Ini Jalan Keluar Garuda Lolos dari ‘Crash Landing’

0
99
PT Garuda Indonesia Tbk sedang menghadapi turbulensi ekonomi, kinerjanya terpuruk dan utangnya membengkak

Nusantara.news, Jakarta – Beban yang menggelayuti PT Garuda Indonesia Tbk semakin berat. Rugi perseroan membengkak, operasional melambat, hingga terkanan persaingan dan harga minyak, menjadi pekerjaan rumah hari ini. Akan kan Garuda crash landing?

Maskapai kebanggan Indonesia itu hari ini benar-benar sedang terhuyung-huyung sehingga belum ada kejelasan soal nasibnya ke depan.

Paling tidak ada beberapa penyebab Garuda mengalami masalah yang struktural, yakni korupsi pembelian pesawat berbadan besar, utang yang besar, persaingan yang makin ketat, kenaikan harga minyak dunia, dan regulasi yang kurang support.

Aset Garuda sampai September 2017 tercatat sebesar US$3,72 miliar (ekuivalen Rp50,22 triliun) atau sedikit mengalami penurunan jika dibandingkan dengan akhir 2016 sebesar US$3,73 miliar (ekuivalen Rp50,35 triliun).

Sementara utang Garuda sampai September 2017 tercatat sebesar US$2,92 miliar (ekuivalen Rp39,42 triliun) atau naik 7,09% dibandingkan posisi Desember 2016 sebesar US$2,72 miliar (ekuivalen Rp36,81 triliun).

Hingga kuartal III 2017, total pendapatan GIAA mencapai US$3,11 miliar (ekuivalen Rp41,98 triliun), naik 8,7% dari posisi US$2,86 miliar (ekuivalen Rp38,61 triliun) di  periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, peningkatan beban usaha yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan usaha membuat GIAA masih harus menanggung kerugian.

Jumlah rugi bersih maskapai penerbangan nasional tersebut menjadi US$221,90 juta (Rp3,01 triliun) atau membengkak 408% dibandingkan kerugian periode sama tahun sebelumnya sebesar US$43,62 juta (Rp592 miliar)

Sementara itu, jumlah rugi komprehensif maskapai penerbangan nasional tersebut melonjak menjadi US$207,45 juta (ekuivalen Rp2,8 triliun) atau membengkak cukup signifikan jika dibandingkan rugi komprehensif pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$12,47 juta (ekuivalen Rp168,35 miliar).

Direktur Utama Garuda Pahala Mansyuri menjelaskan, kinerja keuangan Garuda saat ini sudah membaik. Pada Triwulan III-2017 ini, Pahala menyatakan, pihaknya telah mencatatkan keuntungan. Di kuartal IV-2017 pun, dirinya menargetkan Garuda juga memperoleh keuntungan.

 Hanya, diakuinya kerugian yang dialami selama Semester I-2017 cukup besar, sehingga, sampai akhir tahun, kinerja keuangan Garuda diprediksi tetap mengalami kerugian. Untuk menekan kerugian, Garuda akan menunda kedatangan 10 pesawat baru yang telah dipesan hingga dua tahun ke depan.

 “Kami sekarang sedang berusaha untuk bisa melakukan penundaan deliverypesawat sampai setelah tahun 2019,” ujar Pahala.

 Selain itu, Garuda juga bakal merestrukturisasi rute penerbangan yang tidak optimal, terutama rute internasional Jakarta-London. Langkah tersebut dalam rangka menindaklanjuti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) bahwa rute tersebut merupakan penyumbang kerugian terbesar bagi perusahaan.

Modal susut sepertiga

 Sampai dengan kuartal III 2017, modal Garuda susut 29% karena itu Garuda minta keringanan syarat utang sebesar US$500 juta.

Sampai 30 Juni 2017, perusahaan telah melanggar batasan rasio keuangan yang disyaratkan dalam perjanjian, khususnya jumlah ekuitas grup.

 Garuda tengah terbelit masalah keuangan dan permodalan yang berat. Maskapai penerbangan BUMN ini memohon kepada pemegang surat utang syariah (sukuk) global senilai US$500 juta untuk melonggarkan persyaratan. Alasannya, kerugian Garuda yang membengkak telah menggerus modalnya sehingga anjlok di bawah batas yang ditentukan dalam perjanjian surat utang tersebut.

Garuda menggelar Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) sukuk global senilai US$500 juta di Hong Kong. Rapat itu bertujuan meminta persetujuan pemegang sukuk untuk mengamendemen perjanjian.

Revisi menyangkut persyaratan batasan rasio keuangan yang harus dipenuhi Garuda. Dalam surat kepada otoritas bursa Singapura dimana sukuk tersebut dicatatkan, Kamis (27/7), Garuda merinci poin-poin persyaratan yang akan direvisi dan dimintakan persetujuannya kepada pemegang sukuk.

Di antaranya adalah penurunan batasan minimal total modal konsolidasi Garuda menjadi US$500 juta dari sebelumnya US$800 juta. Selain itu, menaikkan batasan rasio total utang terhadap modal atau debt to equity ratio (DER) menjadi tiga kali dari semula 2,5 kali.

“Sebelum pengumuman ini, kami telah memulai diskusi dengan kreditor untuk mencari keringanan dan modifikasi perjanjian seperti diminta dalam proposal permohonan persetujuan (consent solicitation),” kata manajemen Garuda dalam surat keterbukaan informasi tersebut yang juga ditembuskan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

 Sukuk global Garuda senilai US$500 tersebut bertenor 5 tahun yang jatuh tempo tahun 2020, dengan kupon 5,95%. Saat diterbitkan pada 2015, sukuk ini mencatatkan kelebihan permintaan sampai empat kali lipat dari nilai penawaran.

Kala itu, Garuda mengklaim menjadi perusahaan pertama di Asia Pasifik yang menerbitkan sukuk global berdenominasi dolar dengan jumlah pemesanan sangat banyak. Mayoritas investornya dari Timur Tengah sebanyak 56%, Asia 32%, dan Eropa 12%.

Sukuk tersebut terikat pada tiga batasan rasio keuangan, yaitu modal tidak boleh kurang dari US$800 juta, DER di atas 2,5 kali, dan kas dan setara kas berbanding pendapatan usaha grup tidak kurang dari 5%.

Karena itulah, Garuda memohon perubahan batasan rasio keuangan tersebut kepada pemegang sukuk agar tidak wanprestasi atau cidera janji. Kondisi ini bisa menyebabkan pemegang sukuk berbondong-bondong mencairkan dananya sebelum jatuh tempo sehingga bakal kian mengancam keuangan Garuda.

Penyebab lain susutnya modal Garuda per 30 Juni 2017 memang mencapai US$717,69 juta (ekuivalen Rp10,09 triliun), atau anjlok 29% dibandingkan posisi akhir 2016 yang sebesar US$1 miliar (ekuivalen Rp13,53 triliun).

Solusi paten

Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli menyatakan kerugian terbesar Garuda karena membeli pesawat berbadan besar Airbus A350 untuk rute-rute lintar benua. Padahal penumpang di rute ini turun signifikan, sehingga memaksakan kehendak bermain di pasar ini sama saja bunuh diri.

Apalagi, menurutnya, proses pembelian pesawat berbadan besar itu dipenuhi unsur koruptif, sehingga ada markup harga dan itu membebani utang Garuda saat ini.

Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan kebangaan Indonesia dengan sejarah panjang. Terlebih, dengan kualitas service premium setara dengan perusahaan penerbangan dunia.

“Tapi ini jadi tertutup karena kesalahan di masa lalu yang terlalu jor- joran dalam membeli pesawat baru yang tidak tepat. Di dalam pembelian pesawat ada sogok menyogok, ada KKN, pemahalan sehingga akibatnya Garuda Indonesia dikubangi utang besar triliunan rupiah,” ungkap dia.

Dia mengatakan, seharusnya para komisaris dan manajemen Garuda Indonesia berani menyatakan fakta tanpa ada kepentingan-kepentingan pribadi. “Saya meminta komisaris dan manajemen berani menyatakan kebenaran sesuai fakta yang ada,” simpulnya.

Rizal mengaku sempat ditentang oleh beberapa pihak atas pernyataan kerasnya, padahal apa dikatakannya telah melalui proses evaluasi dan analisa.

“Semua yang kita sampaikan itu rasional, telah melalui evaluasi dan analitikal. Dulu saya ngomong begitu banyak yang protes tapi hampir semua yang kami katakan terbukti karena saya tidak asal bicara,” kata dia.

Rizal juga menyarankan, agar persoalan yang ada harus segera dibenahi dengan cara me-reschedule pembelian pesawat atau dijual ke pihak ketiga.

“Jadi Garuda Indonesia fokus saja untuk meningkatkan pendapatan dari penerbangan domestik dan regional. Garuda juga akan lebih tepat jika membeli pesawat Airbus A330 yang lebih efisien,” kata Rizal.

Tips Rizal tampaknya perlu diterapkan Garuda demi menyelamatkan perusahaan. Tinggal sekarang bagaimana manajemen bisa mengeksekusi masukan tersebut dengan hati terbuka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here