Ini Dia Sindikat Yahudi yang Mendikte Amerika (2)

0
281
Trump ketika mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Nusantara.news, Jakarta –  Untuk mengakumulasi dukungan finansial, juga ada organisasi yang bertugas di bidang pengumpulan dana, seperti The Jewish National Fund (JNF), atau Keren Kayemeth Le Israel dalam bahasa Ibrani. Organisasi ini didirikan tahun  1901.

JNF ini erat kaitannya dengan rencana pendirian negara yahudi. Seperti diketahui, pada 1896, Theodor Herzl, pencetus zionisme, menerbitkan bukunya berjudul Negara Yahudi. Isinya, Herzl mengusulkan agar bangsa yahudi yang tak mempunyai negara itu mendirikan negara Israel. Sejak itulah, rekayasa yahudi untuk merebut negara Palestina dan menjadikannya negara Israel mulai diwujudkan.

Persoalannya, di manakah negara hendak didirikan?

Mereka tak punya sepetak tanah pun di muka bumi ini setelah berabad-abad menjadi bangsa yang terusir. Ketika pilihan jatuh ke Palestina, mereka memberi alasan bahwa Masjidil Aqsa yang terletak di Yerussalem adalah tempat suci agama yahudi.

Untuk merealisasikan itu, setahun kemudian diselengarakan Sidang Raya Zionisme untuk pertama kalinya di Basel, Swiss. Sidang ini dilaksanakan setiap tahun. Salah satu pembicaraan dalam sidang-sidang itu adalah perlunya penguasaan tanah di Palestina.

Untuk menguasai Palestina, setidaknya ada dua cara. Pertama adalah cara politik. Mereka memainkan politik dalam negeri Inggris, yang ketika itu menjadi penguasa di Timur Tengah, untuk merekayasa peralihan Palestina ke tangan mereka.

Satu hal yang mudah dilakukan. Sebab, ekspansi Inggris ke Asia dan Afrika Utara diotaki oleh Benyamin Disraeli, yang keturunan Yahudi. Seluruh pembiayaannya ditanggung oleh Lionel Rotschild, pendirian dinasti miliuner Rotschild, yang juga yahudi.

Rotschild adalah penentu dunia waktu itu. Kerajaan bisnisnya berpusat di Frankfurt, London, Paris, Berlin dan Wina. Mereka mengusai pusat-pusat keuangan di Eropa dan para pemimpin negara butuh dukungannya. Praktis, Eropa dikuasai keluarga ini. Dan, dalam masa itu, menguasai Eropa berarti menguasai dunia.

Kesuksesan ekspansi Benyamin membuat namanya melambung di Inggris, sehingga terpilih menjadi Perdana Menteri tahun 1875. Perkongsiannya dengan Lionel Rotschild tetrap berlanjut. Dengan dukungan modal dari mahajutawan itu, Inggris membeli saham perusahaan Mesir, Khedivi, yang menguasai Terusan Suez. Sejak itu makin terbukalah jalan bagi Inggris untuk menjelajah ke seluruh Afrika Utara dan  Asia. Tak lama setelah itu, imperialisme Inggris di Asia berawal.

Cara kedua adalah dengan cara membeli tanah-tanah di Palestina dari penduduk setempat. Pada Sidang Raya Zionisme kelima di Basel tahun 1901, didirikanlah Keren Kayemeth LeIsrael atau JNF tadi. Tujuan utamanya adalah membeli dan membangun tanah di Palestina yang waktu itu dikuasai Dinasti Ustmaniyah sejak 1516.

Dan, seperti sudah direncanakan, pada 1914, Turki Usmani berperang dengan Inggris. Setelah berperang selama empat tahun, Palestina jatuh ke tangan Inggris.

Menjelang perang berakhir, pada 2 November 1917, Menlu Inggris, Arthur Balfour, mengeluarkan deklarasi, yang kemudian dikenal  sebagai Deklarasi Balfour. Isi deklarasi ini adalah dukungan Inggris terhadap pendirian negara Yahudi di Palestina. Presiden AS Woodrow Wilson dikenal sebagai pendukung kuat rencana itu.

Sejak didirikan, JNF gencar membeli tanah di Palestina. Pada tahun 1921, tanah yang dimiliki  JNF mencapai 25.000 hektar (100 km²), meningkat menjadi 50.000 hektar (200 km²) pada tahun 1927. Pada akhir tahun 1935, JNF mengelola 89.500 hektar (362 km²) perumahan rakyat 108 komunitas Yahudi.

Jadi jauh sebelum Israel dideklarasikan menjadi negara pada 1948, mereka sudah menguasai tanah di Palestina dengan cara membeli dari penduduk setempat.

Sampai tahun 2007 lalu, JNF sudah menguasai  tanah seluas 3.613,87 km, atau 13 persen dari luas negara Israel. Wilayah Israel menurut Perjanjian Gencatan Senjata 1949 yang ditandatangai bersama Mesir, Lebanon, Yordania dan Suriah, adalah 20.770 km². Sementara luas  keseluruhan, termasuk Yerusalem Timur dan Tepi Barat, mencapai 27.799 km².

JNF kini menjadi kekuatan ekonomi raksasa. Dengan pendapatan tahunan sekitar US$398 juta, asetnya pada 2015 tercatat US$12.720 miliar. Kalau dirupiahkan dengan kurs sekarang, kurang lebih Rp171.720 triliun. Padahal bank terbesar di dunia saat ini, Industrial & Commercial Bank of China memiliki aset Rp 46.563 triliun (2015), atau kurang lebih seperempat dari kekayaan JNF. Jika dibandingkan dengan APBN Indonesia 2018 yang hanya Rp2.221 triliun, aset JNF itu bisa untuk belanja Indonesia selama 77 tahun!

Bisa dibayangkan, jika dana sebesar itu diarahkan untuk mendukung kepentingan Israel. Untuk tahun 2018 dan 2019 saja, JNF sudah menyetujui memberi hibah US$287 juta per tahun untuk pembangunan dan kebutuhan infrastruktur Israel seperti pembangunan jalan dan gedung pendidikan. (Baca: https://www.haaretz.com/israel-news/business/1.818712)

Dengan dana yang terkira banyaknya itu, JNF berhasil menyulap Israel yang tandus itu menjadi hijau dengan menanam sekitar 240 juta pohon. Selain itu, berkat pembangunan 180 waduk, dan sistem penyulingan air laut menjadi air tawar, pertanian Israel maju pesat.

Dana raksasa JNF itu juga digunakan untuk membeli saham perusahaan besar, atau mendukung usahawan yahudi. Sejak dulu hampir keseluruhan perusahaan keuangan yang bermain di Wall Street atau pusat-pusat keuangan dunia lain, berada di genggaman pengusaha yahudi. Sebutlah antara lain George Soros, Filipus Lehman, Yusuf Seligman, Samuel Sachs, Philip Speyer dan lain-lain.

Selain menguasai pasar uang, jabatan-jabatan menentukan di sektor ekonomi juga ditempati orang yahudi. Pemimpin bank sentral AS, Federal Reserve, pasti diisi yahudi. Seperti Alan Greenspan, mantan gubernur Federal Reserve yang legendaris itu. Penggantinya, Ben Shalom Bernanke, juga yahudi. Gubernur The Fed yang sekarang, Janet Louise Yellen, pun yahudi.

Bahkan disain awal The Fed pun dirancang orang yahudi yang diotaki Rotschild. UU The Fed disusun oleh Paul Moritz Warburg, advokat yahudi kelahiran Hamburg 10 Agustus 1868. Sedangkan sistem operasionalnya dibangun oleh Emanuel Alexandrovich Goldenweiser. Dia adalah yahudi Rusia kelahiran Kiev 13 Juli 1883, yang mendapat pendidikan ekonomi moneter dari Universitas Columbia.

Demikian pula di posisi menteri keuangan. Di era Presiden Clinton ada nama Robert Edward Rubin dan Lawrence Henry Summers. Di era Bush Jr.  ada John William Snow. Snow pernah menghebohkan karena tanda tangannya di lembaran uang dolar AS mirip-mirip huruf “JEWS”.

Di era Presiden Obama, menteri keuangannya dipegang oleh Jacob Joseph “Jack” Lew, seorang yahudi Ashkenazi ortodoks. Ayahnya, Itschok Irving Lew, adalah imigran yahudi dari Vaŭkavysk, Belarusia, keturunan Yahudi Polandia. Sedangkan ibunya, Ruth Turoff keturunan yahudi Ukraina.  Kini di zaman Donald Trump jabatan tersebut dipercayakan kepada Steven Terner Mnuchin, eksekutif Goldman Sachs, perusahaan keuangan raksasa milik yahudi.

Bahkan Bank Dunia dan Dana  Moneter Internasional (IMF) juga diarsiteki oleh ekonom yahudi. Dia adalah Harry Dexter White, seorang yahudi Lithuania yang lahir di Boston 9 Oktober 1892. Peraih gelar Ph.D dari Universitas Harvard ini merancang Bank Dunia dan IMF bersama John Maynard Keynes –ekonom Inggris paling banyak dianut pemikirannya, sehingga melahirkan mazhab ekonomi yang disebut Keynesian.

Mereka merumuskannya dalam Konferensi Moneter dan Keuangan PBB di Hotel Mount Washington, Bretton Woods, New Hampshire, AS, 1-22 Juli 1944 –yang kemudian terkenal dengan Konferensi Bretton Wood. Tujuan konferensi ini adalah menata keuangan internasional setelah Perang Dunia II.

Itulah sebagian gambaran jaringan yahudi yang mengurung AS dengan skenario pro-Israel. Meski jumlahnya mereka tidak signifikan secara statistik, tetapi sejarah membuktikan AS sepenuhnya berada di telapak kaki yahudi.

Menurut catatan Jewish Virtual Library yang dikeluarkan American-Israeli Cooperative Enterprise, jumlah orang yahudi di AS (2015) hanya 7.160.000 orang. Di House of Representative AS, dari 435 anggota DPR itu hanya 23 yang orang yahudi, yakni 21 orang dari Partai Demokrat  dan dua orang dari Partai Republik. Di Senat, dari 100 senator, hanya 9 yang yahudi, yaitu 8 orang dari Demokrat dan seorang dari independen.

Jadi, meski hanya punya 32 orang dari 535 anggota Kongres AS, yahudi toh menentukan kebijakan negera tersebut.

Tentu inilah buah dari yang dinyatakan Zionist Organization of America (ZOA) di situs resminya,  zoa.org, seperti dikutip di atas, bahwa ribuan tenaga ahli ZOA bekerja setiap hari di Capitol Hill (kantor Kongres AS di Washington) untuk memperkuat hubungan AS-Israel melalui kegiatan pendidikan, program urusan publik, termasuk memberantas informasi dan persepsi anti-Israel di media massa, buku teks, dan di kampus.

Itu belum termasuk puluhan organisasi yahudi lain di AS yang bergerak sesuai bidangnya masing-masing untuk mengamankan kepentingan Israel. Simak ulasan selanjutnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here