Ini dia, Sarin yang Bikin Donald Trump Bombardir Suriah

0
238

Nusantara.news – Perang Suriah memasuki babak baru. Amerika Serikat meluncurkan serangan ke pangkalan udara milik pemerintah Suriah pada Jumat (7/4) dini hari. Ini merupakan serangan langsung pertama yang dilakukan AS selama terlibat dalam konflik Suriah selama enam tahun terakhir. Bagi Suriah, ini serangan terbesar yang dilakukan AS sejauh ini dan bisa diartikan sebagai ajakan berperang.

Kenapa Presiden AS, Donald Trump akhirnya memutuskan untuk memerangi rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, padahal dia dulu getol menentang perang dengan Suriah? Inilah salah satu alasannya: ‘sarin’, senjata kimia berbahaya yang telah dilarang penggunaannya dalam perang oleh kesepakatan internasional.

Rezim Assad diduga menggunakan senjata kimia ini untuk membunuh warganya sendiri di Provinsi Idlib, Suriah.

Trump akhirnya memerintahkan pasukannya di Suriah untuk meluncurkan sekitar 59 rudal jelajah Tomhawk dari kapal perang AS yang dalam beberapa minggu ini sudah berada di sekitar kawasan Suriah. Pangkalan udara Suriah menjadi target sasaran rudal karena menurut sejumlah pejabat AS, Assad meluncurkan senjata kimianya dari tempat itu.

Senjata kimia diduga merupakan gas sarin dilepaskan pada Selasa (4/4) kepada warga sipil di kawasan kota Khan Seikhoun, Provinsi Idlib Suriah. Puluhan orang tak bersalah (lebih dari 100 orang) tewas seketika secara mengenaskan, dan sebagian besar adalah anak-anak. Nyawa pun melayang sia-sia.

Médecins Sans Frontières menegaskan, dari gejala yang diderita oleh para korban, dapat diambil dugaan mereka terpapar gas beracun yang identik dengan ‘sarin’, namun tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan senjata kimia jenis lain yang lebih buruk.

Pemerintah Suriah membantah telah menggunakan senjata kimia itu, dan berbaik menuduh bahwa para pemberontak bersenjata Idlib-lah yang menggunakannya. Rezim Assad menuding mereka menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.

Sebagaimana dikutip The Atlantic, Jumat (7/4) sejumlah ahli berpendapat bahwa proses pembuatan sarin terlalu rumit sehingga tidak mungkin dikerjakan oleh para pemberontak. Jika pun mereka berhasil mencuri gas saraf itu, maka tidak akan dalam jumlah yang besar.

Seperti apa sarin?

Sarin merupakan gas beracun, tidak berwarna, tidak berbau yang bekerja menyerang sistem saraf. Kimia ini termasuk dalam kategori yang sama dengan pestisida, juga dikenal sebagai organofosfat; dalam jumlah kecil saja dapat menyebabkan kematian dalam waktu beberapa menit saja.

Sarin menyerang sistem saraf sehingga akan mengganggu semua fungsi tubuh. Ia akan menyebabkan bola mata menyusut, mulut penuh liur dan paru-paru berisi cairan, kemudian jantung mulai melambat. Tekanan darah yang berfungsi menjaga agar orang tetap sadar  tiba-tiba menurun, dan korban kemudian kehilangan kesadaran. Beberapa korban mungkin mengalami kejang. Kematian lalu datang dengan cepat dan tanpa ampun.

Sarin, bersama dengan racun penyerang saraf lainnya seperti Tabun dan Soman, pertama kali diproduksi di Jerman pada bulan Oktober 1938. Pabrik yang memproduksi dikenal dengan nama I.G. Farben dengan ahli kimia bernama Gerhard Schrader dan tim.

Schrader dan perusahaannya sedang mengembangkan pestisida untuk merusak sistem saraf serangga. Kata sarin sendiri merupakan singkatan nama-nama empat ilmuwan yang mengembangkan zat itu. Namun kemudian, pemerintah Nazi mengatakan kepada Schrader untuk melupakan serangga dan fokus pada pembuatan sarin sesegera mungkin. Meski waktu itu sarin merupakan senjata kimia yang cukup ampuh, tapi Hitler memutuskan tidak menggunakannya untuk melawan sekutu dengan alasan yang kurang jelas.

Pada tahun 1993, Konvensi Senjata Kimia meratifikasi perjanjian pengawasan senjata dan saat ini, sarin telah dilarang penggunaannya oleh 192 negara, sedikit maupun banyak.

Jika senjata kimia yang digunakan di Suriah adalah sarin, maka ini adalah penggunaan yang keempat yang diketahui sepanjang sejarah peperangan dunia, dua diantaranya terjadi di Suriah.

Pertama, terjadi pada 16 Maret 1988, pada akhir perang Iran dan Irak. Di kota Kurdi Halabja, sekitar 12 mil dari perbatasan Iran pesawat Irak muncul dan menyebar gas beracun, menewaskan lebih dari 5.000 orang. Orang-orang di Halabja benar-benar bingung dengan serangan tersebut, saat mereka menyaksikan burung jatuh dari pohon-pohon dan hewan-hewan roboh ke tanah, menggeliat kesakitan.

Kedua, pada tanggal 20 Maret 1995, ketika gerakan keagamaan baru Jepang yang dikenal sebagai Aum Shinrikyo menyebar gas pada tiga jalur kereta bawah tanah di Tokyo, menewaskan 12 orang dan mencederai ribuan lainnya.

Dua kasus paling baru penggunaan sarin terjadi selama perang saudara di Suriah, satu pada tanggal 21 Agustus 2013, menurut PBB wilayah di Timur Ghouta, pinggiran Damaskus dikejutkan oleh roket rezim Assad yang mengandung sarin. Perkiraan korban tewas bervariasi, laporan pemerintah AS menyebut 1.429 tewas, termasuk 426 anak-anak. Kedua, terjadi Selasa lalu di kota Khan Seikhoun, Provinsi Idlib Suriah.

Trump berubah sikap

“Malam ini, saya memerintahkan serangan militer ditargetkan ke lapangan udara di Suriah, dari tempat dimana serangan kimia diluncurkan,” kata Trump dalam pernyataan singkat kepada wartawan di resor Mar-a-Lago, Florida, saat mempersiapkan pertemuan penting dengan Presiden Cina Xi Jinping Kamis (6/4).

“Hal ini penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat untuk mencegah dan menghalangi penyebaran dan penggunaan senjata kimia mematikan,” kata Trump.

Keputusan Trump untuk menyerang Suriah dengan puluhan rudal tergolong perubahan sikap yang dramatis, mengingat Trump sebelumnya kukuh pada pendapat bahwa tidak perlu menyerang Suriah dengan berbagai alasan, termasuk soal anggaran militer. Di samping itu, kedekatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di saat awal dia terpilih sebagai Presiden AS menjadi sinyal Trump tidak akan begitu “galak” terhadap rezim Assad.

Namun, dengan alasan adanya penggunaan senjata kimia berupa gas sarin, Trump tiba-tiba saja berubah sikap. Inilah babak baru keterlibatan AS dalam perang saudara di Suriah yang telah berlangsung cukup lama, sekaligus juga babak baru hubungan antara Trump (AS) dan Putin (Rusia), karena Rusia marah Trump menyerang Rusia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here