecaman PBB dan dunia Barat, Kim Jong-Un rupaknya acuh tak acuh, dia tetap melanjutkan program pengembangan senjata nuklirnya, bahkan semakin menunjukkan sikap menantang.

Dalam kampanye Pemilihan Presiden AS 2016, Donald Trump berjanji akan mengambil tindakan terbaik terkait Korea Utara. Trump setidaknya telah melakukan sejumlah langkah, seperti melakukan pemasangan sistem anti-rudal THAAD di Seoul dan melakukan latihan gabungan terbesar dengan Korea Selatan di Semenanjung Korea.

Tindakan Trump memicu kemarahan Korea Utara, sehingga sejumlah uji coba rudal kembali dilakukan, beberapa di antaranya jatuh di Laut Jepang, sekutu AS. Cina juga tidak terima dengan pemasangan anti- rudal di Seoul yang dinilai membahayakan Cina.

Pertemuan Trump dan Jinping di Mar-a-lago, Florida awal April ini tidak menghasilkan kesepakatan yang konkret terkait penghentian program senjata nuklir Korea Utara. AS mengirimkan kapal induk Carl Vinson ke Semenanjung Korea sehari setelah pertemuan.

(Baca: Setelah Suriah, Korea Utara Sasaran AS Berikutnya?)

Apakah Trump bakal benar-benar menindak Korea Utara? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here