Ini Dia SPG Rokok Pertama Indonesia yang Tak Mau Takluk terhadap Harta dan Tahta

0
1658

Nusantara.news, Surabaya – Kisah ini bisa menjadi renungan, bahwa tidak semua hal bisa diperoleh dengan mengandalkan kekuasaan. Bahwa kehormatan lebih berharga, meski gelimangan harta dan tahta berada di pelupuk mata. Itulah yang tersirat dalam cerita rakyat yang berkisah tentang puncak perjuangan hidup dan tragedi Rara Mendut, seorang wanita pemasar rokok pertama kali di Indonesia.

Dikisahkan dalam Babad Tanah Jawi, pada zaman Sultan Agung berkuasa di Kerajaan Mataram, hidup seorang wanita nan cantik jelita. Dialah Rara Mendut, tinggalnya di pesisir Kadipaten Pati (sekarang Kabupaten Pati). Perjalanan hidup Rara Mendut tergolong heroik meski berujung tragis. Itu berawal saat Kadipaten Pati yang dipimpin Adipati Pragola memberontak pada kepemimpinan Sultan Agung.

Mendengar pemberontakan di Pati, Sultan Agung mengutus panglima perang sekaligus ahli strategi Tumenggung Wiraguna untuk menumpas pasukan Pragola. Peperangan tak seimbang di Pantai Utara Jawa itu pun pecah. Pemberontakan Adipati Pragola berhasil dilumpuhkan pasukan Mataram. Adipati Pragola tewas, seluruh harta benda hasil rampasan perang diserahkan kepada Tumenggung Wiraguna sebagai bukti Pati telah ditaklukan.

Nah, dari salah satu rampasan perang yang diperoleh dari pemberontakan Pati itu adalah Rara Mendut. Saat pertama melihat kecantikan Rara Mendut, mata Tumenggung Wiraguna pun langsung terpana. Tumenggung Wiraguna kepincut. Ia meminta Rara Mendut agar mau dijadikan selirnya. Namun, niat dan tawaran Tumenggung Wiraguna ternyata ditolak mentah-mentah oleh dara cantik itu.

Akibat sakit hati dan merasa tak dihargai, Tumenggung Wiraguna menggunakan cara culas. Tumenggung Wiraguna mengajukan syarat mustahil. Rara Mendut dipaksa menyetor pajak yang nilainya terlampau tinggi. Siasat itu dilakukan karena dia tahu bahwa Rara Mendut adalah gadis miskin. Kendati dalam situasi terpojok, Rara Mendut tetap teguh berpendirian. Dia tak mau menyerah begitu saja.

Rara Mendut tak kehabisan akal menangkal tekanan Tumenggung Wiraguna. Demi mendapat uang untuk kebebasannya, dia berjualan rokok di pasar dengan cara berbeda dari kebanyakan orang. Berbekal kecantikan dan kemolekannya, Rara Mendut menjual rokok yang telah dia rekatkan dengan ludahnya dan terlebih dulu dihisapnya, seraya dipertontonkan ke banyak pasang mata lelaki yang tak berkedip menatap sosoknya.

Tak ayal, kaum laki-laki yang dimabuk kecantikan Rara Mendut pun saling berebut rokok yang dijual Rara Mendut. Bahkan, untuk laki-laki bermata keranjang, sampai-sampai rela membeli lebih mahal demi menghisap rokok bekas lidah dan hisapan bibir Rara Mendut.

Singkat cerita, Rara Mendut akhirnya mampu membayar pajak yang dipatok Tumenggung Wiraguna. Namun bukannya menepati janji, Tumenggung Wiraguna malah semakin tak bisa mengendalikan amarahnya. Tumenggung Wiraguna kembali menaikkan nilai pajak. Namun lagi-lagi Rara Mendut sanggup membayar pajak itu.

Hingga pada suatu ketika Rara Mendut melarikan diri dengan pria yang dicintainya, yakni Pranacitra. Mengetahui hal itu, Tumenggung Wiraguna semakin kalap hingga mencari Pranacitra sampai ketemu untuk dibunuh. Rara Mendut yang mengetahui kekasihnya tewas terbunuh, akhirnya bunuh diri untuk menemani kekasih yang dicintainya itu di alam baka.

Dari kisah rakyat ini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam sejarah Indonesia, Rara Mendut adalah sosok wanita pemasar rokok pertama. Dengan caranya yang unik (unique selling point)—sebagaimana di era kapitalisme modern seperti sekarang ini—Rara Mendut merupakan sosok Sales Promotion Girl (SPG) pada jamannya.

Sudah jamak ditemui bila sebuah stan promosi rokok umumnya akan diisi oleh SPG-SPG yang cantik dan menggoda, meski tidak memasarkan rokok bekas dari hisapan mereka. Pertanyaannya kemudian adalah, masih adakah SPG rokok punya prinsip kuat seperti Rara Mendut saat harus menghadapi manusia sejenis Tumenggung Wiraguna? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here