Ini Hasil Riset PolMark Indonesia untuk Pilkada Jatim

0
109
“Itu yang kita lakukan, sesuai hasil survei,” terang lelaki berkacamata yang alumni Fakultas Ekonomi di Universitas Brawijaya Malang itu" (Foto: Tudji)

Nusantara.news, Surabaya – Lembaga Riset PolMark Indonesia melansir keterpilihan pasangan Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno, yang maju di Pilgub Jatim mengungguli pasangan nomor urut satu, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elistianto Dardak.

Direktur Riset PolMark Indonesia Eko Bambang Subiantoro, dalam paparannya menyebut survei yang dilakukan 6 hingga 11 Pebruari 2018, menghasilkan catatan sebagai berikut, untuk komitmen memberantas korupsi jika terpilih sebagai kepala daerah, nama pasangan Gus Ipul-Puti Guntur disebutkan akan lebih tinggi komitmennya, yakni 40,5 persen. Sementara Khofifah-Emil disebutkan diangka 22,9 persen untuk komitmennya.

“Survei ini kita lakukan tanpa keberpihakan,” terang Eko Bambang memulai kalimatnya, di depan puluhan wartawan yang menyimak paparan hasil surveinya, di Hotel Mercure Surabaya, Rabu (14/3/2018).

Eko menyebut, survei yang dilakukan oleh lembaganya dilakukan mulai 6 hingga 11 Februari 2018. Dengan populasi yang memiliki hak pilih, 17 tahun, dan jumlah responden sebanyak 1.200 orang, di 38 kabupaten/kota di Jatim.

Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan margin error sebesar 2,9 persen. Tingkat kepercayaan 95 persen, dengan porsi jenis kelamin, laki-laki dan perempuan berimbang,” terang Eko Bambang.

“Untuk kategori mewakil masyarakat majemuk, PolMark Indonesia menyebut keterpilihan Gus Ipul-Puti lebih tinggi dibanding pasangan Khofifah-Emil, yakni 44,9 persen, dan 24,5 persen” (Foto: Tudji)

“Itu yang kita lakukan, sesuai hasil survei,” terang lelaki berkacamata yang alumni Fakultas Ekonomi di Universitas Brawijaya Malang itu.

PolMark Indonesia: Gus Ipul lebih tinggi, dibanding Khofifah untuk kategori ‘Mewakili Masyarakat Majemuk’

Untuk kategori mewakil masyarakat yang majemuk, PolMark juga menyebut keterpilihan pasangan Gus Ipul-Puti Guntur lebih tinggi dibanding pasngan Khofifah-Emil, yakni 44,9 persen, dan 24,5 persen, unggul Gus Ipul.

Kemudian, untuk keterpilihan mewakili masyarakat Islam, pasangan nomor urut dua juga tinggi, 46,9 persen, untuk Khofifah-Emil 24,8 persen.

Lagi-lagi angka yang njomplang terjadi untuk penilaian kriteria dengan kategori ‘Bisa Mempersatukan Masyarakat, Umat dan Golongan’ untuk pasangan Gus Ipul-Puti mendapat nilai 46,2 persen sementara Khofifah-Emil hanya 22,8 persen.

“Itu fakta hasil survei yang kita lakukan, dengan 100 responden, 50 laki-laki dan 50 perempuan,” ujar Eko, yang juga alumni Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang itu.

Berbeda dengan Hasil Survei Litbang Kompas

Riset PolMark, yang dilakukan oleh Eko Bambang berbeda jauh dengan riset yang dilakukan Litbang Kompas, dirilis Senin (12/3/2018). Kedua pasangan yang maju di Pilgub Jatim itu nilainya terus bersaing ketat. Selisih tingkat keterpilihan Khofifah-Emil dengan pasangan Gus Ipul-Puti Guntur sangat tipis, yakni 0,5 persen. Khofifah-Emil elektabilitasnya di angka 44,5 persen, sedangkan Gus Ipul-Puti 44,0 persen. Itu lantaran kedua pasangan calon memiliki basis massa yang relatif sama, yakni Nahdlatul Ulama.

Oleh PolMark, nama Emil diprediksi tidak mampu mendongkrak perolehan suara calon gubernur, Khofifah. Lantaran, hingga saat ini Emil belum bisa mendulang suara untuk persiapan percoblosan di 27 Juni 2018.

“Emil itu dipasang untuk meraup suara abangan, tetapi hingga saat ini masih belum bisa dilakukan,” terang Eko Bambang.

Eko kembali menegaskan elektabilitas Khofifah-Emil sebesar 27,2 persen, sementara Gus Ipul-Puti melesat jauh 42,7 persen.

Lelaki berkaca mata itu menyebut, angka tersebut bisa diartikan kalau keberadaan Emil tidak banyak berpengaruh atau berperan sebagai mesin pendongkrak suara di Pilgub Jatim. Menurut lembaga survei itu, pemilih menilai kalau Emil belum mampu menunjukkan hasil kerjanya. Untuk Puti Guntur, suara abangan yang melekat pada PDI Perjuangan terus bergeliat. Hasilnya, elektabilitas Gus Ipul-Puti merangkak naik menjadi 42,7 persen, itu diprediksi akan terus naik.

“Apalagi kalau Puti sering mengenalkan diri dan memfokuskan untuk bersosialisasi ke masyarakat. Sebaliknya, Emil kalau tidak memiliki terobosan yang dahsyat, saya kira tidak akan bisa mendongkrak suara Khofifah di Pilgub Jatim,” ujar Eko, yakin.

Eko kembali menyebut, Puti meskipun belum banyak mendongkrak suara Gus Ipul, tetapi tren menyatukan massa abangan sudah sangat terlihat. Saat ini, Puti bersama PDIP terus merangkak naik bisa kerjanya bisa diandalkan menjadi mesin pendulang suara.

Sebelum bergabung dengan PolMark Indonesia, Eko pernah menjadi Programme Assistance di Friedrich Naumann Stiftung di Jakarta. Serta mengelola Forum Politisi sejak tahun 2008. Juga sebagai pengelola Sekolah Demokrasi Indonesia Jakarta, dan juga tertulis menjadi redaktur pelaksana situs Yayasan Jurnal Perempuan (Foto: Tudji)

Masih kata Eko, massa abangan atau yang terkenal dengan Soekarnois akan terus bersatu untuk memenangkan Gus Ipul-Puti. Dan, jika mereka terus didekati secara berkelanjutan, suara pemilih di kantung abangan diprediksi akan semakin naik. Ditegaskan, di kantung-kantung suara abangan akan terus menambah perolehan suara untuk pasangan Gus Ipul-Puti. Apalagi, jika itu terus dilakukan dengan secara berkelanjutan menyapa mereka di daerahnya masing-masing.

PolMark: Ini Alasan Pilih Gus Ipul

PolMark menyebut, ada sejumlah alasan para responden memilih pasangan Cagub dan Cawagub Jatim yang menjadi idolanya. Misalnya, memilih pasangan Gus Ipul-Puti, karena mantan Ketua Ansor Jatim itu dinilai berpengalaman dan akan mampu memimpin Provinsi Jatim, melanjutkan kepemimpinan Pakde Karwo (Gubernur Jatim, Soekarwo), yakni sebanyak 22,6 persen responden.

PolMark juga menyebut 5,8 persen responden memilih Gus Ipul-Puti karena memang mengidolakan pasangan itu. Mereka, menginginkan Provinsi Jatim berubah, menjadi lebih baik. Lainnya, yakni sebanyak 3,5 persen memilih Gus Ipul lantaran disebutnya sebagai santri yang dekat ulama.

Sementara, untuk pasangan Khofifah-Emil, sebanyak 6 persen menyatakan alasannya memilih nomor satu karena disebutkan sangat peduli dan merakyat. Sebanyak 3,8 persen memilih Khofifah karena sebagai tokoh sentral di Muslimat NU. Kemudian sebanyak 3,7 persen responden memilih Khofifah karena kinerjanya baik, itu terbukti saat menjabat sebagai Menteri Sosial RI di Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

PolMark Indonesia dan Sosok Eko Bambang

PolMark Indonesia adalah lembaga yang spesial membidangi polical, colsulting dan marketing, dan posisi jabatan Eko Bambang Subiantoro sebagai Chief of Research.
Tercatat, Eko menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Aktivitas menulis dan meneliti dilakukan sejak tahun 1999 dengan menjadi koordinator survei politik dan jajak pendapat di Jawa Timur.

Sebelum bergabung dengan PolMark Indonesia, Eko pernah menjadi Programme Assistance di Friedrich Naumann Stiftung di Jakarta. Serta mengelola Forum Politisi sejak tahun 2008. Juga sebagai pengelola Sekolah Demokrasi Indonesia Jakarta, dan juga tertulis menjadi redaktur pelaksana situs Yayasan Jurnal Perempuan. Sejumlah tulisannya, disebutkan tersebar di berbagai media.

Menyimak yang di ulas PolMark Indonesia, tidak berlebihan jika calon pemilih di Pilgub Jatim untuk tetap mewaspadai, dan tetap berpegang pada prinsip atau keyakinan sebelum menentukan pilihan. Tujuannya, untuk ikut andil melahirkan munculnya pemimpin yang dibutuhkan, mampu menangani berbagai persoalan dan menjadikan Provinsi Jatim lebih baik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here